Pelajaran dari Tragedi Sukhoi

Bismillah

Innalillahi wa innailaihi roji’uun…

Sepenggal kata itulah yang bisa terucapkan ketika mendengar berita kecelakaan pesawat Sukhoi yang menewaskan seluruh penumpangnya termasuk para awak pesawat tersebut.

Apa yang membuat hati paling miris ketika mengetahui berita ini,  padahal saya sendiri tidak mengenal para korban di pesawat tersebut?

Bukan karena begitu tragisnya kejadian tersebut yang mengakibatkan pesawat dan penumpangnya hancur luluh lantak menjadi serpihan yang berserakan (tanpa menghilangkan rasa hormat saya kepada keluarga korban), bukan hal tersebut yang membuat hati saya miris, namun al-Maut (kematian) yang tak disangka-sangka itulah yang seketika menghentakkan jiwa ini, yang  membuat diri ini tersadar betapa kita tidak pernah tahu kapan ajal itu akan datang.

Subhanallah…

Lihatlah foto-foto dan video mereka para awak pesawat dan penumpang yang diambil sesaat sebelum peristiwa tragis tersebut…..

Mereka begitu ceria, bersenang-senang dan terlihat gembira tanpa tahu kejadian apa yang sebentar lagi bakal menimpa mereka…..

Disini saya tidak berniat membuka aib apa yang mereka lakukan sebelum musibah ini terjadi, saya hanya ingin kita semua mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut, yaitu bahwasannya kita benar-benar buta tentang apa yang akan menimpa kita, kapan ajal kita tiba, dimana kita akan mati dan bagaimana kita meninggal…….kita sama sekali tidak tahu…

Dan sebagaimana kita juga tidak tahu apakah hari ini bakal hujan atau tidak, maka baiknya kita persiapkan payung sebelum meninggalkan rumah, kita persiapkan segala sesuatunya sebelum kematian menimpa kita karena kita tidak tahu apakah kita akan mati beberapa detik lagi, beberapa jam lagi, beberapa hari atau beberapa tahun lagi, yang pasti kita harus berbekal AMAL IBADAH sebanyak-banyaknya dan menjauhi DOSA sejauh-jauhnya…….dan sebaik-baik bekal adalah TAQWA

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewafatkan kita dalam keadaan khusnul khotimah, dalam keadaan beribadah kepadaNya, dalam keadaan suami kita meridhai kita, dan semoga perkataan yang terakhir keluar dari mulut kita adalah “Laa illa ha illallaah, Muhamadar rosulullah…”

Allohumma Amin

“Robbana dzolamna anfusana wa ilam taghfirlana lanakunana minalghosirin”

Kemuliaanmu di Rumahmu

“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur (untuk berhubungan suami-istri), kemudian ia tidak memenuhi panggilannya, melainkan Dia yang ada di atas langit (Allah), murka kepadanya, hingga suaminya itu rida kepadanya “ (HR.Muslim)

Hadits itu disebutkan dosen fiqh beberapa minggu lalu ketika membahas tentang hak-hak suami istri. Beliau menjelaskan (dalam bahasa Arab yang artinya kurang lebih) “Jadi, seorang istri wajib untuk memenuhi panggilan suaminya selama ia tidak memiliki udzur (seperti sakit, haid dan perkara lainnya yang dibolehkan syariat). Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa sekalipun ia (si istri) sudah di atas hewan tunggangannya, maka ia wajib memenuhi panggilan suaminya. Makanya kalau si istri sudah sampai airpot mau naik pesawat yang berangkat ke Amerika, misalnya, lalu suaminya menelepon, ‘Saya ingin ‘sesuatu’ sama kamu, ‘ maka itu wajib dipenuhi. “

Kami tertawa, merasa geli dengan contoh yang beliau berikan. Beliau memang sering menyebutkan contoh yang menggelitik (menurut kami) ketika mengajar.
“Karena itu, seorang istri harus memperhatikan hak-hak suaminya. Memperhatikan rumah dan anak-anaknya, karena itu merupakan tanggung jawabnya. Jangan sampai ia sibuk di luar rumah sehingga terbengkalailah hak suami, “ ujar beliau. “Dan jangan pula si suami sibuk bekerja di luar, ia juga sibuk di luar, lantas siapa yang akan membimbing anak-anak? Apakah mau diserahkan kepada pembantu? Sedangkan pembantu zaman sekarang kebanyakan mereka fasik, tidak mengerti agama. “

Beliau lalu berkata, “Makanya saya nasehatkan bagi tolibat (para mahasiswi) setelah lulus dari sini tetap mengutamakan dan memperhatikan rumah (keluarga) dibandingkan mengajar. “

Mendengar itu saya jadi penasaran. “Ustadz, kalau begitu, apakah tolibat memilliki tanggung jawab dakwah di luar (rumah)? ” tanya saya.

Beliau menjawab, “Tidak, Urusan terkait dakwah (di luar) itu, ada di pundak kaum pria, bukan wanita. Makanya di kalangan salafussaleh dulu tak ada wanita yang keliling berdakwah, mengajar kesana-kesini meninggalkan rumahnya. Coba perhatikan Aisyah istri nabi. Beliau berdakwah, tapi itu di rumahnya, bukan di luar. Justru murid-muridnya lah ketika itu yang berdatangan ke rumahnya untuk menimba ilmu. “

Kemudian beliau berkata, “Kalau mengajar sekali atau dua kali seminggu sih, ya masih wajar. Tapi kalau setiap hari keluar, ke sana-sini, menghabiskan banyak waktu di luar, ketika sampai di rumah lalu suaminya ingin ‘bersenang-senang’ dengannya, apa yang akan ia katakan? ‘Ah, capek. ‘ Ini jelas keliru. Menunaikan hak suami itu merupakan kewajibannya. (sedangkan dakwah bukan kewajibannya).“

Saya bertanya lagi untuk lebih jelas, “Jadi, sebenarnya tanggung jawab dakwah kepada para wanita dan ummahat itu asalnya ada di tangan kaum pria? “

Beliau menjawab, “Ya, kewajiban mendidik para istri dan ummahat, itu asalnya ada pada para suami. Tapi kalau mereka (para suami) tidak bisa dan tidak memiliki ilmu untuk mengajarkannya, barulah itu diserahkan pada orang lain yang mumpuni. Dan kalau keadaaanya sudah seperti itu (suami tak bisa mengajarnya) maka tak mengapa ia keluar untuk mempelajari perkara-perkara din yang vital baginya. “

Beliau juga berkata, “Diperbolehkan bagi seorang wanita untuk mengais rezeki di luar rumahnya, kalau ia memang memiliki hajat untuk itu, seperti membantu perekonomian keluarga yang tidak bisa dipenuhi suaminya, “

Kemudian menerangkan, “Akan tetapi, asalnya ia harus selalu memperhatikan urusan rumahnya dan tidak disibukkan dengan perkara di luar. Makanya dalam syariat, hanya pria yang diperintahkan untuk melakukan amalan yang banyak melibatkan fisik di luar seperti jihad, shalat berjamaah, dan lain-lain, sedangkan wanita tidak. “

Beliau menjelaskan lebih lanjut, “Dengan tidak diperintahkannya wanita melakukan amalan di luar, bukan berarti wanita tidak mendapatkan keutamaan apa-apa, mereka bisa pula menandingi amalan kaum pria. Disebutkan dalam suatu hadits, ‘Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. ‘ perhatikanlah keutamaan yang besar ini bagi wanita. “

Terima kasih ustadz, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas ilmu yang kau ajarkan. Ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami.

Aduhai, seandainya saja para muslimah mendengar nasehatmu, ya ustadz, tentu itu akan bermanfaat untuk mereka, insya Allah.

Seandainya saja para muslimah menyadari keagungan hak-hak suami mereka tentu mereka tak akan melalaikannya karena alasan apapun, termasuk juga karena dakwah.

“Seandainya saja aku diperbolehkan memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya. “ (HR. Tirmidzi)

“Lihatlah kedudukanmu di sisi suamimu, karena ia adalah surga dan nerakamu. “ (HR. Nasai)

Seandainya saja mereka menginsafi kalau anak-anak itu harta berharga yang membutuhkan perhatian dan bimbingan intensif, tentulah mereka tak akan membiarkan anak-anak mereka kebingungan memilih dan menjalani orientasi kehidupan mereka sehari-hari.

“Bila meninggal anak Adam, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya. “ (HR.Muslim)

Seandainya saja mereka mengetahui bahwa melalui tangan-tangan telaten merekalah, Allah akan memunculkan para pejuang umat yang akan membebaskan Al-Quds dari kaum yang dimurkai Allah, mengusir penjajah kafir dari Irak dan Afganistan, melepaskan penderitaan orang-orang yang terzalimi di Chechnya dan di berbagai belahan bumi Allah lainnya, niscaya mereka tak akan menyianyiakan dan menelantarkan aset berharga itu.

Ah, seandainya saja mereka mengetahui bahwa kemuliaan dan kehormatan mereka itu ada di dalam rumah, niscaya mereka tak akan meninggalkannya karena alasan apapun dan karena siapapun, kecuali sekedarnya saja.

Jakarta, 27 Shafar 1432/31 Januari 2011

sumber: http://anungumar.wordpress.com/2011/01/31/kemulianmu-di-rumahmu/#comment-435

Malu, Mutiara yang Terkubur

Ia begitu indah. Menghiasi hati pemeliharanya dengan pancaran sinar kebaikan. Akan tetapi, ia kini menghilang. Terpendam dalam kegelapan hati yang melupakannya. Itulah rasa malu. Bagaikan mutiara yang terkubur. Ia adalah keistimewaan para manusia, akhlak yang agung, tanpanya tidak ada kebaikan sedikitpun dalam kehidupan.

Apa Itu Malu?

Malu adalah getaran rasa takut dan segan yang terjadi di dalam hati untuk melakukan sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah Ta’ala, untuk tidak melakukan sesuatu yang telah diwajibkan Allah Ta’ala, atau untuk melakukan sesuatu yang tidak dianggap baik oleh manusia selama hal tersebut juga tidak dianggap baik oleh syariat.

Sehingga rasa malu menjadi penghalang antara keberanian untuk melakukan kemaksiatan dan menahan diri dari melakukannya, karena rasa malu ibarat bendungan yang apabila hancur, maka air pun akan mengalir dan menenggelamkan segala sesuatu. Oleh karena itu, jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka dia tidak memiliki bendungan, sehingga tidak ada yang menghalanginya dari melakukan kemaksiatan. Rasa malu juga tidak akan terjadi kecuali karena kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْر

“Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setangkai Cabang Keimanan

Seiring dengan bertambahnya rasa malu, maka keimanan pun bertambah. Sebaliknya, jika rasa malu itu berkurang, berkurang pula keimanannya. Karena rasa malu adalah sebagian dari iman. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَان

“Keimanan memiliki tujuh puluh  atau enam puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan “Laa ilaaha illallaah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan rasa malu adalah satu dari cabang-cabang iman.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Obat Penawar Keburukan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara perkara yang telah dipahami oleh manusia dari perkataan kenabian pertama adalah ‘Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang kamu suka.’” (HR. Bukhari)

Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya penghalang keburukan adalah rasa malu. Oleh karena itu, orang yang rasa malu telah hilang dari dalam hatinya, dia akan berbuat apa yang dia suka. Dia tidak merasa malu di hadapan manusia, di hadapan dirinya sendiri, bahkan di hadapan Allah Ta’ala. Maka dia pasti akan mendapatkan balasan dari apa yang dia perbuat.

Abu Dulaf al-’Ijli rahimahullahu berkata:

Apabila kamu tidak menjaga kehormatan..

Dan tidak takut Sang Pencipta..

Juga tidak merasa malu terhadap makhluk..

Maka lakukan apa yang kamu suka..

Rasa Malu Tidak Menghalangi Amar Ma’ruf Dan Nahi Munkar

Allah Ta’ala berfirman(yang artinya):

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Dosa yang pernah kita perbuat bukanlah menjadi alasan untuk meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Karena meninggalkannya juga termasuk dosa. Padahal setiap anak Adam sering melakukan kesalahan, bahkan setiap da’i pun pernah berbuat kesalahan. Seorang penyair berkata:

Jika saja orang yang berbuat dosa tidak pantas untuk menasehati manusia

Siapakah yang pantas menasehati para pelaku maksiat setelah kematian Nabi Muhammad

Rasa Malu Bukan Penghalang Menuntut Ilmu

Sebagaiamana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya dari Mujahid berkata: “Tidak akan belajar ilmu orang yang pemalu dan sombong.” Rasa malu bukanlah penghalang seseorang untuk berbuat kebaikan. Terlebih lagi kebaikan yang sangat agung, dimana kita diperintahkan untuk berlomba-lomba di dalamnya, seperti menuntut ilmu. Sungguh tidak sepatutnya rasa malu menghalangi kita menghadiri majelis ta’lim, bertanya tentang agama, dan mendalami syariat Islam. Sebagaimana kaum wanita anshor yang terkenal dengan sifat malu, akan tetapi hal itu tidak menghalangi mereka dari mempelajari agama mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia mengabarkan:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَسْأَلْنَ عَنْ الدِّينِ وَأَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِيهِ

“Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar. Rasa malu mereka tidak menghalangi mereka untuk mendalami ilmu agama.”

Tidak Menampakkan Perbuatan Kemaksiatan Adalah Rasa Malu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ (الْمَجَانَةِ) أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan (bermaksiat). Di antaranya adalah seorang lelaki yang pada malam hari melakukan satu perbuatan maksiat, padahal Allah Ta’ala telah menutupi aibnya tersebut, tetapi ketika di pagi hari, dia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Pada malam hari Rabb-nya telah menutupi aibnya, akan tetapi ketika pagi hari dia membuka penutup tersebut darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fenomena Rasa Malu

Sebagai contoh nyata adalah sikap malu seorang remaja putri yang bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, yang kisahnya telah disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan Balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Qoshshoh: 25)

Allah Ta’ala telah menyifatinya dengan rasa malu di dalam cara jalan dan bicaranya, yang semuanya dihiasi dengan rasa malu.

Namun kenyataan sekarang berbicara lain. Kebanyakan wanita sekarang menjadi pameran fashion. Mereka keluar rumah membuka aurat, ber-tabarruj, dan memakai wangi-wangian. Sungguh rasa malu telah hilang dari mereka. Bahkan tidak sedikit kaum lelaki  tanpa rasa malu mengumbar pandangan untuk mengintai aurat wanita. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui mata-mata yang berkhianat dan segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati? Tidakkah mereka tahu bahwa pandangan mata adalah panah beracun dari panah-panah setan laknatullah? Panah tersebut bisa saja menghancurkan keimanan. Sehingga ia berpeluang besar berpindah dari satu maksiat ke maksiat lain.

Ibnu as-Samaak rahimahullahu berkata:

Hai pecandu dosa, tidakkah kamu merasa malu..

Padahal Allah bersamamu di dalam kesendirianmu..

Penangguhan dosa dari Rabbmu telah menipumu..

Juga banyaknya keburukan yang telah ditutupi untukmu..

Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita agar bersikap malu untuk melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban. Akan tetapi, tidak selayaknya kita bersikap malu untuk meninggalkan keburukan dan mengerjakan kebaikan. Janganlah kita biarkan mutiara yang begitu indah terkubur dalam kegelapan hati. Akan tetapi, hiasilah hati kita dengan sinar kemuliaannya yang berkilau.  Allahu al-Musta’an.

[Abu Ahnaf Roni Nuryusmansyah]

http://ahnaf27.wordpress.com/2010/12/24/malu-mutiara-yang-terkubur-2/

Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu’?

Ustadz yang saya hormati, saya ingin menanyakan satu permasalahan. Di daerah saya banyak orang yang mengaku mengikuti madzhab Syafi’iyah, dan saya lihat mereka ini sangat fanatik memegangi madzhab tersebut. Sampai-sampai dalam permasalahan batalnya wudhu’ seseorang yang menyentuh wanita. Mereka sangat berkeras dalam hal ini. Sementara saya mendengar dari ta’lim-ta’lim yang saya ikuti bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’. Saya jadi bingung, Ustadz. Oleh karena itu, saya mohon penjelasan yang gamblang dan rinci mengenai hal ini, dan saya ingin mengetahui fatwa dari kalangan ahlul ilmi tentang permasalahan ini. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan Jazakumullah khairan katsira.
(Abdullah di Salatiga)

Jawab:
Masalah batal atau tidaknya wudhu’ seorang laki-laki yang menyentuh wanita memang diperselisihkan di kalangan ahlul ilmi. Ada diantara mereka yang berpendapat membatalkan wudhu’ seperti Imam Az-Zuhri, Asy-Sya’bi, dan yang lainnya. Akan tetapi pendapat sebagian besar ahlul ilmi, di antaranya Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan ini yang rajih (kuat) dalam permasalahan ini, tidak batal wudhu’ seseorang yang menyentuh wanita. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Syaikh Muqbil rahimahullahu ta’ala pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa dan walhamdulillah beliau memberikan jawaban yang gamblang. Sebagaimana yang Saudara harapkan untuk mengetahui fatwa ahlul ilmi tentang permasalahan ini, kami paparkan jawaban Syaikh sebagai jawaban pertanyaan Saudara. Namun, di sana ada tambahan penjelasan dari beliau yang Insya Allah akan memberikan tambahan faidah bagi Saudara. Kami nukilkan ucapan beliau dalam Ijabatus Sa-il hal. 32-33 yang nashnya sebagai berikut :

Beliau ditanya: “Apakah menyentuh wanita membatalkan wudlu’, baik itu menyentuh wanita ajnabiyah (bukan mahram), istrinya ataupun selainnya?” Maka beliau menjawab: “Menyentuh wanita ajnabiyah adalah perkara yang haram, dan telah diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam Mu’jamnya dari Ma’qal bin Yasar radliyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Sungguh salah seorang dari kalian ditusuk jarum dari besi di kepalanya lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.
Diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam Shahih keduanya dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina, senantiasa dia mendapatkan hal itu dan tidak mustahil, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah, dan hati cenderung dan mengangankannya, dan yang membenarkan atau mendustakan semua itu adalah kemaluan.

Maka dari sini diketahui bahwa menyentuh wanita ajnabiyah tanpa keperluan tidak diperbolehkan. Adapun bila ada keperluan seperti seseorang yang menjadi dokter atau wanita itu sendiri adalah dokter, yang tidak didapati dokter lain selain dia, dan untuk suatu kepentingan, maka hal ini tidak mengapa, namun tetap disertai kehati-hatian yang sangat dari fitnah.

Mengenai masalah membatalkan wudhu’ atau tidak, maka menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’ menurut pendapat yang benar dari perkataan ahlul ilmi. Orang yang berdalil dengan firman Allah ‘azza wa jalla :
Atau kalian menyentuh wanita

Maka sesungguhnya yang dimaksud menyentuh di sini adalah jima’ sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma.
Telah diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari di dalam Shahihnya dari ‘Aisyah radliyallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat pada suatu malam sementara aku tidur melintang di depan beliau. Apabila beliau akan sujud, beliau menyentuh kakiku. Dan hal ini tidak membatalkan wudhu’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu’ berdalil dengan riwayat yang datang di dalam as-Sunan dari hadits Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu bahwa seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mencium seorang wanita”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam sampai Allah ‘azza wa jalla turunkan:

Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan pada pertengahan malam. Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :
Berdirilah, kemudian wudhu’ dan shalatlah dua rakaat.

Pertama, hadits ini tidak tsabit (kokoh) karena datang dari jalan ‘Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia tidak mendengar hadits ini dari Mu’adz bin Jabal. Ini satu sisi permasalahan. Kedua, seandainya pun hadits ini kokoh, tidak menjadi dalil bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu’, karena bisa jadi orang tersebut dalam keadaan belum berwudhu’. Ini merupakan sejumlah dalil yang menyertai ayat yang mulia bagi orang-orang yang berpendapat membatalkan wudhu’, dan engkau telah mengetahui bahwa Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan jima’. Wallahul musta’an.

****

Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=7

 

Kembali Bersua Setelah Setahun Berpisah…

Alhamdulillah,….setelah setahun meninggalkan blog tercinta ini, kini saya bisa kembali berbagi ilmu dan kisah kepada para pembaca….

Maklum, kesibukan merawat anggota baru di keluarga kami membuat lupa menengok rumah kedua saya ini ^^, tahu-tahu sudah banyak komentar masuk yang masih dipending, maaf yah….

Tunggu saja artikel terbaru dari qanitah…

*big smile*

Lidah Tak Bertulang, Waspadai Bahaya Lisan

Oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang
begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus
agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah
yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-
benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang
baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang
baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan
Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun
harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Ta’ala
berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089
dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk
kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah
dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam
menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan.
Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa
dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling
menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah
seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah
karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci
oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh
dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang
tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam
neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-
Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits
Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat
jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak
berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan
yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap
maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhush
Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: “Apabila dia ingin
berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka
berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga
nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhush Shalihin, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah
mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban
syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali
pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan
diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak
berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada
pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak
terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

KEUTAMAAN MENJAGA LISAN

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan
mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya.
Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk
pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:
1. Anas bin Malik: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar
lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan
membahayakan.”
2. Abu Ad-Darda’: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah
satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang
yang berbicara dengan ilmu.”
3. Al-Fudhail: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang
adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
4. Sufyan Ats-Tsauri: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut
ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas
menyebarkannya.”
5. Al-Ahnaf bin Qais: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan
lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan
menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan
kewibawaan terhadap dirinya.”
6. Abu Hatim: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya.
Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu,
jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila
tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil
(bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang
menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak
(dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya,
tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada
lisan.”
8. Mu’arrifh Al-‘Ijli: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya
semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang
bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif
menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”
(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad
bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

BUAH MENJAGA LISAN

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:
1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-
Nya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan
Muslim no. 48)
2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang
Islam, beliau menjawab:

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat
dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11
dan Muslim no. 42)
Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini
menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan
ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin, 3/8)
3. Mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk ke surga.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari
Sahl bin Sa’d:

“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua
rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku
akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)
Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546,
dari shahabat Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di
antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya
(kemaluan) maka dia akan masuk surga.”
4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya
kepadanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa
yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata
Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)
Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan
dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun
Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai
oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang
ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada
hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi
kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah
Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

والله اعلم

Sumber: Majalah asy-Syari’ah
(Diambil dari: http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2009/05/lidah-tak-bertulang.html)

Hidayah itu Mahal, Saudariku…

Oleh Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah

Pernahkah terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?

Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu batil… Ini tauhid, itu syirik…. Ini sunnah, itu bid’ah… Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang batil. Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al-haq, malah ia gampang berbuat kebatilan.

Kita dapat berjalan mantap di bawah cahaya yang terang-benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.

Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju. Sementara, ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap mereka hidup hanya untuk dunia, sekadar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya.

Apa namanya semua yang kita miliki ini, wahai saudariku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai? Inilah hidayah dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada jalan-Nya yang lurus.
Dalam Tanzil-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاللهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/31)

Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat:
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
beliau berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas. Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut.”
Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua ini menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al-haq lagi. Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110) [I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/357]

Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:
1. Hidayah yang bisa diberikan oleh makhluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah dan bayan (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

2. Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufik. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih selain beliau, dalam ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)

Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau, 9/340-341)

Saudariku, bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufik. Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat yang haq tersebut dan engkau empaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufik dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga, karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat di dunia, terlebih di akhirat. Bagaimana tidak? Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hidayah kepada jalan yang lurus.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Bila timbul pertanyaan, bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya, sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu memberikan jawabannya: Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya, kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memohon hidayah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di pengujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (An-Nisa’: 136)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus-menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan. Wallahu a’lam. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/38)

Berbahagialah dengan hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

Kata Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullahu, “Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)
Lalu apa persangkaanmu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebatilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=801