Monthly Archives: January 2009

Ummu Hanif dan Layla

omar_-_the_criterion_part_1_of_2_001Seminggu yang lalu dalam sebuah ta’lim, aku bertemu seorang ummahat. Nama kunyyahnya Ummu Hanif (diambil dari nama putra pertamanya). Ummu Hanif berputera tujuh, yang paling besar duduk dibangku SMK dan yang paling kecil masih umur dua tahun.

Entahlah mengapa ada rasa cocok dan sreg ketika pertama kali berbincang dengannya. Dia begitu lain, dia seperti sosok ibu bagiku, kata-kata yang keluar darinya lebih banyak berisikan nasehat yang menyejukkan hati, yang membangkitkan semangat, peringatan untuk  lebih banyak bersyukur dan bersabar.

Nah itulah yang membuatku terkesan akan dirinya.

Bersama beliau ada seorang gadis muda berkerudung panjang, namun tidak bercadar sebagaimana ummu hanif. namanya Layla….dan oh…ternyata Layla adalah putri ummu Hanif.

Kutanya sekolah dimana? kata ummu hanif dia seharusnya duduk di bangku SMP namun sekarang sedang belajar tahfidz (hafalan) Al-Qur’an di istrinya ustad Toha.

Hmm…betapa kejadian semacam ini jarang sekali kita temukan. Di jaman sekarang ini, di sebuah kota, ada orangtua yang lebih memilih mendidik anaknya belajar Al-Qur’an daripada meniti jenjang pendidikan formal.

Namun, akhirnya aku mengerti bahwa keterbatasan biayalah yang membuat Layla tidak melanjutkan sekolahnya, namun karena ibunya sungguh ibu yang salihah, yang paham ilmu dien maka ia lanjutkan pendidikan anaknya kepada ilmu yang lebih penting yaitu pemahaman agama. Subhanalloh

Dijaman sekarang dimana anak-anak remaja putri sedang demen-demennya bertingkah laku mencontoh para artis sinetron, ini…ada anak remaja yang menuntut ilmu syar’i, berpakaian muslimah yang baik (tidak ketat atau penuh dengan hiasan), dan yang membuatku tambah salut ia juga bantu ibunya ummu Hanif yang berputera tujuh orang, untuk mengasuh adik-adiknya.

Wah…nggak ada kata-kata yang lebih cocok kecuali… Allahu Akbar!

~~

Ketika mereka ummu Hanif, Layla dan putri bungsunya bertandang ke tokoku dan suamiku, rupanya ia melihat banyak kardus bekas membungkus monitor di depan toko.

“Lihat mi, ada kardus..”ucap Layla kepada ibunya.

“Oh..iya, boleh ummi minta kalau tidak dipake..?” tanya ummu Hanif padaku.

~~

Tadinya kukira kardus itu untuk membungkus sesuatu dirumahnya…ternyata kardus-kardus itu hendak mereka jual!

“Lumayan untuk nambah penghasilan…”ujar ummu Hanif

~~

Subhanalloh

Advertisements

Beginilah isteri salihah…

water-drop-48

“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah; jika dia menyuruhnya iapun taat, jika dilihat menyenangkan dan jika diberi mau berterima kasih, dan jika suaminya pergi maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Hadits Riwayat Ibn Majah)

****

Ukhty Muslimah (sebut saja namanya begitu) adalah salah satu teman ta’limku, ia masih muda sekali ketika menikah. Sekarangpun ia tinggal terpisah dari suaminya karena harus menyelesaikan kuliahnya dan suaminya bekerja di luar kota, otomatis mereka harus menunda dulu keinginan untuk hidup serumah.

Suatu saat aku berkunjung ke kos ukh Muslimah, didalam kamarnya kulihat banyak ramuan herbal, mulai dari rumput pegaga, kapsul habbatussauda, susu kedelai, minyak zaitun, dan lain lain. Kukira memang itulah kebiasaan para akhwat yang ingin hidup lebih sehat dengan cara mengkonsumsi makanan herbal, akupun demikian juga.

Di rumahku juga banyak ‘ditemukan barang-barang’ yang sama (walau merknya nggak selalu sama sih..) tapi intinya ya sama…

karena apa? ya karena kita sudah cukup sering makan makanan yang berpengawetlah, ber-MSG-lah, berpewarnalah dan juga sudah terlalu sering makan dan minum obat-obatan kimiawi (buatan pabrik) yang pasti cepat atau lambat punya pengaruh buruk didalam badan. Sebaliknya, obat-obat herbal-yang asli bin original dari tanam-tanaman-insya Alloh nggak akan punya pengaruh buruk bagi badan bila kita sering mengkonsumsinya.

Ya, memang paling baik back to sunnah Rasulullah SAW di dalam segala lini kehidupan kita, mencontoh segala perilaku beliau Salallahu alaihi wassalam, termasuk juga dalam pola makan kita. Lihatlah betapa sehatnya pola makan beliau SAW. Beliau sering minum madu dicampur air sebelum sarapan, beliau suka minum susu kambing (yang jaman dulu kambingnya nggak kenal suntikan lho! bandingkan dengan susu sapi atau kambing jaman sekarang yang sering disuntikin hormon), beliau juga tidak suka makan terlalu kenyang.

Kembali ke temanku ukhti Muslimah, seorang teman akhwat lain, Ajeng mengatakan bahwa ukhti Muslimah itu sedang mengamalkan apa yang dinasehatkan suaminya untuk ’sedikit’ mengurangi berat badannya. Subhanalloh! Padahal ukh Muslimah itu tidak terlalu gemuk lho, tapi mungkin suaminya memang lebih suka jika isterinya lebih langsing.

Ya begitulah ukh Muslimah yang menurut perintah suaminya…

Lain lagi cerita ukhty Rieza . Teman akhwatku yang satu ini dulu sebelum menikah bisa dibilang ‘jam terbangnya’ tinggi. Maksudnya dulu karena ukh Rieza adalah aktivis sebuah partai maka aktivitas beliau lebih banyak di luar rumah. Beliau aktif di bakti sosial, rapat-rapat organisasinya, aktif juga kesana-kemari meng-hijamah teman-teman yang butuh pengobatan, dan lain-lain.

Tapi lihatlah kini…..suatu saat beliau kirim SMS kepadaku setelah beberapa minggu pernikahannya dengan ikhwan salafy. “Ukh..ana sekarang benar-benar berbeda dengan Rieza yang dulu” begitu katanya “Suamiku bilang The most Safety Place fora Woman is in her house (sebaik-baik tempat bagi seorang wanita adalh dirumahnya)” sambungnya di SMS.

Ajaib! pikirku, ukhti Rieza gitu loch…Yang dulu kukira temanku yang satu ini memang seorang “business woman” (wanita sibuk) dan nggak akan ada yang bisa mengubah kebiasaannya ini, ternyata kini begitu luluh dengan nasihat suaminya (ini pujian Insya Alloh)

Dan tahu nggak, beberapa bulan kemudian setelah ukh Rieza melahirkan anak pertamanya, ia kirim SMS kepadaku, katanya “Bagi ana sekarang suami dan anak merupakan amanah utama yang ana emban” begitulah kira-kira bunyi SMSnya.

Subhanalloh, begitulah ukhty Rieza yang begitu taat pada suaminya.

~~

Ya beginilah para isteri yang salihah, yang menjadikan ridha suami sebagai hal yang utama dalam hidupnya…

Ini semua karena Alloh dan RosulNya-lah  yang memerintahkan.

“Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…” (An-Nisa’: 34)

**

“Dunia itu seluruhnya perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri sholihah” (Hadits Riwayat Muslim)

**

“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah; jika dia menyuruhnya iapun taat, jika dilihat menyenangkan dan jika diberi mau berterima kasih, dan jika suaminya pergi maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Hadits Riwayat Ibn Majah)

**

Dalam Shahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

**
Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ummu Salamah , ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

**

Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita (istri) yang bagaimanakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Yang menyenangkan suaminya bila suaminya memandangnya, yang menaati suaminya bila suaminya memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara dirinya dan tidak pula pada harta suaminya dengan apa yang dibenci suaminya.” (Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa’ul Ghalil no. 1786)

~~

“Ya Alloh jadikanlah kami isteri yang salihah bagi suami kami, dan masukanlah kami ke dalam surgaMu. Amin”