Ummu Hanif dan Layla

omar_-_the_criterion_part_1_of_2_001Seminggu yang lalu dalam sebuah ta’lim, aku bertemu seorang ummahat. Nama kunyyahnya Ummu Hanif (diambil dari nama putra pertamanya). Ummu Hanif berputera tujuh, yang paling besar duduk dibangku SMK dan yang paling kecil masih umur dua tahun.

Entahlah mengapa ada rasa cocok dan sreg ketika pertama kali berbincang dengannya. Dia begitu lain, dia seperti sosok ibu bagiku, kata-kata yang keluar darinya lebih banyak berisikan nasehat yang menyejukkan hati, yang membangkitkan semangat, peringatan untuk  lebih banyak bersyukur dan bersabar.

Nah itulah yang membuatku terkesan akan dirinya.

Bersama beliau ada seorang gadis muda berkerudung panjang, namun tidak bercadar sebagaimana ummu hanif. namanya Layla….dan oh…ternyata Layla adalah putri ummu Hanif.

Kutanya sekolah dimana? kata ummu hanif dia seharusnya duduk di bangku SMP namun sekarang sedang belajar tahfidz (hafalan) Al-Qur’an di istrinya ustad Toha.

Hmm…betapa kejadian semacam ini jarang sekali kita temukan. Di jaman sekarang ini, di sebuah kota, ada orangtua yang lebih memilih mendidik anaknya belajar Al-Qur’an daripada meniti jenjang pendidikan formal.

Namun, akhirnya aku mengerti bahwa keterbatasan biayalah yang membuat Layla tidak melanjutkan sekolahnya, namun karena ibunya sungguh ibu yang salihah, yang paham ilmu dien maka ia lanjutkan pendidikan anaknya kepada ilmu yang lebih penting yaitu pemahaman agama. Subhanalloh

Dijaman sekarang dimana anak-anak remaja putri sedang demen-demennya bertingkah laku mencontoh para artis sinetron, ini…ada anak remaja yang menuntut ilmu syar’i, berpakaian muslimah yang baik (tidak ketat atau penuh dengan hiasan), dan yang membuatku tambah salut ia juga bantu ibunya ummu Hanif yang berputera tujuh orang, untuk mengasuh adik-adiknya.

Wah…nggak ada kata-kata yang lebih cocok kecuali… Allahu Akbar!

~~

Ketika mereka ummu Hanif, Layla dan putri bungsunya bertandang ke tokoku dan suamiku, rupanya ia melihat banyak kardus bekas membungkus monitor di depan toko.

“Lihat mi, ada kardus..”ucap Layla kepada ibunya.

“Oh..iya, boleh ummi minta kalau tidak dipake..?” tanya ummu Hanif padaku.

~~

Tadinya kukira kardus itu untuk membungkus sesuatu dirumahnya…ternyata kardus-kardus itu hendak mereka jual!

“Lumayan untuk nambah penghasilan…”ujar ummu Hanif

~~

Subhanalloh

4 responses to “Ummu Hanif dan Layla

  1. Bismillah..
    Ana terharu dng cerita ini. Subhanallah..
    Barakallahu fiikum.

    • Alhamdulillah..semoga kita bisa mencontoh cara ummu hanif mendidik anak perempuannya dan meniru sikap qana’ahnya dalam kehidupan ini. Amin
      waiyyaka barakallah..

  2. Subhanalloh…..
    Hanya itu kata2 yg bisa ana ucapkan

    Bisakah ana mendidik anak spt itu?

    • Insya Alloh ya umm, semoga Alloh menjadikan kita ibu yang benar-benar bisa menjadi madrasah awal bagi putera-puteri kita. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s