Monthly Archives: April 2009

Menikah itu…

Menikah? wah satu kata ini pasti yang paling dirindukan oleh para akhwat yang mendengarnya…(ikhwan juga tentunya), tapi disini saya hanya ingin mengetengahkan tema menarik ini terutama untuk para calon isteri saja… Kok gitu? absolutely yes, since I am a wife so I will tell you what the wives use to deal with..

Jadi begini akhwat sekalian yang sangat penasaran dengan ‘gimana sih dunia pernikahan itu?’

Let me tell you dear sis… menikah tuh nggak cuma melulu soal cinta-cinta, bermesraan, bunga-bunga, dan hal indah-indah semacamnya. Oke kita yang udah menikah juga nggak menafikan betapa berharganya anugerah Allah berupa cinta dan kasih sayang ini.

Bayangin, kita yang dulu cuma berakrab-akrab ria dengan teman perempuan yang lain, bercanda ria, saling curhat hanya dengan sesama sahabat putri (catet ya: ini bagi kami yang nggak kenal pacaran lho..), lalu tiba-tiba ada ‘makhluk’ lain didepan kita, makhluk yang sebelumnya nggak kita kenal, yang jika ketemu aja kita nggak mau lihat wajahnya karena takut kena fitnah, dan bahkan makhluk yang telapak kaki kitapun tak mau kita perlihatkan kepadanya (karena itulah yang dituntunkan syariat), then suddenly..setelah menikah semua itu nggak berlaku lagi kan…

Nah, ternyata akhwatifillah, dalam bingkai pernikahan memang Allah telah menghalalkan apa-apa yang sebelumnya haram, kita mau bikin cerita cinta seperti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan bunda Aisyah…, kejar-kejaran dengan dia ditaman bunga gitu, ya tentu aja boleh.

Ya itulah karunia Allah kepada sepasang laki-laki dan wanita yang disatukan dalam tali pernikahan. Lha kalo yang belum nikah kayak begitu (yang orang sekarang bilang pacaran) itu namanya menentang larangan Allah, karena Allah telah berfirman,

“Dan janganlah kamu dekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isro’: 32)

Sementara orang yang pacaran tentu saja mendekati zina (memandang, menyentuh, mencium, dll) dan bahkan banyak yang jatuh kepada zina itu sendiri, naudzubillah min dzalik. Ingat kan sebuah hadist dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tentang kisah beliau ketika di isra’ mi’rajkan dimana beliau melihat sebuah tempat yang mirip tungku yang besar dimana ada pria dan wanita telanjang disana dan dinyalakan api dari bawah tungku tersebut, ketika Nabi bertanya kepada malaikat yang membawa beliau, ia menjawab bahwa mereka adalah laki-laki dan perempuan yang berzina di dunia.

Baiklah kembali kepada tema, jadi menikah nggak melulu soal cinta, namun ada hal besar lainnya disana ya ukhty,..Setelah menikah, maka kita memasuki kehidupan yang lain dari sebelumnya, ibarat anak SD yang mau masuk SMP, maka akan ada peningkatan ilmu yang berbeda yang harus kita jalani. Dan disinilah kita akan memahami (benar-benar memahami) apa yang dimaksudkan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah menjaga mereka…”(QS. An Nisa : 34)

dan juga sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam,

“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah; jika dia menyuruhnya iapun taat, jika dilihat menyenangkan dan jika diberi mau berterima kasih, dan jika suaminya pergi maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Hadits Riwayat Ibn Majah)

know why?

karena kita nggak hidup sendiri lagi ukhty, kita punya seseorang yang harus kita urus dari bangun tidur hingga mau tidur lagi.

Jika sebelum menikah, mau makan kita tinggal makan, mau pergi keluar tinggal keluar (jika tinggal dengan orang tua harus ijin mereka dulu), mau ngobrol sama teman sepuasnya tinggal ngobrol, mau ambil keputusan tinggal ambil, mau tidur tinggal tidur, mau nggak mandi seharian juga nggak ada yang negur, mau pake baju lusuh dirumah juga biarin.

Namun semua itu lain keadaannya jika kita telah menikah (dan bila kita ingin menjadi isteri yang salihah yang balasannya adalah Jannah).

Mau tak mau kita harus tinggalkan kebiasaan lama dulu dan mesti dirubah, karena…

Disana akan ada seseorang yang harus kita siapkan makanan ketika tiba waktu makan

ada seseorang yang harus kita siapkan bajunya untuk dicuci, disetrika,

Ada seseorang yang harus kita mintai ijin ketika kita mau keluar,

ada seseorang yang harus kita hormati dan ikuti keputusannya walaupun tidak sreg dengan ego kita,

ada seseorang yang harus kita mintai ijin ketika kita akan membelanjakan uang (kecuali jika itu uang penghasilan kita sendiri),

dan ada seseorang yang harus kita utamakan dari orang lain disekitar kita (misal kalau ada suami disamping kita jangan keenakan ngobrol ngalur-ngidul di telefon dengan teman lama, sedangkan suami dicuekin),

ada seseorang yang didepannya kita harus hadirkan penampilan yang terbaik, perhatikan dandanan dan wewangian (Peringatan: cuma dipakai didepan suami lho, not for public consumption!)

Bagaimana dengan konflik ?

Rumah tangga mana sih yang nggak lepas dari konflik? Bahkan rumah tangga Nabi dan sahabat pernah mengalami ujian, apalagi orang biasa seperti kita.

Namanya menikah itu kan menyatukan dua manusia dengan latar belakang, sifat dan karateristik yang berbeda, pasti sekali-kali pernah ada benturan di antara dua kepribadian ini. Ada kalanya konflik dua kepentingan terjadi, ini hal yang lumrah, namun yang harus diutamakan adalah BAGAIMANA kita mengelola, mencari jalan keluar dari konflik tersebut agar tidak berlarut-larut.

Nah disinilah perbedaan antara rumah tangga yang dibangun diatas landasan Islam yang kokoh dan yang rapuh.

Jika kita tidak tahu seni-nya berumah tangga islami ya, maka nggak heran jika ada isteri yang kabur dari rumah suami setelah ‘perang’, ada suami yang tega men-smack down isterinya hingga babak belur (lha emang isterinya atlet tinju?), ada isteri yang melempari suaminya dengan gelas, piring, dll ketika marah-marah, ada yang bahkan langsung nuntut cerai hanya karena masalah sepele…dan seterusnya

Terus bagaimana keluarga muslim yang sebenarnya dalam menghadapi konflik rumah tangga?, berikut tips-tips yang insya Allah berguna:

Jika salah seorang pasangan melakukan kesalahan, maka akuilah dan langsung meminta maaf, jangan biarkan berlarut-larut menjadi ‘perang dingin’ emang enak diem-dieman seharian? berikan saja dia senyuman, pelukan dan minta maaf kepadanya, dan berjanji (sungguh-sungguh lho ya) bahwa kita tidak akan mengulanginya lagi. Insya Allah suasana akan kembali cair

Jika suami atau isteri mendapati kesalahan pasangannya maka jangan serta merta marah-marah, namun tanyakan dulu apa alasan dia melakukan hal tersebut,barangkali kita belum tahu maksud dia dibalik perbuatannya itu. Cobalah khusnudzon dengan suami, insya Allah akan bermanfa’at, bukankah sebagian prasangka adalah dosa?  Coba kita tabayyun dulu, cari tahu dulu informasi yang sebenarnya, karena kalo kita langsung marah maka setan akan semakin menghembuskan nyala apinya…

Ketika kita marah atau kesal dengannya maka cobalah tahan lisan kita, jangan keluarkan kata-kata, sebab kalo kita lagi marah, setan masuk dan kata-kata yang keluar akan tidak terkontrol, takutnya kita akan mengeluarkan ucapan yang malah membikin suasana tambah runyam, tadinya suami mau minta maaf, tapi karena kita sudah terlanjur mengucapkan kata-kata yang menusuk, maka bisa-bisa malah suami yang gantian marah ke kita, wah tambah kacau deh..

seperti yang disabdakan Nabi, jika kita marah maka duduklah, kalo masih marah, berbaringlah, dan supaya lebih tenang maka berwudhulah, insya Allah ini akan mendinginkan kepala dan hati.

Dan jika terjadi konflik dengan suami, maka jangan tinggalkan rumah, ngambek, lalu kabur ke rumah orang tua tanpa seidzinnya…padahal tidak diperbolehkan kita meninggalkan rumah tanpa seidzin suami. Bersabarlah saja wahai ukhti, nggak akan rugi kok orang yang bersabar, siapa tahu suami akan semakin menyayangi kita karena melihat akhlak kita yang begitu terpuji. Amin.

***

Intinya menikah itu selain keindahan yang kita rasakan, namun ya ada tanggung jawab lain sebagai seorang isteri yang harus kita jalankan seperti diatas tadi, itu ya udah sunnatullah, ada juga saat-saat masalah datang secara tak terelakkan dan kita harus menyikapinya dengan sikap yang sesuai tuntunan syari’at. Karena masalah rumah tangga adalah bagian dari ujian Allah di dunia.

Jika kita menginginkan kebahagiaan yang abadi, ya nggak akan ketemu di dunia ini, karena dunia adalah ladang ujian, kesenangan yang terus-menerus adanya ya di Jannah, di sanalah kita memetik hasil jerih payah kita dalam  mengelola rumah tangga yang islami. Amin

***

Semoga Allah karuniakan kepada kita rumah tangga yang sakinah, mawwadah, wa rahmah.

Amin Yaa Mujibbassa’ilin

Iman Yang Sejati

skyoleh: Ustadz Abu Muslih

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Abul Yaman menuturkan kepada kami. Dia berkata; Syu’aib mengabarkan kepada kami.Dia berkata; Abu Zinad menuturkan kepada kami dari al-A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman bab Hubbur rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam minal iman)

Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ

بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار

Muhammad bin al-Mutsanna menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Wahhab menuturkan kepada kami. Dia berkata; Ayyub menuturkan kepada kami dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Ada tiga perkara; barangsiapa yang memiliki ketiganya maka dia akan merasakan manisnya iman. Yaitu apabila Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya. Dan dia mencintai orang lain semata-mata karena Allah. Dan dia membenci kembali kepada kekafiran sebagaimana orang yang tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman bab halawatul iman)

Kedua buah hadits di atas memberikan banyak pelajaran berharga, di antaranya adalah :

  • Bersumpah dengan menyebut Allah, tidak boleh dengan menyebut makhluk
  • Bolehnya bersumpah untuk menegaskan sesuatu yang penting tanpa diminta sebelumnya
  • Dinafikannya keimanan dari orang yang lebih mencintai orang tua dan anaknya daripada kecintaan kepada Rasul
  • Bolehnya mencintai orang tua dan anak-anak
  • Ketaatan kepada rasul harus lebih didahulukan daripada ketaatan kepada orang tua atau pun keinginan anak
  • Iman itu bertingkat-tingkat Iman juga mencakup amal perbuatan, tidak cukup di lisan
  • Iman memiliki rasa manis yang bisa dirasakan oleh orang yang beriman
  • Kecintaan kepada rasul merupakan bagian dan konsekuensi kecintaan kepada Allah
  • Di dalamnya juga terkandung keutamaan mempelajari al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Dorongan untuk ikhlas dalam membangun ukhuwah
  • Kecintaan kepada orang-orang salih merupakan bagian dari ajaran Islam
  • Kewajiban untuk membenci kekafiran dan pelakunya
  • Musibah yang menimpa fisik dan kesehatan tubuh lebih ringan daripada musibah yang menimpa agama dan jiwa manusia
  • Dan faidah lain yang belum saya ketahui, wallahu a’lam.

**

Ibarat Mengukir di Atas Batu

medina_kidsUsia kanak-kanak adalah masa keemasan dalam kehidupan seseorang. Segala yang dipelajari dan dialami pada masa ini –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala– akan membekas kelak di masa dewasa.

Tak heran bila di kalangan pendahulu kita yang shalih banyak kita dapati tokoh-tokoh besar yang kokoh ilmunya, bahkan dalam usia mereka yang masih relatif muda. Dari kalangan sahabat, ada ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum, dan banyak lagi. Kalangan setelah mereka, ada Sufyan Ats-Tsauri, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i, dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumullah.


Begitulah memang. Dari sejarah kehidupan mereka kita bisa melihat, mereka telah sibuk dengan ilmu dan adab semenjak usia kanak-kanak. Jadilah –dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala– apa yang mereka pelajari tertanam dalam diri dan memberikan pengaruh terhadap pribadi.


Demikian yang diungkapkan oleh ‘Alqamah rahimahullahu:
مَا حَفِظْتُ وَأَنَا شَابٌّ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فِي قِرْطَاسٍ أَوْ وَرَقَةٍ
“Segala sesuatu yang kuhafal ketika aku masih belia, maka sekarang seakan-akan aku melihatnya di atas kertas atau lembaran catatan.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/304)


Bahkan ayah ibu mereka berperan dalam mengarahkan dan membiasakan anak-anak untuk menyibukkan diri dengan ilmu agama sejak dini dan menghasung mereka untuk mempelajari adab.


Muhammad bin Sirin rahimahullahu mengatakan:
كَانُوا يَقُوْلُوْنَ: أَكْرِمْ وَلَدَكَ وَأَحْسِنْ أَدَبَهُ
“(Para pendahulu kita) mengatakan: ‘Muliakanlah anakmu dan perbaikilah adabnya!’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/308)


Senada dengan ini, Ibnul Anbari rahimahullahu mengatakan pula:
مَنْ أَدَّبَ ابْنَهُ صَغِيْرًا قَرَّتْ عَيْنُهُ كَبِيْرًا
“Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya ketika si anak telah dewasa.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/306)


Dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu contohnya. Beliau selalu menyertakan putranya, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara orang-orang yang duduk di sana adalah orang-orang dewasa. Bahkan betapa inginnya ‘Umar agar putranya menjadi seorang yang terkemuka di antara para sahabat yang hadir di situ dari sisi ilmu. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:
كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: أَخْبِرْنِي بِشَجَرَةٍ تُشْبِهُ أَوْ كَالرَّجُلِ الْمُسْلِمِ لاَ يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا وَلاَ وَلاَ وَلاَ، تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لاَ يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ. فَلَمَّا لَمْ يَقُوْلُوْا شَيْئًا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: هِيَ النَّخْلَةُ. فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَاه، وَاللهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَكَلَّمُوْنَ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُوْلَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرَ: لَأَنْ تَكُوْنَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا.
“Dulu kami pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya pada kami, ‘Beritahukan kepadaku tentang sebatang pohon yang menyerupai atau seperti seorang muslim, tidak pernah gugur daunnya, tidak demikian dan demikian, selalu berbuah sepanjang waktu.’ Waktu itu terbetik dalam benakku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tapi kulihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan untuk menjawabnya. Tatkala para sahabat tidak juga mengatakan apa pun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu pohon kurma.” Ketika kami bubar, kukatakan kepada (ayahku) ‘Umar, “Wahai Ayah, sebetulnya tadi terlintas di benakku bahwa itu pohon kurma.”“Lalu apa yang membuatmu tidak menjawab?” tanya ayahku. “Aku melihat anda semua tidak berbicara, hingga aku merasa segan pula untuk menjawab atau mengatakan sesuatu,” jawab Ibnu ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Sungguh, kalau tadi engkau menjawab, itu lebih kusukai daripada aku memiliki ini dan itu!” (HR. Al-Bukhari no. 4698)


Lihat pula Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha yang menghasung putranya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu untuk selalu melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di usia kanak-kanaknya. Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha mengantarkan anaknya memperoleh faedah besar berupa ilmu dan pendidikan dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah ketika aku berumur delapan tahun. Maka ibuku pun menggandengku dan membawaku menghadap beliau. Ibuku mengatakan pada beliau, “Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang tersisa dari kalangan orang-orang Anshar, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali telah memberikan sesuatu padamu. Sementara aku tidak mampu memberikan apa-apa kepadamu, kecuali putraku ini. Ambillah agar dia bisa membantu melayani keperluanmu.” Maka aku pun melayani beliau selama sepuluh tahun. Tak pernah beliau memukulku, tak pernah mencelaku maupun bermuka masam kepadaku.” (Siyar A’lamin Nubala’, 3/398)


Begitu pula ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baru belasan tahun umurnya ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, sementara sebelum itu dia banyak mengambil faedah ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendapatkan doa beliau. ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengungkapkan, bagaimana inginnya dia mendapatkan ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
رَقَدْتُ فِي بَيْتِ مَيْمُوْنَةَ لَيْلَةَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَهَا لِأَنْظُرَ كَيْفَ صَلاَةَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ
“Aku pernah tidur di rumah Maimunah1 pada malam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermalam di sana untuk melihat bagaimana shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di waktu malam.” (HR. Al-Bukhari no. 698 dan Muslim no. 763)


Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, semangat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma untuk mencari ilmu tidaklah surut. Didatanginya para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada pada saat itu untuk mendengarkan hadits dari mereka. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan tentang hal ini:
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan waktu itu aku masih belia, aku berkata kepada salah seorang pemuda dari kalangan Anshar, ‘Wahai Fulan, mari kita bertanya pada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belajar dari mereka, mumpung mereka sekarang masih banyak!’ Dia menjawab, ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu ‘Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang kaulihat?’ Aku pun meninggalkannya. Aku pun mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata dia sedang tidur siang. Aku pun rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya, dalam keadaan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai dia keluar. ‘Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya ketika dia keluar. ‘Aku ingin mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’ jawabku. ‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku. Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi (dari kalangan Anshar tersebut, red.) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih berakal daripadaku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310)


Dari kalangan setelah tabi’in, kita kenal Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu. Salah satu hal yang mendorong Sufyan Ats-Tsauri sibuk menuntut ilmu sejak usia dini adalah hasungan, dorongan, dan arahan ibunya agar Sufyan mengambil faedah dari para ulama, baik berupa ilmu maupun faedah yang didapatkan dengan duduk bersama mereka, hingga ilmu yang diperolehnya akan memiliki pengaruh terhadap akhlak, adab, dan muamalahnya terhadap orang lain.


Ketika menyuruh putranya untuk hadir di halaqah-halaqah ilmu maupun majelis-majelis para ulama, ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, “Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham. Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kaudapati hadits itu dapat merubah cara dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan menjadi musibah bagimu di hari kiamat!” (Waratsatul Anbiya’, hal.36-37)


Begitu pula ibu Al-Imam Malik rahimahullahu, dia memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Al-Imam Malik mengisahkan:
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah2! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’ (Waratsatul Anbiya’, hal. 39)
Biarpun dalam keadaan kekurangan, mestinya keadaan itu tidak menyurutkan keinginan orangtua untuk memberikan yang terbaik bagi sang anak. Lihat bagaimana ibu Al-Imam Asy-Syafi’i berusaha agar putranya mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang baik.


Diceritakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Aku adalah seorang yatim yang diasuh sendiri oleh ibuku. Suatu ketika, ibuku menyerahkanku ke kuttab3, namun dia tidak memiliki sesuatu pun yang bisa dia berikan kepada pengajarku. Waktu itu, pengajarku membolehkan aku menempati tempatnya tatkala dia berdiri. Ketika aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an, aku mulai masuk masjid. Di sana aku duduk di hadapan para ulama. Bila aku mendengar suatu permasalahan atau hadits yang disampaikan, maka aku pun menghafalnya. Aku tak bisa menulisnya, karena ibuku tak memiliki harta yang bisa dia berikan kepadaku untuk kubelikan kertas. Aku pun biasa mencari tulang-belulang, tembikar, tulang punuk unta, atau pelepah pohon kurma, lalu kutulis hadits di situ. Bila telah penuh, kusimpan dalam tempayan (guci) yang ada di rumah kami. Karena banyaknya tempayan terkumpul, ibuku berkata, ‘Tempayan-tempayan ini membuat sempit rumah kita.’ Maka kuambil tempayan-tempayan itu dan kuhafalkan apa yang tertulis di dalamnya, lalu aku membuangnya. Sampai kemudian Allah memberiku kemudahan untuk berangkat menuntut ilmu ke negeri Yaman.” (Waratsatul Anbiya’, hal. 36)


Namun betapa mirisnya hati kita bila melihat anak-anak kaum muslimin sekarang ini. Dalam usia yang sama dengan para tokoh ini tadi, mereka tidak mempelajari ilmu agama ataupun memperbaiki adabnya. Akankah kita biarkan ini terus berlangsung?
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
**
1 Maimunah, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah bibi Ibnu ‘Abbas, karena Maimunah adalah saudari Ummul Fadhl, ibu Ibnu ‘Abbas.
2 Al-Imam Rabi’ah rahimahullahu adalah guru Al-Imam Malik rahimahullahu.
3 Kuttab adalah tempat anak-anak kecil belajar baca-tulis Al-Qur’an, semacam TPA/Q di Indonesia.

***

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=755


Tips Memilih Pembalut dan Perawatan Diri selama Haid

Teman-teman putri sekalian…1173788994

Pembalut sudah menjadi teman setia kita dikala haid datang. Segala macam jenis dan merk pembalut di iklankan besar-besaran dengan menonjolkan kelebihannya masing-masing. Maka disini kita harus jeli dalam memilihnya dan harus tahu cara yang paling aman dalam mengenakannya supaya tidak timbul alergi atau hal-hal yang membahayakan kesehatan kita

Silahkan baca tips-tips dalam memilih dan mengenakan pembalut berikut ini,

1. Ketika membeli pembalut pastikan kemasan masih tertutup rapat dan tidak sobek atau berlubang. Karena jika ada lubang maka bakteri dan kuman bisa masuk dan membahayakan kesehatan kita, seperti gatal-gatal. Jangan lupa juga perhatikan ya tanggal kadaluarsanya.

2. Pilih pembalut yang berdaya serap tinggi, tidak mudah mengkerut dan memiliki permukaan yang selalu kering (dry surface) meskipun tipis karena hal ini bisa menghindarkan kelembaban di sekitar organ intim yang amat disukai oleh jamur, kuman dan bakteri.

3. Pilih pembalut yang berbahan lembut dan lentur karena akan mengurangi faktor iritasi pada kulit kemaluan. Jika diantara kita merasa gatal atau panas setelah menggunakan pembalut merk tertentu, lebih baik ganti dengan merk lain karena boleh jadi kulit kita yang sensitif tidak cocok dengan jenis pembalut tersebut.

Nah, selain memilih pembalut ada baiknya pula kita mengerti hal-hal penting apa saja yang harus diketahui dalam merawat kesehatan organ intim kita selama haid. Berikut penjelasannya:

1. Gantilah pembalut sesering mungkin (kurang lebih 3 jam sekali) terutama pas haid sedang banyak-banyaknya. Karena pembalut yang terlambat diganti bisa menimbulkan berbagai jenis penyakit terutama yang disebabkan oleh jamur dan bakteri. Keduanya akan tumbuh subur di tempat-tempat yang lembab.

2. Saat membersihkan diri, basuhlah dengan air bersih dari arah depan ke belakang. Jika dari arah sebaliknya malah justru bisa memindahkan bakteri yang banyak bersarang di anus ke wilayah organ reprduksi kita, akibatnya bisa timbul gatal-gatal.

3. Hindari celana dalam yang terlalu ketat. Soalnya keketatan semacam ini akan menekan otot luar organ intim dan menciptakan suasana lembab. Lebih baik pakailah celana dalam yang tidak ketat dan berbahan katun yang mudah menyerap keringat. Hindari pula celana jins yang terlalu ketat di daerah selangkangan.

(Tuh kan celana yang ketat selain bisa membahayakan kesehatan tubuh juga bisa membahayakan iman lho, masak mau sih kita dipelototin laki-laki gara-gara pakai celana ketat..bisa dosa dua-duanya dong…ganti aja ya dengan rok panjang, kan lebih nyaman..^_^)

4. Ketika berada di toilet umum, jangan gunakan air di ember atau penampungan untuk membersihkan. Gunakan saja air dari keran yang mengalir, ini akan lebih aman. Karena menurut penelitian air yang tergenang di toilet umum mengandung 70% jamur candida albicans penyebab keputihan. Sedangkan air yang mengalir dalam keran mengandung kurang lebih 10-20%.

Jika ingin lebih aman maka sepulang dari toilet umum basuhlah organ intim dengan air hangat (cenderung panas) lalu keringkan dengan handuk lembut. Jamur dan bakteri mudah mati dalam air bersuhu tinggi.

Selain itu jangan keseringan memakai cairan pembersih organ intim (anti bakteri), sebab penggunaan secara rutin malah mengganggu keseimbangan flora di sekitar alat kelamin, juga bisa membunuh mikroba “baik” dan memicu tumbuhnya jamur.

5. Sebagai pilihan lain, kini sudah banyak hadir pembalut kain modern lho. Pembalut wanita ini bisa dicuci dan dipergunakan kembali yang biasa disebut reusable / washable menspad. Walaupun terbuat dari kain, namun bukan sembarang kain lho, nama bahan penyerap cairan ini yaitu microfiber, sedangkan lapisan kain yang menyentuh permukaan kulit dibuat dari bahan microfleece yang menjadikan kulit senantiasa kering dan tidak lembab. Salah satu produk pembalut kain ini bisa kalian temukan di toko online saya, aduh maaf bukannya promosi, cuma sekedar memudahkan pembaca saja jika ingin tahu lebih lanjut tentang pembalut ini *smile*…

Nah, sekarang sudah lumayan ‘tercerahkan’ kan..teman-teman semua…

Jadi mulai kini jangan lupa ya perhatikan pembalut yang akan kita pakai dan perhatikan pula perawatan diri kita selama haid supaya terhindar dari segala gangguan.

~~

Bahan dari artikel ini saya ambil dari buku “Tips dan Trik Merawat Organ Intim”

Semoga bermanfa’at…