Resep dari Ibu Mertua

daun1Ibu mertuaku sungguh baik sekali. Jika sering kudengar kasus ‘konflik’ antara mertua dan menantu (biasanya ibu mertua dan menantu wanita) maka aku sungguh bersyukur memiliki ibu mertua seperti beliau.

Suamiku itu anak bungsu dari enam bersaudara, ibunya (mertuaku) dulu pas hamil suamiku beliau sudah berumur tiga puluhan. Kini umurnya di pertengahan enam puluhan, jadi beliau seperti ibu dan nenekku sekaligus.

Tiap kali aku dan suamiku datang ke rumah beliau pasti meja makannya penuh dengan masakan enak beraneka ragam. Kata kakak iparku  yang tinggal dengan ibu mertuaku ini, “yang kayak gini nih (maksudnya masakan enak-enak ini) adanya pas kita datang aja”. Wah …rasanya tiap pulang dari rumah mertua berat badan jadi naik berapa kilo gitu…Soalnya mau nggak mau (dan emang  mau sih ^_^) kita harus menyantapnya.

Oh ya, selain sifat ibu mertuaku yang ramah dan suka bergurau dengan menantunya beliau juga sering mengajariku bagaimana ‘merawat’ suamiku. Dan ini besar manfaatnya lho bagiku sebagai ‘the next woman after her’ (maksudnya aku ini wanita kedua dalam kehidupan suamiku setelah ibunya).

Jadi ibu mertuaku, pas mijitin suamiku, bilang sama aku “Mbak, begini ya cara memijitnya..” sambil memperagakan gaya jari jemarinya menekan-nekan punggung suamiku, “Kalau udah kerasa ada yang bruntus-bruntus kaya pasir, biasanya ini nih yang bikin pegel..” lanjut beliau, aku lalu manggut-manggut. Wah ternyata ibu memang berpengaruh besar pada anaknya ya, soalnya aku jadi ingat pas mijit suami di rumah, dia sering bilang “Nah ini  pegel banget yang,  kerasa  bruntus-bruntus  kan …”  Hehe…ternyata hasil berguru dari ibunya.

Lain waktu ketika aku berkunjung ke dapur mertuaku, beliau dengan ramah mengajari cara memasak ini itu yang jadi kesukaan suamiku, wah ternyata pengaruh juga lho ke selera makan suamiku, karena ketika kupraktekin resep masakan dari ibu mertuaku itu suamiku makannya jadi lebih lahap….

Ternyata kebiasaan suami kita dipengaruhi oleh  keluarga dimana ia telah berinteraksi dengan mereka selama bertahun-tahun, jadi kukira apa susahnya kita belajar dari keluarga suami bagaimana mereka memperlakukannya sehari-hari.

Sepanjang apa yang kita niatkan dalam melayani suami untuk beribadah kepada Allah yaitu dengan tulus ikhlas menjalankan kewajiban kita sebagai seorang isteri, insya Allah segalanya jadi terasa ringan.

2 responses to “Resep dari Ibu Mertua

  1. mmmmm kalau suami ana lambat laun sudah bisa mengikuti kebiasaan ana, mulai dari rasa masakan, kegiatan sehari2, kesenangan akan makanan dan minuman. Kami sudah mempunyai keluarga sendiri otomatis suasana dan kebiasaan berbeda dengan ketika masih ikut orang tua, dan ana bukan tipe orang yang suka disama2kan, jadi ana bilang ke suami ana bukan ibu antum jadi ana tidak bisa menjadi seperti ibu, ana punya cara sendiri dan sifat sendiri. Alhamdulillah kalau anti punya ibu mertua seperti itu yang sangat baik.

  2. oh gitu ya umm..? soal masakan alhamdulillah suami ndak masalah lha wong huwa dah biasa jadi anak kos..cuma memang citarasa asal memang ngangenin, ana juga mpe skrg suka kangen ma masakan ibu,,hiks..
    syukran ya umm atas commentnya, eh anti banyumase sblh mana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s