Lidah Tak Bertulang, Waspadai Bahaya Lisan

Oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang
begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus
agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah
yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-
benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang
baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang
baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan
Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun
harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Ta’ala
berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089
dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk
kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah
dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam
menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan.
Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa
dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling
menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah
seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah
karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci
oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh
dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang
tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam
neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-
Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits
Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat
jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak
berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan
yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap
maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhush
Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: “Apabila dia ingin
berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka
berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga
nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhush Shalihin, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah
mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban
syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali
pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan
diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak
berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada
pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak
terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

KEUTAMAAN MENJAGA LISAN

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan
mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya.
Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk
pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:
1. Anas bin Malik: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar
lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan
membahayakan.”
2. Abu Ad-Darda’: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah
satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang
yang berbicara dengan ilmu.”
3. Al-Fudhail: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang
adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
4. Sufyan Ats-Tsauri: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut
ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas
menyebarkannya.”
5. Al-Ahnaf bin Qais: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan
lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan
menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan
kewibawaan terhadap dirinya.”
6. Abu Hatim: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya.
Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu,
jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila
tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil
(bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang
menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak
(dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya,
tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada
lisan.”
8. Mu’arrifh Al-‘Ijli: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya
semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang
bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif
menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”
(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad
bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

BUAH MENJAGA LISAN

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:
1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-
Nya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan
Muslim no. 48)
2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang
Islam, beliau menjawab:

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat
dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11
dan Muslim no. 42)
Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini
menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan
ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin, 3/8)
3. Mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk ke surga.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari
Sahl bin Sa’d:

“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua
rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku
akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)
Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546,
dari shahabat Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di
antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya
(kemaluan) maka dia akan masuk surga.”
4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya
kepadanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa
yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata
Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)
Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan
dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun
Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai
oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang
ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada
hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi
kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah
Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

والله اعلم

Sumber: Majalah asy-Syari’ah
(Diambil dari: http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2009/05/lidah-tak-bertulang.html)

2 responses to “Lidah Tak Bertulang, Waspadai Bahaya Lisan

  1. ijin copy akh
    syukron

  2. afwan..ijin copy usyadz.syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s