Category Archives: sepenggal cerita

Kembali Bersua Setelah Setahun Berpisah…

Alhamdulillah,….setelah setahun meninggalkan blog tercinta ini, kini saya bisa kembali berbagi ilmu dan kisah kepada para pembaca….

Maklum, kesibukan merawat anggota baru di keluarga kami membuat lupa menengok rumah kedua saya ini ^^, tahu-tahu sudah banyak komentar masuk yang masih dipending, maaf yah….

Tunggu saja artikel terbaru dari qanitah…

*big smile*

Advertisements

Kisah Seguci Emas

Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harist

Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘algreen-mountains-with-trees-lanscape-wallpaperaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا
Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”
Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”
Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”
Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”
Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.

Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?
Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.
Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya.

Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.
Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.

Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:
وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”

Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”

Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.
Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.
Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.

Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.
Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.
Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.

Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.
Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:
Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.

Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.

Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.
Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.
Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?

Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”
Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.
Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.

Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”
“Tidak,” kata pemilik kebun.
“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”
“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.
Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”
Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”
Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”
Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”
Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”
Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”

Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?
“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.
Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.

Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?

Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.
Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”
Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”
“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.
“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka.”
“Dia katakan kamu tuli.”
“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Dia katakan kamu lumpuh.”
“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah rahimahullahu.

Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.
Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?
Wallahul Muwaffiq.

***

sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=777

Wanita Penggenggam Tauhid ASIAH & MASYITOH

field_in_the_sun_1280x800-667556Alkisah di negeri Mesir, hiduplah dua orang wanita di sebuah istana Fir’aun yang megah. Yang pertama yaitu seorang Ratu, isteri Fir’aun yang bernama Asiah, dan yang kedua adalah seorang wanita yang pekerjaan sehari-harinya adalah menyisir rambut puteri Fir’aun, maka ia dinamakan sebagai Masyitoh (artinya dalam bahasa Indonesia yaitu wanita tukang sisir).

Kedua-duanya adalah wanita yang beriman kepada Allah dan mengingkari Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan.

(Kisah ini diceritakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Katsir menghasankannya dalam kitab Tafsirnya dan Kitab Al Bidayah Wa Nihayah).

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir’aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Secara spontan Masyitoh mengucap ”Bismillah” (Dengan Menyebut Nama Allah) sambil memungut sisirnya. Maka keimanannya yang selama ini ia tutup-tutupi akhirnya secara tak sengaja terucap juga karena lisannya yang senantiasa berdzikir mengingat Allah.

Tatkala Masyitoh mengucapkan bismillah, maka puteri Fir’aun terkejut lalu ia bertanya, “Apa yang kau maksud Allah itu ayahku?” rupanya ia hanya tahu bahwa tuhan itu adalah Fir’aun yg mengaku sebagai tuhan. Maka Masyitoh menjawab, ” Tidak tetapi Allah adalah rabbku (Tuhanku) rabb kamu dan rabb ayah kamu,” Puteri Fir’aun terheran karena ada tuhan selain ayahnya. Lalu ia mengancam Masyitoh, “Aku akan sampaikan hal ini kepada ayahku.” Maka Masyitoh tanpa gentar berkata, “Silahkan.”

Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini ?” “Betul, Baginda Raja yang lalim. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.”jawab Masyitoh dengan berani.

Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitoh. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama anak-anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa anak-anaknya menuju ke atas kuali tersebut.

Anak yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya telah di lempar ke dalam kuali, dengan tegar Masyitoh menyaksikan semua itu, hingga tibalah giliran anaknya yang masih bayi akan dilempar, menghadapi hal ini Masyitoh sempat ragu. Namun karena kehendak Allah, maka anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Wahai ibu bersabarlah engkau berada di atas kebenaran, sesungguhnya itu adalah sakit yang sedikit dan sebentar. Sesungguhnya azab akhirat lebih keras dan dahsyat.” Maka demi mempertahankan keimanannya kepada Allah masuklah Masyitoh dan anaknya ke dalam kuali yang mendidih.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah salallahu alaihi wa salam berkata, “Tatkala saya diangkat naik ke langit lalu saya melewati bau yg semerbak, kemudian saya bertanya: ” Bau apa ini yang wangi?” Maka jibril menjwab “Ini adalah wanita tukang sisir di istana Fir’aun dan anak-anaknya”

Kemudian dengan congkaknya Fir’aun memberitahukan kepada isterinya Asiah, wanita yang salihah, apa yang telah diperbuatnya kepada Masyitoh dan anak-anaknya. Mendengar hal itu lalu Asiyah berteriak dan berkata kepadanya, “Celaka engkau Fir’aun alangkah lancangnya engkau kepada Allah,” Lalu Asiah bersyahadat menyatakan keimananya kepada Allah di hadapan Fir’aun, kemudian Fir’aun memanggil bala tentaranya dan memerintahkan agar isterinya disiksa Lalu Asiah disiksa dan dicambuk.

Ketika siksaan semakin pedih, darah mengalir deras, Asiah menatap ke langit dan berkata sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam ayat Al-Qur’an: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Lalu naiklah doanya membumbung tinggi dan menembus pintu-pintu langit didengar oleh Allah tabaroka wa ta’ala. Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya “Lalu Allah singkapkan langit dan Allah memperlihatkan rumahnya di surga,” Hingga ketika siksa semakin keras dan azab semakin pedih maka Asiyah malah tersenyum sehingga Fir’aun menjadi semakin marah.Mengapa ia tersenyum? Karena ia melihat rumahnya di surga, setelah itu berhembuslah nafas Asiah yg terakhir.

Demikian kisah Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”

~~~ * ditulis ulang dengan sedikit tambahan dari kajian audio “Wanita Pemegang Bara Api”

Aku, Istri yang Kecanduan Internet

internetArtikel ini diambil dari: http://eramuslim.com/oase-iman/aku-istri-yang-kecanduan-internet.htm

~~~~~~

oleh: Ida M. Robit

Demam Facebook di seluruh dunia, para peselancar di dunia maya pun tak mau ketinggalan turut berjungkir balik melawan ombak informasi dan arus deras privacy yang bertubi-tubi menerjang tiap facebook pribadi yang rata-rata menggunakan nama lengkap aslinya. Tentu saja bagi yang jujur, berniat semata-mata untuk menyambung tali silaturrahim dengan kawan-kawan lama di masa sekolah dulu, dari jaman SD, SMP, SMU (dulu SMA) dan kuliah (Akademi maupun Perguruan Tinggi, dst.) akan menggunakan nama aslinya. Namun tidak sedikit yang menggunakan nama samaran, dan ia bebas berekspresi di facebook dengan sesuka hatinya. Bahkan ada yang pura-pura menjadi artis, kemudian ia melayani berbagai pertanyaan penggemarnya seolah-olah ia adalah sang tokoh pujaan yang dimaksud. Sungguh, ini yang disebut sebagai pembunuhan karakter. Banyak juga yang menampilkan foto di headshoot dengan wajah yang ganteng atau cantik namun bukan dirinya sendiri, diambil dari image artis-artis mancanegara sehingga banyak mengundang para facebooker yang ingin dikonfirmasi menjadi temannya. Fenomena seperti ini bisa dibilang memprihatinkan, karena bagi orang-orang yang “sakit jiwa” atau “penjahat” pun bisa bebas beraksi. Perjalanan Aku Mengenal Internet Sejak sepuluh tahun yang lalu mengenal internet di tempat bekerja, hidupku memang sudah tidak bisa jauh-jauh dari dunia virtual yang begitu mengagumkan bagiku. Dalam satu waktu yang singkat, aku bisa “kontak” dengan beberapa teman lama yang jaraknya jauh bahkan ada yang di Amerika atau negara lain, tanpa mengeluarkan ongkos banyak dan tidak usah pakai tenaga untuk berjalan atau mengeluarkan suara. Hanya jemariku yang menari-nari di tuts keyboard komputerku saja, tanpa harus berbicara dan mengatur mimik atau bahasa tubuh. Sangat cocok bagi diriku yang malas keluar rumah, bergaul dengan Ibu-ibu tetangga yang rajin berkumpul tiap sore di sekitar rumah atau pagi harinya ketika berkerumun mengelilingi gerobak sayur. Aku memang tipe orang yang malas keluar rumah kalau belum mandi, atau belum berpakaian rapi, jadi dalam bersosialisasi sungguh kurang optimal. Banyak yang bertanya kenapa aku jarang keluar rumah, hanya kujawab aku lebih suka di dalam rumah membaca buku, majalah, tabloid atau koran dan “komputeran”. Mereka tidak bisa bertanya lebih jauh lagi karena sebenarnya tidak mengerti apa maksudku, apa yang aku lakukan dengan komputer sebagai Ibu Rumah Tangga? Aku telah begitu familiar dengan yang namanya e-mail, mailing list (biasa disebut milis), blog, situs, search engine dan lain sebagainya. Aku pernah jadi ratu chatting di kantorku dulu waktu bekerja sebagai pustakawati, sampai ditegur oleh atasan, maklum baru kenal internet waktu itu dan status masih single jadi apa salahnya bergaul sebanyak-banyaknya di dunia virtual? Sudah puas chatting, aku rajin membuka situs-situs Islami yang memberikan siraman rohani positif bagi diriku. Karena aku juga merupakan anggota Youth Islamic Study Club di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, aku pun bergabung ke milis komunitas remaja masjid tersebut dan memperoleh banyak ilmu tentang Agama Islam yang sungguh variatif pandangan dan alirannya, namun lucunya sampai saat ini aku masih menganggap diri ini sangat awam dan ilmu Agamaku masih dangkal. Dengan bantuan internet juga aku bertemu jodoh, dengan suamiku aku hanya berkenalan kurang-lebih tiga bulan dan langsung menikah. Waktu itu kami dicomblangi oleh seorang ikhwan, namun karena kami merasa bukan sebagai “ikhwan” dan “akhwat” akhirnya kami bergerilya sendiri untuk mempercepat proses ta’aruf yang ternyata ditangguhkan oleh sang ikhwan yang adik kelas di almamater suami itu. Untung saja, kami “nakal” dengan cara menjalin komunikasi sendiri melalui e-mail, sempat “gombal-gombalan” sedikit dan akhirnya menikahlah kami hingga saat ini sudah memiliki dua orang gadis kecil berusia lima dan dua setengah tahun. Insya Allah kami bahagia dengan pernikahan ini. Setelah Menjadi Istri, tetap Kecanduan Internet Karena aku kesepian di rumah, suami tiap hari berangkat pagi dan pulang malam, internet adalah hiburan yang menemani hidupku. Aku selalu berusaha mencari sumber-sumber yang positif bagiku untuk menambah ilmu. Pada awal pernikahan, mungkin tidak ada masalah soal pengaturan waktu karena kami belum dikaruniai anak. Aku sempat kosong selama enam bulan sebelum hamil anak pertama. Setelah punya bayi, aku sempat meninggalkan internet, namun setelah anak pertama sudah agak besar aku kembali maniak internet. Aku juga menjadi Ibu rumah tangga yang nge-blog alias blogger yang tiap hari mengelola blog dengan mem-posting artikel atau curahan hati atau melihat-lihat foto teman sesama blogger dan membaca-baca atau me-reply posting mereka. Kami sahut-sahutan di dunia virtual yang tak terbatas ruang dan waktu. Aku sering meng-upload foto-fotoku sekeluarga terutama anak-anakku yang lucu, berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Aku mulai punya blog pertama kali di Multiply, tapi entah kenapa malas membuka akun di situs lain termasuk Friendster. Ketika memutuskan untuk membuka akun di Facebook itu pun hanya ikut-ikutan teman-teman di milis penggemar salah satu pengarang wanita yang eksis di dunia perindustrian buku yang sangat aku cintai, dan aku pun terjun bergabung di gateway pertemanan yang arusnya cukup deras. Aku terpesona dengan keajaiban teknologi yang membuatku bertemu dengan teman-teman lamaku dari masa kecil, remaja sampai menjelang dewasa. Facebook melepas rinduku pada mereka semua. Kami saling memberikan deretan kalimat berita terbaru tentang diri masing-masing, sharing foto-foto lama dan baru. Berkomentar yang aneh-aneh, lucu, menghibur dan kadang menasehati. Waktuku banyak tersita untuk Facebook, seringkali aku malas masak karena keasyikan di depan komputer. Setiap pagi, putri sulungku berangkat sekolah hampir berbarengan dengan suamiku dan putri ke-duaku masih tidur, nah langsung saja aku buka internet dan berjam-jam terlena sampai putri sulungku pulang sekolah jam sebelas siang dan adiknya bangun tidur (yang kecil ini memang bangunnya siang, karena tidurnya larut malam). Sementara Ibu-ibu lain memasak, aku malah “internetan”. Jam makan siang, aku cuma menggoreng bahan olahan yang sebenarnya kalau keseringan tidak baik untuk anak-anak apalagi orang dewasa. Jarang masak sayur, akhirnya aku menggantinya dengan banyak buah-buahan atau camilan snack-snack, keju, sosis, nugget dan lain-lain yang lumayan mahal harganya. Aku pun jadi boros dalam pengeluaran untuk bahan makanan, karena sering juga membeli makanan matang dari warteg atau restoran fastfood yang ada di pinggir jalan dan mall kecil di depan perumahan tempat tinggalku. Kadang juga, karena sedang asyik, aku mengusir putri-putriku yang menghampiriku ke meja komputer. Begitu ingat, aku sering menyesal dan memeluk mereka. Namun kalau sudah tenggelam dengan internet, aku agak cuek dengan mereka. Sudah pasti, inilah godaan syaithan yang terkutuk! Klimaks dalam Berinternet Akibat sering upload maupun download foto-foto di Facebook, tagihan pemakaian internet di rumahku membengkak hingga limaratus ribuan rupiah! Aku kaget, tentu saja suami menegurku. Aku juga sempat membaca kekisruhan para pasutri yang hubungannya makin memburuk akibat Facebook, ada yang bercerai melalui Facebook, ada yang tidak mau mencantumkan status “menikah” di Facebook membuat mangkel pasangannya karena terbukti tidak adanya keterbukaan atau kejujuran antar pasangan. Sebenarnya apa masalahnya yang paling mendasar? Facebook adalah parameter kejujuran! Jika kita tidak jujur, masalah akan menumpuk. Kemudian suami mengingatkan, ada kasus anak kecil yang meninggal dunia karena ditinggal “internetan” oleh Ibunya! Astaghfirullaah … separah itukah? Lalu sahabatku semasa SMA lewat sms-nya bercerita bahwa ia takut pasang internet karena khawatir akan menimbulkan masalah seperti tetangganya yang sering ribut karena sang istri kecanduan internet. Lalu bagaimana dengan aku sendiri? Kuingat-ingat lagi kelalaian apa saja yang sudah kuperbuat karena sudah kecanduan internet akut, dan berapa banyak manfaatnya dibanding mudharat-nya. Mengutip dari harian KOMPAS, Minggu 15 Maret 2009, “Orang yang kecanduan membangun pertemanan lewat internet tanpa disertai pertemuan fisik dengan orang tersebut akan kehilangan pijakan dengan dunia nyata. Ia masuk dalam dunia simulasi yang seolah-olah punya banyak teman, padahal tidak.” Benar juga, ya? Apakah semua teman-teman yang bisa saling menyapa dan bertukar kabar berita serta aktivitas itu care dengan kita? Apakah mereka bisa memberikan solusi bila kita memiliki masalah dalam rumah tangga secara nyata? Mungkin hanya sekedar kata-kata, yang meskipun tulus namun kita butuh sesuatu yang lebih nyata seperti materi bilamana kita bermasalah dalam hal keuangan dan uluran tangan secara fisik bila kita sakit atau mengalami kecelakaan. Kita harus tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang berada di dekat kita, seperti tetangga dan guru di sekolah anak (aku seringkali malas menjemput anak, karena terus duduk di depan meja komputer). Menjaga silaturrahim dengan sanak-saudara lebih diutamakan dari acara-acara reuni dengan teman-teman sekolah yang saat ini sedang trend. Yang terakhir masalah yang cukup pelik meski sederhana adalah berat badanku secara konstan menjadi lebih mudah naik, mungkin karena kurang bergerak dan terlalu banyak duduk akibat “internetan”, belum lagi ditambah mengemil dan terutama karena pola makan menjadi kacau dari segi ketidakteraturan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Suami pun complain dengan tubuhku yang terus melar tetapi susah kurusnya. Ini adalah peringatan bagiku, karena menyenangkan hati suami adalah kewajibanku sebagai istri, seperti juga menjaga dan mendidik anak-anak kami dengan baik. Ya Allah, ampuni aku yang telah melakukan banyak kelalaian, yang mungkin aku termasuk istri yang mendzolimi anak-anak dan suami, namun tidak aku sadari! Solusi, demi Kewajiban sebagai Istri yang Bertanggung Jawab Akhirnya kusadari bahwa semua ini tergantung kesadaran diri untuk memanfaatkan internet dengan bijaksana. Aku tidak bisa secara drastis meninggalkan internet, namun sedikit demi sedikit mungkin aku akan mengatur lagi porsi untuk berinternet dengan sebijak mungkin, hingga segala aspek kehidupan akan kembali menjadi seimbang. Memang aku mengakui di balik segala kelebihan yang diperoleh dari “gudang dari segala gudang ilmu di dunia” yang bernama World Wide Web ini, terdapat bahaya yang mengancam bagi setiap individu, baik dari segi psikologis, ekonomis, bahkan keharmonisan rumah tangga pun dapat terganggu oleh kehadiran internet. Dari segi keimanan, tentunya internet adalah suatu godaan yang hebat bagi yang tidak kuat menjaga hati dan kata-katanya di dunia maya yang jelas semu ini karena pemakai internet masih tersembunyi di “balik layar” yang semarak dengan fasilitas menjalin hubungan antar manusia yang beraneka karakter. Memang jika tanpa internet, siapa pun bisa menjadi orang yang tidak jujur, tidak setia, penipu dan sebagainya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa internet adalah sebuah sarana yang sangat berkompeten untuk menunjang perilaku negatif bagi semua insan. Sebagai Ibu Rumah Tangga, Alhamdulillaah segala informasi yang kuserap dan kubagikan pada teman di dunia maya adalah hal yang positif. Bahkan ketika belum menjadi seorang Istri dan Ibu, aku tidak hobby mengakses pornografi dari internet, dan ketika aku sedang gandrung chatting aku hanya berani “cuap-cuap” di layar mengumbar kata tetapi tidak hobby untuk bertemu alias “kopi darat” dengan orang yang belum dikenal, kecuali seseorang yang sudah benar-benar serius akan menjalin hubungan ke arah pernikahan dan Alhamdulillaah hanya bisa dihitung dengan tiga jari tangan (itu pun atas restu Ibundaku tercinta). Akhirnya aku dan suami pun mengakui bahwa internet tpernah berjasa terhadap “pertemuan” kami yang indah dan atas niat ibadah kami melakukan pernikahan, sehingga sampai detik ini aku masih bisa menggunakan internet di rumah atas ijin suami yang sudah pasti mengerti bahwa istrinya tidak bisa dijauhkan dari internet. Kini, tinggal aku sebagai Istri yang baik (begitu kan, harapan semua istri?) yang harus pandai-pandai mengelola waktu di segala bidang agar semuanya menjadi selaras, harmonis dan diridhoi oleh suami dan terutama Allah SWT, sehingga “kecanduan internet” akan berubah lebih baik lagi menjadi sekedar “kebutuhan internet” yang memadai dan dalam batas wajar. Semoga aku bisa menjalankannya, amiiin! Insya Allah …

Resep dari Ibu Mertua

daun1Ibu mertuaku sungguh baik sekali. Jika sering kudengar kasus ‘konflik’ antara mertua dan menantu (biasanya ibu mertua dan menantu wanita) maka aku sungguh bersyukur memiliki ibu mertua seperti beliau.

Suamiku itu anak bungsu dari enam bersaudara, ibunya (mertuaku) dulu pas hamil suamiku beliau sudah berumur tiga puluhan. Kini umurnya di pertengahan enam puluhan, jadi beliau seperti ibu dan nenekku sekaligus.

Tiap kali aku dan suamiku datang ke rumah beliau pasti meja makannya penuh dengan masakan enak beraneka ragam. Kata kakak iparku  yang tinggal dengan ibu mertuaku ini, “yang kayak gini nih (maksudnya masakan enak-enak ini) adanya pas kita datang aja”. Wah …rasanya tiap pulang dari rumah mertua berat badan jadi naik berapa kilo gitu…Soalnya mau nggak mau (dan emang  mau sih ^_^) kita harus menyantapnya.

Oh ya, selain sifat ibu mertuaku yang ramah dan suka bergurau dengan menantunya beliau juga sering mengajariku bagaimana ‘merawat’ suamiku. Dan ini besar manfaatnya lho bagiku sebagai ‘the next woman after her’ (maksudnya aku ini wanita kedua dalam kehidupan suamiku setelah ibunya).

Jadi ibu mertuaku, pas mijitin suamiku, bilang sama aku “Mbak, begini ya cara memijitnya..” sambil memperagakan gaya jari jemarinya menekan-nekan punggung suamiku, “Kalau udah kerasa ada yang bruntus-bruntus kaya pasir, biasanya ini nih yang bikin pegel..” lanjut beliau, aku lalu manggut-manggut. Wah ternyata ibu memang berpengaruh besar pada anaknya ya, soalnya aku jadi ingat pas mijit suami di rumah, dia sering bilang “Nah ini  pegel banget yang,  kerasa  bruntus-bruntus  kan …”  Hehe…ternyata hasil berguru dari ibunya.

Lain waktu ketika aku berkunjung ke dapur mertuaku, beliau dengan ramah mengajari cara memasak ini itu yang jadi kesukaan suamiku, wah ternyata pengaruh juga lho ke selera makan suamiku, karena ketika kupraktekin resep masakan dari ibu mertuaku itu suamiku makannya jadi lebih lahap….

Ternyata kebiasaan suami kita dipengaruhi oleh  keluarga dimana ia telah berinteraksi dengan mereka selama bertahun-tahun, jadi kukira apa susahnya kita belajar dari keluarga suami bagaimana mereka memperlakukannya sehari-hari.

Sepanjang apa yang kita niatkan dalam melayani suami untuk beribadah kepada Allah yaitu dengan tulus ikhlas menjalankan kewajiban kita sebagai seorang isteri, insya Allah segalanya jadi terasa ringan.

Gadis-Gadis Pondok

daun2Dalam sebuah kesempatan, di akhir bulan Ramadhan yang lalu, aku bertemu dengan gadis-gadis ini di sebuah masjid dekat rumahku.mereka jumlahnya kira-kira tiga belas anak. Ya, mereka remaja belia yang umurnya berkisar antara tiga belas hingga empat belas tahun.

Awalnya kukira mereka umurnya lima atau empat tahun di bawahku , maklum badan mereka tinggi-tinggi bagi anak umur segitu, kemudian pakaian yang mereka kenakan membuat penampilannya menjadi lebih dewasa, yaitu gamis dan jilbab panjang. Lagi pula aku tidak memperhatikan mereka dengan seksama, ya itu tadi kukira mereka teman-teman akhwat yang udah pada kuliah.

Dan tahu nggak apa yang bikin mereka ketahuan umur aslinya? Jadi waktu itu aku duduk di dekat salah satu dengan mereka, lalu remaja ini dengan gayanya yang kekanak-kanakan meminta ijin mengambil tasnya yang ada di dekatku. Tahu kan gimana gaya anak-anak, ya cengar-cengir gitu, dengan sikapnya yang masih polos (misal: ada yang mendekatiku dengan berlari-lari dan gedubrak..!! mendaratkan dirinya didepanku hehe…) kalau akhwat yang sudah dewasa kan lebih anggun…(yaah maksudku rata-rata akhwat dewasa ya sikapnya dewasa lah)

Okelah…gaya boleh kekanak-kanakan namun jangan tanya soal pemahaman dien-nya…akhwat dewasa pun bisa kalah. Maklum saja mereka adalah gadis-gadis pondok di sebuah daerah kira-kira dua jam naik bis dari kota yang kutinggali ini. Katanya mereka sedang ada kegiatan di masjid ini, tentu saja sambil didampingi ustadzahnya yang kebetulan hari itu sedang tidak ikut menginap di masjid.

Suatu ketika aku berkesempatan bertanya dengan salah seorang dari mereka:

Adhek pondoknya apa sih…maksud mbak apa pondok muhammadiyah gitu, atau pondok NU?”

Enggak kok mbak…kita pondoknya mengikuti pemahaman salafus shalih” Begitu jawabnya,

Wah bagus dong dhek, ada tahfidz (hafalan) al-Qur’an juga?”

Iya, mbak”

Adhek udah hafal juz berapa?”

Baru juz dua puluh tujuh..” (itu artinya mereka sudah hafal juz 30, 29, dan 28. Subhanalloh..)

Tapi kalau tidak sering dibaca dalam sholat, hafalannya bisa lupa lho mbak” ujarnya, “Jadi kami sering latihan hafalan dengan teman-teman di kamar (maksudnya waktu di pondoknya)”

Oh begitu..”gumamku

Kemudian suatu saat kudengar salah seorang dari mereka bercanda:

Wah mbak…lama-lama kita jadi betah lho disini…”

Kenapa sih dhek…?”

Disini makanannya enak-enak (tertawa lebar) habis tiap hari lauknya kalo nggak telur ya ayam..”

Lha emang di pondok enggak…?”tanyaku lagi

Di pondok emang di kondisikan begitu, biasanya dalam seminggu lauknya ikan asin, tempe, tahu dan telur sekali seminggu”

Aku cuma bisa tersenyum….mengingat betapakah diriku dibandingkan kehidupan mereka yang begitu sederhana…

Ah..coba lihat bagaimana gadis-gadis belia ini dengan pemahaman ilmu diennya, dengan hafalannya, dengan bajunya yang tertutup rapi, sekarang coba kita lihat gadis-gadis sebaya mereka di luar sana, sudah sering kita dengar anak-anak SMP, SMA yang hamil dengan pacarnya, anak-anak perempuan yang masih belasan tahun berkelahi dengan teman-teman sekolahnya, ada lagi yang lebih menyeramkan, anak SMP yang beradegan tak senonoh kemudian disiarkan lewat layar HP….Masya Allah,mau jadi apa generasi Muslim kita..?

Untungnya masih ada gadis-gadis belia nan salihah ini, mereka bagaikan mawar-mawar di antara semak belukar.

~~~

Adik-adikku jadilah Muslimah yang salihah, didiklah anak-anakmu kelak menjadi Muslim-Muslimah yang mengharumkan dan mengembalikan kejayaan Islam dengan ajaran Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para sahabat dan tiga generasi awal umat Islam. Amin

~~~

Suatu saat kucari-cari di masjid yang terlihat sepi tanpa kehadiran mereka satupun, dan ketika kutanyakan pada salah seorang akhwat, ia bilang bahwa anak-anak itu sedang memanjat menara masjid (lewat tangga yang berada di dalam menara tersebut)

Masya Allah….gadis-gadis pondok itu..!

Ah…bagaimanapun, mereka masih anak-anak…^_^

Rumahku Berhantu ?

houseWaktu itu awal-awal aku menikah. Aku berniat membeli sesuatu di warung kelontong seberang rumah kontrakanku dan suamiku. Selesai membeli aku beranjak pergi meninggalkan warung, namun kemudian ibu penjual itu bertanya padaku,

Mbak yang tinggal di rumah kuning itu?”

Iya, bu” jawabku

Nggak serem apa mbak?” tanyanya serius

Lho memangnya kenapa bu?” sahutku balik bertanya, bingung sih baru denger omongan macam begini

Disitu kan dulu sering ada penampakan, banyak cerita serem” ucapnya berbisik

Wah…!! terus terang aku kaget juga dengan ucapannya

Alhamdulillah, selama tinggal disitu ndak ada apa-apa kok bu” sahutku.

Penampakan apa ya? pikirku, paling adanya tikus, kalau itu sih memang sering nampak bersliweran di rumah he..he

Tidak cuma sekali ini ibu-ibu di tetanggaku kasak-kusuk soal rumahku ini, tetangga sebelah persis malah pernah bilang, “Bu..(waktu itu aku agak kikuk juga dipanggil ibu… lha wong ibu itu usianya seibuku kok),..” dulu yang nempati rumah sebelumnya pernah kejatuhan ular gedhe lho, dia sedang hamil besar dan kejatuhannya pas dia sedang tidur di kamar”

Aku cuma nyengir aja, kemudian kusampaikan pada ibu tersebut bahwa sejauh ini kami baik-baik aja, alhamdulillah.

Oke deh, soal ular memang sering kulihat dirumah tersebut, soalnya kan rumah kami dekat dengan saluran air, mungkin saja ular-ular kecil tersebut datang dari sana. Atau memang seperti yang disabdakan Nabi (saw) bahwa jin bisa menyerupai ular.

Yang lebih seru lagi, waktu aku bertemu ibu yang katanya pernah kejatuhan ular itu. Kami bertemu di metro mini yang aku naiki pas lewat didepan rumahku. Ibu yang duduk tak jauh disebelahku berkata, “Mbak saya dulu pernah ngontrak disana lho…” Setelah basa-basi sebentar, ibu itu lalu melanjutkan,

Disana aman-aman aja kan mba?”

Iya bu, aman-aman saja kok” sahutku, paham dengan maksud ibu ini

Oh ya udah kalo gitu” ucapnya, mungkin beliau segan bercerita panjang lebar, barangkali nggak ingin bikin aku takut.

Takut? iya deh manusia mana sih yang nggak takut kalo lihat makhluk serem, namun kalo ketakutan itu dibawa-bawa sampai mempengaruhi pikiran kita nah sebagai orang yang beriman itu yang seharusnya kita hindari.

Dunia jin memang nyata adanya, karena Rasulullah salallahu alaihi wa sallam yang telah mengabarkan hal itu kepada kita, lagipula, seperti manusia, mereka makhluk Allah juga. Dan jin ada yang kafir dan ada juga yang muslim, sebagaimana riwayat sebuah hadist yang menyatakan bahwa suatu saat pernah Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam membacakan Al-Qur’an kepada sekelompok jin, dan mereka kemudian beriman setelah mendengar wahyu yang disampaikan oleh Nabi.

Pernah juga, Rasulullah salallahu alaihi wassalam mencekik jin yang sedang mengganggu shalat beliau, bahkan jin pernah mengajarkan Abu Hurairah radiallahu anhu ayat Kursi untuk mengusir gangguannya.

Jadi, jin memang ada disekitar kita, dan kita tidak perlu takut selama lisan dan hati kita senantiasa berdzikir mengingatNya. Ia makhluk Allah juga sama seperti kita, malah manusia lebih tinggi derajatnya daripada jin jika ia beriman. Namun jika manusia kafir malah ia lebih buruk keadaannya daripada binatang ternak.

Rasulullah salallahu alaihi wassalam menasehati kita supaya sering melantunkan bacaan Al-Qur’an , sehingga rumah kita tidak seperti kuburan, dan jin ataupun setan pasti tidak berani mengganggu kita. Namun jika ayat Al-Qur’an cuma dijadikan sebagai pajangan di tembok, ya tidak ada fungsinya. Ayat Al-Qur’an fungsinya kan untuk dibaca dan diamalkan, tapi bila hanya dipajang sepertinya kok cuma jadi hiasan dinding saja ya? Atau yang lebih parah jika ia menganggap ayat yang dipajang itu bisa mengusir setan, wah bisa jatuh ke syirik tuh. Naudzubillahi min dzalik. Hanya Allah lah yang bisa menolak bahaya dan mendatangkan manfaat.

Begitulah cerita mengenai ‘rumah berhantu’ yang pernah kami tinggali kurang lebih satu setengah tahun itu. Sekarang aku dan suamiku sudah tidak menempati rumah itu lagi karena habis masa kontraknya, padahal banyak kenangan manis disana lho (halah…)

Asalkan rumah kita selalu terdengar baca’an Al-Qur’an, dan penghuni rumah pun mengamalkan ajaran Al-Qur’an, insya Allah rumah kita akan terasa sejuk dan menyenangkan, seperti apa yang Rasulullah salallahu alaihi wassalam ucapkan “Baiti Jannati” Rumahku, surgaku. Biarpun kecil dan sempit, namun yang menghuni berhati kaya, insya Allah rumah kita bisa menjadi jannah didunia. Amin