Monthly Archives: March 2009

Wanita Penggenggam Tauhid ASIAH & MASYITOH

field_in_the_sun_1280x800-667556Alkisah di negeri Mesir, hiduplah dua orang wanita di sebuah istana Fir’aun yang megah. Yang pertama yaitu seorang Ratu, isteri Fir’aun yang bernama Asiah, dan yang kedua adalah seorang wanita yang pekerjaan sehari-harinya adalah menyisir rambut puteri Fir’aun, maka ia dinamakan sebagai Masyitoh (artinya dalam bahasa Indonesia yaitu wanita tukang sisir).

Kedua-duanya adalah wanita yang beriman kepada Allah dan mengingkari Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan.

(Kisah ini diceritakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Katsir menghasankannya dalam kitab Tafsirnya dan Kitab Al Bidayah Wa Nihayah).

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir’aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Secara spontan Masyitoh mengucap ”Bismillah” (Dengan Menyebut Nama Allah) sambil memungut sisirnya. Maka keimanannya yang selama ini ia tutup-tutupi akhirnya secara tak sengaja terucap juga karena lisannya yang senantiasa berdzikir mengingat Allah.

Tatkala Masyitoh mengucapkan bismillah, maka puteri Fir’aun terkejut lalu ia bertanya, “Apa yang kau maksud Allah itu ayahku?” rupanya ia hanya tahu bahwa tuhan itu adalah Fir’aun yg mengaku sebagai tuhan. Maka Masyitoh menjawab, ” Tidak tetapi Allah adalah rabbku (Tuhanku) rabb kamu dan rabb ayah kamu,” Puteri Fir’aun terheran karena ada tuhan selain ayahnya. Lalu ia mengancam Masyitoh, “Aku akan sampaikan hal ini kepada ayahku.” Maka Masyitoh tanpa gentar berkata, “Silahkan.”

Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini ?” “Betul, Baginda Raja yang lalim. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.”jawab Masyitoh dengan berani.

Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitoh. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama anak-anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa anak-anaknya menuju ke atas kuali tersebut.

Anak yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya telah di lempar ke dalam kuali, dengan tegar Masyitoh menyaksikan semua itu, hingga tibalah giliran anaknya yang masih bayi akan dilempar, menghadapi hal ini Masyitoh sempat ragu. Namun karena kehendak Allah, maka anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Wahai ibu bersabarlah engkau berada di atas kebenaran, sesungguhnya itu adalah sakit yang sedikit dan sebentar. Sesungguhnya azab akhirat lebih keras dan dahsyat.” Maka demi mempertahankan keimanannya kepada Allah masuklah Masyitoh dan anaknya ke dalam kuali yang mendidih.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah salallahu alaihi wa salam berkata, “Tatkala saya diangkat naik ke langit lalu saya melewati bau yg semerbak, kemudian saya bertanya: ” Bau apa ini yang wangi?” Maka jibril menjwab “Ini adalah wanita tukang sisir di istana Fir’aun dan anak-anaknya”

Kemudian dengan congkaknya Fir’aun memberitahukan kepada isterinya Asiah, wanita yang salihah, apa yang telah diperbuatnya kepada Masyitoh dan anak-anaknya. Mendengar hal itu lalu Asiyah berteriak dan berkata kepadanya, “Celaka engkau Fir’aun alangkah lancangnya engkau kepada Allah,” Lalu Asiah bersyahadat menyatakan keimananya kepada Allah di hadapan Fir’aun, kemudian Fir’aun memanggil bala tentaranya dan memerintahkan agar isterinya disiksa Lalu Asiah disiksa dan dicambuk.

Ketika siksaan semakin pedih, darah mengalir deras, Asiah menatap ke langit dan berkata sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam ayat Al-Qur’an: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Lalu naiklah doanya membumbung tinggi dan menembus pintu-pintu langit didengar oleh Allah tabaroka wa ta’ala. Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya “Lalu Allah singkapkan langit dan Allah memperlihatkan rumahnya di surga,” Hingga ketika siksa semakin keras dan azab semakin pedih maka Asiyah malah tersenyum sehingga Fir’aun menjadi semakin marah.Mengapa ia tersenyum? Karena ia melihat rumahnya di surga, setelah itu berhembuslah nafas Asiah yg terakhir.

Demikian kisah Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”

~~~ * ditulis ulang dengan sedikit tambahan dari kajian audio “Wanita Pemegang Bara Api”

Makanan yang Sebaiknya Dihindari Selama Kehamilan

sushiplatterAda beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari selama kehamilan karena mereka dapat menyebabkan infeksi-infeksi seperti; salmonella,toksoplasmosis,listeria, E.coli, yang dapat membahayakan bayi dalam kandungan anda.

• Jangan makan daging mentah (sushi) atau yang dimasak kurang matang, karena mengandung Toksoplasmosis sebuah parasit yang dapat menyebabkan infeksi serius pada janin anda dan juga E.coli, yang berbahaya bagi ibu hamil dan janin.

• Toksoplasmosis terdapat pada sayuran yang tidak dicuci dengan baik, oleh karena itu bersihkan sayuran anda dengan baik, apalagi untuk salad atau lalapan yang dimakan mentah. Hindari juga kotoran kucing atau bermain-main dengan kucing selama kehamilan karena mengandung toksoplasmosis.

• Jangan makan daging ayam dan telur yang dimasak kurang matang atau mentah , hindari makan hati ayam/daging yang mungkin sumber dari salmonella, yang dapat menyebabkan diare yang berat pada ibu hamil. Juga diperhatikan piring, alat-alat masakan yang terkena daging ayam mentah ini untuk dicuci.

• Ikan tuna steak, ikan sea bass, shark, atau ikan-ikan berukuran besar yang diketahui mengandung tingkat mercuri yang tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan saraf jika dimakan dalam jumlah besar. FDA rekomendasi ikan tuna dan ikan ukuran besar ini sebatas 12 ons perminggu

• Keju lunak seperti brie dan camembert, blueveined cheese juga keju dari susu kambing dan domba, serta jangan minum susu yang tidak di pasteurisasi. Semua produk ini mempunyai resiko membawa listeria. Listeria tipe bakteri yang mampu menembus plasenta dan menyebabkan infeksi janin, pada dewasa tidak ada gejala atau seperti flu. Listeria dapat menyebabkan keguguran,kelahiran premature, dan keracunan dalam darah. Sebaiknya hindari makanan jenis ini sampai melahirkan bayi anda.

• Jangan minum yang mengandung alcohol dapat menyebabkan kelainan perkembangan pada janin ada juga problem emosional pada bayi.

• Minuman yang mengandung cafein seperti kopi, teh sebaiknya di hindari atau dibatasi karena kopi dapat memperngaruhi berat badan rendah pada bayi, keguguran dan juga cafein mengurangi penyerapan zat besi.

Ingatlah perkembangan bayi dalam kandungan anda tergantung dari apa yang anda makan selama kehamilan.

taken from:  http://ummusyauqy.wordpress.com/category/ibu-hamil/

Bersabarlah Wahai Saudaraku…

blue-hills1Seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat cobaan maka dia bersabar dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar. Sungguh menakjubkan keadaan seorang muslim. Bagaimanapun keadaannya dia tetap masih bisa menuai pahala.

Betapa Mulianya Sabar

Diantara ketiga keadaan ini datangnya cobaan demi cobaan terkadang membuat hati kita mendongkol, lisan menggerutu dan tangan melayang lempar sana, lempar sini, tonjok kanan tonjok kiri. Lalu apa hasilnya? Ingatlah saudaraku semoga Alloh merahmatimu, sesungguhnya Alloh menjanjikan kebersamaan-Nya yang istimewa bagi orang-orang yang mau bersabar. Alloh Ta’ala berfirman, “Dan bersabarlah kalian sesunguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar.” (Al Anfal: 46). Inilah kebersamaan khusus yang Alloh janjikan berupa penjagaan, pertolongan dan pembelaan di saat yang dibutuhkan. Bahkan dengan kesabaran jugalah kepemimpinan dalam agama bisa diraih. Alloh Ta’ala berfirman, “Dan Kami telah menjadikan pemimpin-pemimpin di kalangan mereka (Bani Isro’il) yang membimbing dengan petunjuk dari Kami tatkala mereka mau bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (As Sajdah: 24). Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dengan sabar dan yakin itulah akan bisa diraih imamah/kepemimpinan dalam ad dien.”

Dan sifat sabar termasuk salah satu ciri yang melekat pada diri para Rosul manusia-manusia paling mulia di atas muka bumi. Alloh Ta’ala berfirman, “Sungguh para Rosul sebelum engkau (Muhammad) telah didustakan maka mereka pun bersabar terhadap pendustaan itu, dan mereka disakiti hingga tibalah pertolongan Kami.” (Al An’am: 34). Demikianlah betapa agungnya sabar. Sampai-sampai Rosul bersabda, “Sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran.” (Arba’in no. 19)

Pengertian Sabar dan Macam-Macamnya

Sabar adalah menahan jiwa dari mendongkol, menahan lisan dari berkeluh kesah dan marah serta menahan anggota badan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan seperti menampar-nampar pipi atau merobek-robek kerah baju (Al Jadid fi Syarhi Kitab At Tauhid, hlm. 314). Sabar ada tiga macam; (1) Sabar dalam ketaatan, (2) Sabar dalam menahan diri dari melakukan kemaksiatan dan (3) Sabar dalam menghadapi takdir Alloh yang terasa menyakitkan.

Di antara ketiga macam sabar ini, sabar dalam ketaatan adalah macam sabar yang tertinggi. Namun adakalanya bersabar dalam menahan diri dari kemaksiatan justeru lebih berat daripada bersabar dalam ketaatan. Syaikh Al Utsaimin menjelaskan, Seperti misalnya cobaan yang menimpa seorang laki-laki berupa godaan wanita cantik yang mengajaknya untuk berzina di tempat sunyi yang tidak diketahui siapapun selain Alloh, sementara laki-laki ini masih muda dan memendam syahwat dalam dirinya. Maka bersabar agar tidak terjatuh dalam maksiat seperti ini menjadi lebih sulit bagi jiwanya. Bisa jadi mengerjakan sholat seratus rokaat itu lebih ringan baginya daripada harus menghadapi beratnya ujian semacam ini. (Al Qoulul Mufid, Syaikh Al Utsaimin)

Alloh Ta’ala berfirman, “Alloh mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imron: 146). Ujian demi ujian hendaknya justeru menempa kepribadian kita agar menjadi hamba yang semakin dicintai oleh Alloh Ta’ala, yang bersyukur bila mendapat nikmat, bertaubat bila berdosa dan bersabar dalam ketaatan, dalam menghindari maksiat dan tatkala menghadapi musibah. Wallohul musta’aan.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Aku, Istri yang Kecanduan Internet

internetArtikel ini diambil dari: http://eramuslim.com/oase-iman/aku-istri-yang-kecanduan-internet.htm

~~~~~~

oleh: Ida M. Robit

Demam Facebook di seluruh dunia, para peselancar di dunia maya pun tak mau ketinggalan turut berjungkir balik melawan ombak informasi dan arus deras privacy yang bertubi-tubi menerjang tiap facebook pribadi yang rata-rata menggunakan nama lengkap aslinya. Tentu saja bagi yang jujur, berniat semata-mata untuk menyambung tali silaturrahim dengan kawan-kawan lama di masa sekolah dulu, dari jaman SD, SMP, SMU (dulu SMA) dan kuliah (Akademi maupun Perguruan Tinggi, dst.) akan menggunakan nama aslinya. Namun tidak sedikit yang menggunakan nama samaran, dan ia bebas berekspresi di facebook dengan sesuka hatinya. Bahkan ada yang pura-pura menjadi artis, kemudian ia melayani berbagai pertanyaan penggemarnya seolah-olah ia adalah sang tokoh pujaan yang dimaksud. Sungguh, ini yang disebut sebagai pembunuhan karakter. Banyak juga yang menampilkan foto di headshoot dengan wajah yang ganteng atau cantik namun bukan dirinya sendiri, diambil dari image artis-artis mancanegara sehingga banyak mengundang para facebooker yang ingin dikonfirmasi menjadi temannya. Fenomena seperti ini bisa dibilang memprihatinkan, karena bagi orang-orang yang “sakit jiwa” atau “penjahat” pun bisa bebas beraksi. Perjalanan Aku Mengenal Internet Sejak sepuluh tahun yang lalu mengenal internet di tempat bekerja, hidupku memang sudah tidak bisa jauh-jauh dari dunia virtual yang begitu mengagumkan bagiku. Dalam satu waktu yang singkat, aku bisa “kontak” dengan beberapa teman lama yang jaraknya jauh bahkan ada yang di Amerika atau negara lain, tanpa mengeluarkan ongkos banyak dan tidak usah pakai tenaga untuk berjalan atau mengeluarkan suara. Hanya jemariku yang menari-nari di tuts keyboard komputerku saja, tanpa harus berbicara dan mengatur mimik atau bahasa tubuh. Sangat cocok bagi diriku yang malas keluar rumah, bergaul dengan Ibu-ibu tetangga yang rajin berkumpul tiap sore di sekitar rumah atau pagi harinya ketika berkerumun mengelilingi gerobak sayur. Aku memang tipe orang yang malas keluar rumah kalau belum mandi, atau belum berpakaian rapi, jadi dalam bersosialisasi sungguh kurang optimal. Banyak yang bertanya kenapa aku jarang keluar rumah, hanya kujawab aku lebih suka di dalam rumah membaca buku, majalah, tabloid atau koran dan “komputeran”. Mereka tidak bisa bertanya lebih jauh lagi karena sebenarnya tidak mengerti apa maksudku, apa yang aku lakukan dengan komputer sebagai Ibu Rumah Tangga? Aku telah begitu familiar dengan yang namanya e-mail, mailing list (biasa disebut milis), blog, situs, search engine dan lain sebagainya. Aku pernah jadi ratu chatting di kantorku dulu waktu bekerja sebagai pustakawati, sampai ditegur oleh atasan, maklum baru kenal internet waktu itu dan status masih single jadi apa salahnya bergaul sebanyak-banyaknya di dunia virtual? Sudah puas chatting, aku rajin membuka situs-situs Islami yang memberikan siraman rohani positif bagi diriku. Karena aku juga merupakan anggota Youth Islamic Study Club di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, aku pun bergabung ke milis komunitas remaja masjid tersebut dan memperoleh banyak ilmu tentang Agama Islam yang sungguh variatif pandangan dan alirannya, namun lucunya sampai saat ini aku masih menganggap diri ini sangat awam dan ilmu Agamaku masih dangkal. Dengan bantuan internet juga aku bertemu jodoh, dengan suamiku aku hanya berkenalan kurang-lebih tiga bulan dan langsung menikah. Waktu itu kami dicomblangi oleh seorang ikhwan, namun karena kami merasa bukan sebagai “ikhwan” dan “akhwat” akhirnya kami bergerilya sendiri untuk mempercepat proses ta’aruf yang ternyata ditangguhkan oleh sang ikhwan yang adik kelas di almamater suami itu. Untung saja, kami “nakal” dengan cara menjalin komunikasi sendiri melalui e-mail, sempat “gombal-gombalan” sedikit dan akhirnya menikahlah kami hingga saat ini sudah memiliki dua orang gadis kecil berusia lima dan dua setengah tahun. Insya Allah kami bahagia dengan pernikahan ini. Setelah Menjadi Istri, tetap Kecanduan Internet Karena aku kesepian di rumah, suami tiap hari berangkat pagi dan pulang malam, internet adalah hiburan yang menemani hidupku. Aku selalu berusaha mencari sumber-sumber yang positif bagiku untuk menambah ilmu. Pada awal pernikahan, mungkin tidak ada masalah soal pengaturan waktu karena kami belum dikaruniai anak. Aku sempat kosong selama enam bulan sebelum hamil anak pertama. Setelah punya bayi, aku sempat meninggalkan internet, namun setelah anak pertama sudah agak besar aku kembali maniak internet. Aku juga menjadi Ibu rumah tangga yang nge-blog alias blogger yang tiap hari mengelola blog dengan mem-posting artikel atau curahan hati atau melihat-lihat foto teman sesama blogger dan membaca-baca atau me-reply posting mereka. Kami sahut-sahutan di dunia virtual yang tak terbatas ruang dan waktu. Aku sering meng-upload foto-fotoku sekeluarga terutama anak-anakku yang lucu, berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Aku mulai punya blog pertama kali di Multiply, tapi entah kenapa malas membuka akun di situs lain termasuk Friendster. Ketika memutuskan untuk membuka akun di Facebook itu pun hanya ikut-ikutan teman-teman di milis penggemar salah satu pengarang wanita yang eksis di dunia perindustrian buku yang sangat aku cintai, dan aku pun terjun bergabung di gateway pertemanan yang arusnya cukup deras. Aku terpesona dengan keajaiban teknologi yang membuatku bertemu dengan teman-teman lamaku dari masa kecil, remaja sampai menjelang dewasa. Facebook melepas rinduku pada mereka semua. Kami saling memberikan deretan kalimat berita terbaru tentang diri masing-masing, sharing foto-foto lama dan baru. Berkomentar yang aneh-aneh, lucu, menghibur dan kadang menasehati. Waktuku banyak tersita untuk Facebook, seringkali aku malas masak karena keasyikan di depan komputer. Setiap pagi, putri sulungku berangkat sekolah hampir berbarengan dengan suamiku dan putri ke-duaku masih tidur, nah langsung saja aku buka internet dan berjam-jam terlena sampai putri sulungku pulang sekolah jam sebelas siang dan adiknya bangun tidur (yang kecil ini memang bangunnya siang, karena tidurnya larut malam). Sementara Ibu-ibu lain memasak, aku malah “internetan”. Jam makan siang, aku cuma menggoreng bahan olahan yang sebenarnya kalau keseringan tidak baik untuk anak-anak apalagi orang dewasa. Jarang masak sayur, akhirnya aku menggantinya dengan banyak buah-buahan atau camilan snack-snack, keju, sosis, nugget dan lain-lain yang lumayan mahal harganya. Aku pun jadi boros dalam pengeluaran untuk bahan makanan, karena sering juga membeli makanan matang dari warteg atau restoran fastfood yang ada di pinggir jalan dan mall kecil di depan perumahan tempat tinggalku. Kadang juga, karena sedang asyik, aku mengusir putri-putriku yang menghampiriku ke meja komputer. Begitu ingat, aku sering menyesal dan memeluk mereka. Namun kalau sudah tenggelam dengan internet, aku agak cuek dengan mereka. Sudah pasti, inilah godaan syaithan yang terkutuk! Klimaks dalam Berinternet Akibat sering upload maupun download foto-foto di Facebook, tagihan pemakaian internet di rumahku membengkak hingga limaratus ribuan rupiah! Aku kaget, tentu saja suami menegurku. Aku juga sempat membaca kekisruhan para pasutri yang hubungannya makin memburuk akibat Facebook, ada yang bercerai melalui Facebook, ada yang tidak mau mencantumkan status “menikah” di Facebook membuat mangkel pasangannya karena terbukti tidak adanya keterbukaan atau kejujuran antar pasangan. Sebenarnya apa masalahnya yang paling mendasar? Facebook adalah parameter kejujuran! Jika kita tidak jujur, masalah akan menumpuk. Kemudian suami mengingatkan, ada kasus anak kecil yang meninggal dunia karena ditinggal “internetan” oleh Ibunya! Astaghfirullaah … separah itukah? Lalu sahabatku semasa SMA lewat sms-nya bercerita bahwa ia takut pasang internet karena khawatir akan menimbulkan masalah seperti tetangganya yang sering ribut karena sang istri kecanduan internet. Lalu bagaimana dengan aku sendiri? Kuingat-ingat lagi kelalaian apa saja yang sudah kuperbuat karena sudah kecanduan internet akut, dan berapa banyak manfaatnya dibanding mudharat-nya. Mengutip dari harian KOMPAS, Minggu 15 Maret 2009, “Orang yang kecanduan membangun pertemanan lewat internet tanpa disertai pertemuan fisik dengan orang tersebut akan kehilangan pijakan dengan dunia nyata. Ia masuk dalam dunia simulasi yang seolah-olah punya banyak teman, padahal tidak.” Benar juga, ya? Apakah semua teman-teman yang bisa saling menyapa dan bertukar kabar berita serta aktivitas itu care dengan kita? Apakah mereka bisa memberikan solusi bila kita memiliki masalah dalam rumah tangga secara nyata? Mungkin hanya sekedar kata-kata, yang meskipun tulus namun kita butuh sesuatu yang lebih nyata seperti materi bilamana kita bermasalah dalam hal keuangan dan uluran tangan secara fisik bila kita sakit atau mengalami kecelakaan. Kita harus tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang berada di dekat kita, seperti tetangga dan guru di sekolah anak (aku seringkali malas menjemput anak, karena terus duduk di depan meja komputer). Menjaga silaturrahim dengan sanak-saudara lebih diutamakan dari acara-acara reuni dengan teman-teman sekolah yang saat ini sedang trend. Yang terakhir masalah yang cukup pelik meski sederhana adalah berat badanku secara konstan menjadi lebih mudah naik, mungkin karena kurang bergerak dan terlalu banyak duduk akibat “internetan”, belum lagi ditambah mengemil dan terutama karena pola makan menjadi kacau dari segi ketidakteraturan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Suami pun complain dengan tubuhku yang terus melar tetapi susah kurusnya. Ini adalah peringatan bagiku, karena menyenangkan hati suami adalah kewajibanku sebagai istri, seperti juga menjaga dan mendidik anak-anak kami dengan baik. Ya Allah, ampuni aku yang telah melakukan banyak kelalaian, yang mungkin aku termasuk istri yang mendzolimi anak-anak dan suami, namun tidak aku sadari! Solusi, demi Kewajiban sebagai Istri yang Bertanggung Jawab Akhirnya kusadari bahwa semua ini tergantung kesadaran diri untuk memanfaatkan internet dengan bijaksana. Aku tidak bisa secara drastis meninggalkan internet, namun sedikit demi sedikit mungkin aku akan mengatur lagi porsi untuk berinternet dengan sebijak mungkin, hingga segala aspek kehidupan akan kembali menjadi seimbang. Memang aku mengakui di balik segala kelebihan yang diperoleh dari “gudang dari segala gudang ilmu di dunia” yang bernama World Wide Web ini, terdapat bahaya yang mengancam bagi setiap individu, baik dari segi psikologis, ekonomis, bahkan keharmonisan rumah tangga pun dapat terganggu oleh kehadiran internet. Dari segi keimanan, tentunya internet adalah suatu godaan yang hebat bagi yang tidak kuat menjaga hati dan kata-katanya di dunia maya yang jelas semu ini karena pemakai internet masih tersembunyi di “balik layar” yang semarak dengan fasilitas menjalin hubungan antar manusia yang beraneka karakter. Memang jika tanpa internet, siapa pun bisa menjadi orang yang tidak jujur, tidak setia, penipu dan sebagainya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa internet adalah sebuah sarana yang sangat berkompeten untuk menunjang perilaku negatif bagi semua insan. Sebagai Ibu Rumah Tangga, Alhamdulillaah segala informasi yang kuserap dan kubagikan pada teman di dunia maya adalah hal yang positif. Bahkan ketika belum menjadi seorang Istri dan Ibu, aku tidak hobby mengakses pornografi dari internet, dan ketika aku sedang gandrung chatting aku hanya berani “cuap-cuap” di layar mengumbar kata tetapi tidak hobby untuk bertemu alias “kopi darat” dengan orang yang belum dikenal, kecuali seseorang yang sudah benar-benar serius akan menjalin hubungan ke arah pernikahan dan Alhamdulillaah hanya bisa dihitung dengan tiga jari tangan (itu pun atas restu Ibundaku tercinta). Akhirnya aku dan suami pun mengakui bahwa internet tpernah berjasa terhadap “pertemuan” kami yang indah dan atas niat ibadah kami melakukan pernikahan, sehingga sampai detik ini aku masih bisa menggunakan internet di rumah atas ijin suami yang sudah pasti mengerti bahwa istrinya tidak bisa dijauhkan dari internet. Kini, tinggal aku sebagai Istri yang baik (begitu kan, harapan semua istri?) yang harus pandai-pandai mengelola waktu di segala bidang agar semuanya menjadi selaras, harmonis dan diridhoi oleh suami dan terutama Allah SWT, sehingga “kecanduan internet” akan berubah lebih baik lagi menjadi sekedar “kebutuhan internet” yang memadai dan dalam batas wajar. Semoga aku bisa menjalankannya, amiiin! Insya Allah …

Tips Merawat Rambut Secara Alami

akhwati fillah…mahaagungtuhan

Sebagai seorang perempuan, selain kesehatan ruhani yang harus kita pelihara namun tak lupa pula ada hak tubuh kita yang harus kita rawat, termasuk  keindahan rambut kita. Terutama nih ya bagi para isteri supaya selalu menyenangkan dipandang suami…^_^.. .,

bukankah jika kita niatkan untuk beribadah pasti berpahala?

Walaupun rambut kita senantiasa ditutup dengan jilbab, namun bukan berarti kita menyepelekan penampilan rambut kita kan..?

Bagi para akhwat yang belum menikah, justru harus sejak sekarang dibiasakan merawat lho, jangan mau kalah dong dengan perempuan lain yang hobi ke salon, kita juga bisa bikin salon sendiri di rumah. Jadi nanti jika suami anti kelak melihat rambut anti akan jadi semakin cinta…Amin

Ok, kita mulai ya tips and trick nya untuk memiliki rambut yang indah dan sehat..

* daun lidah buaya (digunakan sebagai masker bagi rambut kering dan kusam)

  • caranya: rendam lidah buaya dalam air hangat untuk mengurangi lendirnya, blender dan oleskan pada rambut, diamkan selama 20 menit lalu keramas.

* seledri (bermanfaat untuk mencegah dan merawat rambut rontok)

  • caranya: gunakan juicer untuk memisahkan daun dengan sarinya, lalu sarinya dioleskan pada kulit kepala dan rambut, diamkan 20 menit, lalu keramas.

* jeruk nipis (berguna untuk menghilangkan ketombe di kepala)

  • caranya: peras dan saring air jeruk nipis, lalu airnya oleskan di kulit kepala sambil di pijit-pijit. Fiamkan selama 30 menit kemudian keramas.

* daun teh (ramuan untuk menyuburkan rambut)

  • caranya: ambil teh biasa-yang serbuknya besar-besar (bukan teh celup) dan seduhlah menjadi segelas, diamkan/embunkan selama semalam. Lalu pakai iar teh terseut di kepala selama 2o menit.

* kemiri (menghitamkan dan mengkilaukan rambut)

  • caranya: bakar atau sangrai beberapa butir kemiri lalu tumbuk hingga halus. Oleskan pada rambut dan diamkan selama 20 menit, kemudian akhiri dengan keramas.

** Bagi anti yang punya rambut berminyak, berikut ada tips bagaimana menkaga keseimbangan kandungan minyak pada rambut. Sebaiknya lakukan ini sebelum tidur..

  • caranya: panaskan beberapa sendok minyak (zaitun atau minyak kelapa) lalu oleskan pada rambut
  • pijat perlahan pada kulit kepala dengan gerakan memutar. Lakukan selama 8 hingga 10 menit saja, lalu diamkan sambil anti tidur.
  • di pagi hari, bilas minyak dengan keramas seperti biasa. Hasilnya insya Allah  rambut anti akan lebih lentur dan terjaga kelembabannya

Gimana, ukhti sekalian… mudah kan dipraktekkan?, bahannya juga gampang di dapat disekitar kita. Jadi tunggu apa lagi…let’s do it …!

~~~

* tips diambil dari buku “Panduan Lengkap Kesehatan Wanita”

( the language style is originally written by me)

A World Where Womanhood Reigns Supreme

The Seeds of My Own Re-evaluations
Mary Walker was Production Co-ordinator on the BBC2 series “Living Islam”.

a position of honour and respect. “It is not liberation where you say women should go naked. It is just oppression,
because men want to see them naked.”

Just as to us the veil represents Muslim oppression, to them miniskirts and plunging necklines represent oppression.
They said that men are cheating women in the West. They let us believe we’re liberated but enslave us to the male
gaze.

However much I insist on the right to choose what I wear, I cannot deny that the choice is often dictated by what
will make my body more attractive to men. Women cannot separate their identity from their appearance and so we
remain trapped in the traditional feminine world, where the rules are written by men.

By choosing to wear the veil, these women were making a conscious decision to define their role in society and
their relationship with men. That relationship appeared to be based more on exchange and mutual respect (a
respect that was often lacking in the personal relationships I saw in the West), than the master/servant scenario I
had anticipated. The Veil to them signified visual confirmation of their religious commitment, in which men and
women were united, and for Zeenah and Fatima an even stronger commitment to a political ideal.

So were my notions of oppression in the form of the veil disqualified? If my definition of equality was free will then
I could no longer define that oppression as a symptom of Islam. The women had all exercised their right to choose.
To some extent, they were freer than me – I had less control over my destiny. I could no longer point at them and
say they were oppressed and I was not. my life was influenced by male approval as theirs – but the element of
choice had been taken out of mine. their situations and their arguments had, after all, served to highlight
shortcomings in my view of my own liberty.

* Mary Walker was Production Co-ordinator on the BBC2 series “Living Islam”.
Article courtesy of Impact Magazine

http://www.islamicknowledge.co.uk/pdf/WORLD_WHERE_WOMENHOOD_REIGNS_SUPREME.pdf

The Quran on Human Embryonic Development

*this article is originally taken from: http://www.islamreligion.com/articles/216/

_______________________________________________________________________

In the Holy Quran, God speaks about the stages of man’s embryonic development:

“We created man from an extract of clay. Then We made him as a drop in a place of settlement, firmly fixed. Then We made the drop into an alaqah (leech, suspended thing, and blood clot), then We made the alaqah into a mudghah (chewed substance)…” (Quran 23:12-14)
Literally, the Arabic word alaqah has three meanings: (1) leech, (2) suspended thing, and (3) blood clot.

In comparing a leech to an embryo in the alaqah stage, we find similarity between the two[1] as we can see in figure 1. Also, the embryo at this stage obtains nourishment from the blood of the mother, similar to the leech, which feeds on the blood of others.[2]

the_quran_on_human_embryonic_development_001 Figure 1: Drawings illustrating the similarities in appearance between a leech and a human embryo at the alaqah stage. (Leech drawing from Human Development as Described in the Quran and Sunnah, Moore and others, p. 37, modified from Integrated Principles of Zoology, Hickman and others. Embryo drawing from The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 73.)
The second meaning of the word alaqah is “suspended thing.” This is what we can see in figures 2 and 3, the suspension of the embryo, during the alaqah stage, in the womb of the mother.

the_quran_on_human_embryonic_development_0021

Figure 2: We can see in this diagram the suspension of an embryo during the alaqah stage in the womb (uterus) of the mother. (The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 66.)

the_quran_on_human_embryonic_development_0031

Figure 3: In this photomicrograph, we can see the suspension of an embryo (marked B) during the alaqah stage (about 15 days old) in the womb of the mother. The actual size of the embryo is about 0.6 mm. (The Developing Human, Moore, 3rd ed., p. 66, from Histology, Leeson and Leeson.)

The third meaning of the word alaqah is “blood clot.” We find that the external appearance of the embryo and its sacs during the alaqah stage is similar to that of a blood clot. This is due to the presence of relatively large amounts of blood present in the embryo during this stage[3] (see figure 4). Also during this stage, the blood in the embryo does not circulate until the end of the third week.[4] Thus, the embryo at this stage is like a clot of blood.

the_quran_on_human_embryonic_development_0041
Figure 4: Diagram of the primitive cardiovascular system in an embryo during the alaqah stage. The external appearance of the embryo and its sacs is similar to that of a blood clot, due to the presence of relatively large amounts of blood present in the embryo. (The Developing Human, Moore, 5th ed., p. 65.)
So the three meanings of the word alaqah correspond accurately to the descriptions of the embryo at the alaqah stage.

The next stage mentioned in the verse is the mudghah stage. The Arabic word mudghah means “chewed substance.” If one were to take a piece of gum and chew it in his or her mouth and then compare it with an embryo at the mudghah stage, we would conclude that the embryo at the mudghah stage acquires the appearance of a chewed substance. This is because of the somites at the back of the embryo that “somewhat resemble teethmarks in a chewed substance.”[5] (see figures 5 and 6).

the_quran_on_human_embryonic_development_005

Figure 5: Photograph of an embryo at the mudghah stage (28 days old). The embryo at this stage acquires the appearance of a chewed substance, because the somites at the back of the embryo somewhat resemble teeth marks in a chewed substance. The actual size of the embryo is 4 mm. (The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 82, from Professor Hideo Nishimura, Kyoto University, Kyoto, Japan.)
the_quran_on_human_embryonic_development_006Figure 6: When comparing the appearance of an embryo at the mudghah stage with a piece of gum that has been chewed, we find similarity between the two.

A) Drawing of an embryo at the mudghah stage. We can see here the somites at the back of the embryo that look like teeth marks. (The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 79.)

B) Photograph of a piece of gum that has been chewed.

How could Muhammad, may the mercy and blessings of God be upon him, have possibly known all this 1400 years ago, when scientists have only recently discovered this using advanced equipment and powerful microscopes which did not exist at that time? Hamm and Leeuwenhoek were the first scientists to observe human sperm cells (spermatozoa) using an improved microscope in 1677 (more than 1000 years after Muhammad). They mistakenly thought that the sperm cell contained a miniature preformed human being that grew when it was deposited in the female genital tract.[6]

Professor Emeritus Keith L. Moore[7] is one of the world’s most prominent scientists in the fields of anatomy and embryology and is the author of the book entitled The Developing Human, which has been translated into eight languages. This book is a scientific reference work and was chosen by a special committee in the United States as the best book authored by one person. Dr. Keith Moore is Professor Emeritus of Anatomy and Cell Biology at the University of Toronto, Toronto, Canada. There, he was Associate Dean of Basic Sciences at the Faculty of Medicine and for 8 years was the Chairman of the Department of Anatomy. In 1984, he received the most distinguished award presented in the field of anatomy in Canada, the J.C.B. Grant Award from the Canadian Association of Anatomists. He has directed many international associations, such as the Canadian and American Association of Anatomists and the Council of the Union of Biological Sciences.

In 1981, during the Seventh Medical Conference in Dammam, Saudi Arabia, Professor Moore said: “It has been a great pleasure for me to help clarify statements in the Quran about human development. It is clear to me that these statements must have come to Muhammad from God, because almost all of this knowledge was not discovered until many centuries later. This proves to me that Muhammad must have been a messenger of God.”[8] (To view the RealPlayer video of this comment click here).

Consequently, Professor Moore was asked the following question: “Does this mean that you believe that the Quran is the word of God?” He replied: “I find no difficulty in accepting this.”[9]

During one conference, Professor Moore stated: “….Because the staging of human embryos is complex, owing to the continuous process of change during development, it is proposed that a new system of classification could be developed using the terms mentioned in the Quran and Sunnah (what Muhammad, may the mercy and blessings of God be upon him, said, did, or approved of). The proposed system is simple, comprehensive, and conforms with present embryological knowledge. The intensive studies of the Quran and hadeeth (reliably transmitted reports by the Prophet Muhammad’s companions of what he said, did, or approved of) in the last four years have revealed a system for classifying human embryos that is amazing since it was recorded in the seventh century A.D. Although Aristotle, the founder of the science of embryology, realized that chick embryos developed in stages from his studies of hen’s eggs in the fourth century B.C., he did not give any details about these stages. As far as it is known from the history of embryology, little was known about the staging and classification of human embryos until the twentieth century. For this reason, the descriptions of the human embryo in the Quran cannot be based on scientific knowledge in the seventh century. The only reasonable conclusion is: these descriptions were revealed to Muhammad from God. He could not have known such details because he was an illiterate man with absolutely no scientific training.”[10] (View the RealPlayer video of this comment).

Footnotes:

[1] The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 8.

[2] Human Development as Described in the Quran and Sunnah, Moore and others, p. 36.

[3] Human Development as Described in the Quran and Sunnah, Moore and others, pp. 37-38.

[4] The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 65.

[5] The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 8.

[6] The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 9.

[7] Note: The occupations of all the scientists mentioned in this web site were last updated in 1997.

[8] The reference for this saying is This is the Truth (videotape). For a copy of this videotape, please visit http://www.islam-guide.com/truth.htm

[9] This is the Truth (videotape).

[10] This is the Truth (videotape). For a copy, see footnote no. 9.

http://www.islamreligion.com/articles/216/