Kisah Seguci Emas

Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Harist

Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘algreen-mountains-with-trees-lanscape-wallpaperaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا
Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”
Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”
Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”
Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”
Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.

Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?
Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.
Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya.

Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.
Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.

Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:
وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”

Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”

Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.
Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.
Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.

Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.
Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.
Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.

Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.
Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:
Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.

Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.

Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.
Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.
Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?

Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”
Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.
Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.

Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”
“Tidak,” kata pemilik kebun.
“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”
“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.
Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”
Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”
Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”
Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”
Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”
Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”

Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?
“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.
Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.

Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?

Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.
Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”
Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”
“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.
“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka.”
“Dia katakan kamu tuli.”
“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Dia katakan kamu lumpuh.”
“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah rahimahullahu.

Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.
Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?
Wallahul Muwaffiq.

***

sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=777

Advertisements

Jalan Tol Menuju Surga

Ketika Allah menciptakan surga dan neraka beserta amalan-amalan menuju keduanya, katika itu terjadilah dialog antara Allah Ta`ala dengan Jibril `Alaihissalaam. Dialog itu diberitakan oleh Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shalallahu `Alayhi Wasallam bersabda:

”Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, diutuslah Jibril kepada surga, maka Allah berfirman:`pergilah ! lihatlah kepada surga itu dan kepada apa yang telah aku sediakan untuk mereka yang ingin menuju surga itu.’ maka Jibrilpun pergi dan melihat kepada surga itu dan kepada apa yang telah Allah sedikan bagi calon penghuninya.

Maka Jibrilpun kembali dan berkata `demi kemulyaanmu Yaa Allah tidak akan ada seorangpun yang mendengar tentang surga itu, kecuali pasti akan memasukinya.’ Maka Allah memerintahkan surga dan memenuhi jalan-jalan menuju surga itu dengan Al Makarih (berbagai ketidaksenangan).

Maka Allah memerintahkan Jibril: `kembalilah, dan lihat kepada surga itu dan kepada apa yang telah aku sediakan untuk calon penghuninya!” maka Jibrilpun melihat kembali kepada surga itu, kemudian kembali, maka Jibril berkata `demi kemulyaanmu Yaa Allah, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa memasuki surga.’.

Kemudian diutuslah jibril ke neraka, Allah berfirman: `pergilah, lihatlah kepada neraka itu dan kepada apa yang telah aku persiapkan bagi calon penghuninya.’ maka Jibrilpun melihat kepada neraka itu, maka tiba-tiba ia melihat api neraka itu saling bertumpuk-tumpuk, kemudian ia kembali dan berkata: `demi kemulyaanmu Yaa Allah, tidak akan ada seorangpun yang akan masuk neraka kalau dia mendengar tentang siksa neraka’, lalu Allah memerintahkan neraka, lalu dipenuhilah jalan menuju neraka itu dengan asy syahawaat, lalu allah berfirman: `pergilah dan lihatlah kepada neraka itu’, maka jibrilpun pergi melihat kemudian kembali dan berkata: `demi kemulyaanmu Yaa Allah aku kawatir tidak ada seorangpun yang selamat dari neraka kecuali pasti akan memasukinya’.” (H.S.R.Muslim)

Rahasia Dibalik Nikmatnya Maksiat Dan Beratnya Berbuat Taat

Dalam sabda Rasulullah Shallallahu `alayhi wasallam diatas diterangkan kepada kita bahwa Allah telah menciptakan pada jalan kesurga itu ”al makarih” (berbagai ketidak senangan) dan diciptakan pula pada jalan menuju ke neraka ”Asy-syahawat” (berbagai kesenangan).

Manusia yang semulanya dipastikan semuanya akan menempuh jalan ke surga, namun dengan diletakkannya Al-Makarih itu disekeliling surga, maka hampir tidak ada manusia yang mau menempuh jalan ke surga itu karena demikian besar godaan yang muncul dari Al Makarih tersebut.

Demikian pula sebaliknya, manusia yang semula dipastikan tidak akan ada yang mau menempuh jalan ke neraka, namun setelah Allah letakkan Asy-syahawat pada jalan menuju neraka tersebut, maka hampir saja seluruh manusia berbondong-bondong menempuh jalan ke neraka karena demikian hebatnya godaan Asy-Syahawat tersebut.

Dua perkara diatas sudah cukup membuat kita khawatir terhadap diri kita. Namun tidak cukup sampai disitu, masih ada faktor lain yaitu yang datang dari diri manusia itu sendiri yakni sifat dasar manusia yaitu tidak sabar dan tergesa-gesa yang menyebabkan manusia itu gampang putus asa dalam dalam menempuh jalan ke surga dengan berbagai al makarih tersebut dan gampang tersedot masuk kedalam neraka dengan berbagai godaan syahwat.

Sehingga wajar ketika orang itu merasa mudah dan nikmat ketika bermaksiat kepada Allah, sementara untuk berbuat ta`at rasanya sangat berat.

Terbebas dari Al Makaarih dan Asy Syahawaat

Demikian beratnya jalan menuju surga, sehingga seakan-akan tidak akan ada manusia yang mampu menempuh jalan kesurga tersebut. Namun Alhamdulillah, Allah Ta`ala dengan kasih sayangnya memberikan sebuah jalan alternatif bagi kita untuk menuju ke surga.

Dimana jalan tersebut adalah jalur bebas hambatan alias jalan tol sehingga kita bisa terbebas dari segala macam gangguan tadi dalam upaya kita menempuh jalan menuju surga.

Hal ini diberitakan Rasulullah Shalallahu `Alalyhi wasallam :“Dan barang siapa menempuh satu jalan, yang dijalan itu ia tempuh dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”(H.R.Muslim).

Dari hadits diatas, dijelaskan kepada kita bahwa salah satu cara agar kita dimudahkan olah Allah jalan menuju surga yaitu dengan menuntut ilmu. Muncul pertanyaan, ilmu yang mana ? berhubung ilmu itu ada bermacam-macam.

Ilmu Apakah yang dimaksud ?

Berhubung definisi ilmu yang sedang kita bahas ini adalah istilah agama, maka pengertiannya harus dikembalikan kepada agama. Maka dalam hal ini ada beberapa Ayat Al Qur`an dan hadits Nabi Shallallahu `alayhi wasallam yang menerangkan definisi ilmu.

Antara lain seperti firman Allah Ta`ala dalm surat Al Mujadalah (11): “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat .”(Q.S. Al Mujadalah (11)).

Didalam ayat ini Allah Ta`ala memberitakan bahwa Allah akan mengangkat ke beberapa derajat yang lebih tinggi bagi 2 golongan, yaitu orang-orang yang beriman dan yang berilmu. Kemudian Rasulullah Shallallahu `alayhi wasallam juga menerangkan mengenai kedudukaan ilmu.

Antara lain dalam sabda beliau Shallallahu `alayhi wasallam: “Para ulama adalah pewaris para nabi, namun mereka tidak mewariskan dinar maupun dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut sungguh ia telah mendapatkan bagian yang banyak dari warisan tersebut” (H.R Abu dawud dan Tirmidzi).

Di dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu `alayhi wasallam menjelaskan bahwa warisan terbaik bagi manusia adalah ilmu, bukan harta.

Sebab ilmu merupakan warisannya orang-orang termulya yaitu para Nabi, sehingga barang siapa yang ingin mengambil warisan yang terbaik, maka hendaknya ia mengambil ilmu para Nabi tersebut. Dan barangsiapa yang ingin mendapatkan warisan tersebut dalam jumlah banyak, maka hendaknya ia mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka dengan cara mempelajarinya. Dan ilmu yang diajarkan oleh para Nabi tidak ada lain kecuali Ilmu Agama.

Kemudian lebih tegas lagi Rasulullah Shallallahu `alayhi wasallam menerangkan mengenai definisi ilmu antara lain dalam sabda beliau Shallallahu `alayhi wasallam: “Barangsiapa dikehendaki Allah atasnya kebaikan niscaya ia akan difahamkan akan agamanya” [H.R Al Bukhary dan Muslim].

Maka tegaslah dalam hadits ini bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama, bukan yang selainnya. Yaitu ilmu yang menjadikan orang tersebut faham tentang agamanya, dimana dengan memiliki ilmu ini, mengindikasikan bahwa orang tersebut termasuk orang yang Allah Ta`ala kehendaki kebaikan atasnya, dan ilmu tersebut adalah.

Menuju Surga Tanpa Hambatan

Setelah kita mengetahui karakteristik jalan menuju surga, kemudian mengenal keutamaan dan kedudukan ilmu agama, maka mestinya kita mengupayakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan ilmu tersebut. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkan ilmu tersebut hanyalah dengan cara Thalabul `ilmi (belajar). Ilmu agama ini tidak bisa diperoleh dengan lamunan, khayalan, mimpi, bertapa dan sebagainya.

Ilmu agama ini hanya bisa diperoleh dengan cara belajar, sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama` kita, dimana beliau-beliau menghabiskan waktu, harta dan tenaga mereka untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi Shalallahu `Alayhi Wasallam dalam rangka belajar dan memperdalam ilmu agama mereka.

Semakin banyak kita menghabiskan waktu untuk belajar tentang ilmu agama ini, baik langsung kepada guru-guru yang terpercaya ilmunya atau melalui kitab-kitab peninggalan para ulama, maka semakin besar peluang kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah Allah janjikan tadi, yaitu golongan yang dimudahkan dalam menempuh jalan ke surga.

Dan tentunya bagi orang-orang yang berakal, pilihan untuk menempuh jalan tol bebas hambatan menuju surga Allah Ta`ala, merupakan pilihan yang sangat menggiurkan, mengingat beratnya hambatan-hambatan pada jalan menuju surga tersebut.

Wallahu A`lamu Bish Shawaab.

Yaser Ibrahim
***

sumber: http://samuderailmu.wordpress.com/2008/03/25/

Renungan di Bulan Ramadhan

1120276wp7wkk8sztOleh Ustadz Firanda Andirja, Lc.

(Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)

Merupakan nikmat Allâh yang besar kepada para hamba-Nya adalah, Allâh menjadikan waktu-waktu spesial yang penuh dengan berkah agar para hamba-Nya memanfaatkan kesempatan emas tersebut dan berlomba-lomba untuk meraih berkah yang sebanyak-banyaknya.

Berjumpa dengan bulan Ramadan merupakan kenikmatan yang sangat besar, yang selayaknya seorang muslim benar-benar merasakan dan menjiwai nikmat tersebut. Betapa banyak orang yang terhalang dari nikmat yang besar ini, baik dikarenakan ajal telah menjemput mereka atau karena ketidakmampuan mereka beribadah sebagaimana mestinya pleh sebab sakit atau yang lainnya, ataupun karena mereka sesat dan apatis terhadap bulan yang mulia ini. Maka, hendaknya seorang muslim bersyukur kepada Allâh atas karunia-Nya ini dan berdoa kepada-Nya agar dianugerahi kesungguhan dan semangat dalam mengisi bulan yang mulia ini dengan ibadah dan dzikir kepada-Nya.

Yang menyedihkan, banyak orang yang tidak mengerti kemuliaan bulan suci ini, mereka tidak menjadikan bulan suci ini sebagai lahan untuk memanen pahala yang banyak dari Allâh dengan banyak beribadah, bersedekah, dan membaca Al-Qur`ân. Namun bulan yang agung ini mereka jadikan sebagai musim yang menyediakan dan menyantap aneka ragam makanan dan minuman dan menyibukkan kaum ibu untuk terus berkutat dengan dapur.

Sebagian yang lain tidaklah mengetahui bulan yang suci ini melainkan sebagai bulan untuk begadang dan ngobrol hingga pagi, kemudian di siang harinya terlelap oleh mimpi. Bahkan ada diantara mereka yang terlambat untuk sholat berjamaah di masjid, ataupun tatkala sholat di masjid dia berangan-angan agar sang imam segera salam.

Sebagian yang lain tidaklah mengenal bulan yang suci ini kecuali merupakan musim untuk mengeruk duit yang sebanyak-banyaknya. Lowongan-lowongan pekerjaan ditelusurinya dalam rangka memperoleh kesempatan mengeruk dunia[1]. Sebagian yang lain sangat giat berjual beli di bulan suci ini, menekuni pasar dan meninggalkan masjid. Kalaupun mereka sholat di masjid, mereka sholat dalam keadaan terburu-buru. Wallâhul musta’ân…[2]

Barangsiapa yang mengetahui keagungan bulan yang suci ini, maka dia akan benar-benar rindu untuk bertemu dengannya. Para salaf sangat merasakan keagungan bulan suci ini sehingga kehadirannya selalu dinanti-nanti oleh mereka, bahkan jauh-jauh sebelumnya mereka telah mempersiapkan perjumpaan itu. Berkata Mu’allâ bin Al-Fadhl, ”Mereka (para salaf) berdoa kepada Allâh selama enam bulan agar Allâh mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhân…”[3]

Pujilah Allâh dan bersyukurlah kepada-Nya karena telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhân dalam keadaan tenteram dan damai. Renungkanlah… bagaimanakah keadaan saudara-saudara kita di Palestina, Chechnya, Afghanistan, Iraq, dan negeri-negeri yang lainnya… Bagaimanakah keadaan mereka menyambut bulan suci ini?? Musibah demi musibah, derita demi derita menimpa mereka. Dengan derita dan tangisanlah mereka menyambut bulan suci ini. Dengan beraneka ragam makanan kita berbuka puasa… lantas dengan apakah saudara-saudara kita di Somalia berbuka puasa… mereka terus menghadapi bencana busung lapar.[4]

Ramadhân adalah kesempatan emas untuk menjadi orang yang bertakwa

Allâh Ta’alâ berfirman :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS 2:183)

Berkata Syaikh ‘Utsaimîn rahimahullâhu : لَعَلَّ adalah untuk ta’lîl (menjelaskan sebab). Hal ini menjelaskan hikmah (tujuan) diwajibkannya puasa yaitu agar kalian (menjadi orang-orang yang) bertakwa kepada Allâh. Inilah hikmah (yang utama) dari ibadah puasa, adapun hikmah-hikmah puasa yang lainnya seperti kemaslahatan jasmani atau kemaslahatan sosial maka hanyalah mengekor (bukan hikmah yang utama-pen)”[5]

Betapa banyak manusia di zaman ini jika dikatakan kepada mereka “Bertakwalah engkau kepada Allâh!” maka merah padamlah wajahnya dan kedua pipinya mengembang karena marah dan tertipu dengan dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya telah bertakwa kepada Allâh sehingga merasa tersinggung jika dikatakan padanya untuk bertakwa kepada Allâh.

Berkata Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu ‘Anhu, “Cukuplah sesorang itu berdosa jika dikatakan kepadanya “Bertakwalah kepada Allâh”, lantas ia berkata,”Urus dirimu sendiri, orang seperti kamu sok mau menasehatiku??!

Pada suatu hari Kholifah Hârûn Ar-Rosyîd keluar naik kendaraan untanya yang mewah dan penuh dengan hiasan, lalu berkata seorang yahudi kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, bertakwalah engkau kepada Allâh!”. Maka beliaupun turun dari kendaraannya dan sujud kepada Allâh di atas tanah dengan penuh tawâdhû’ dan khusyû’. Lalu diapun memerintahkan agar kebutuhan orang yahudi tersebut dipenuhi. Tatkala ditanyakan kepadanya kenapa dia berbuat demikian, beliau berkata, ”Tatkala saya mendengar perkataan orang yahudi tersebut saya ingat firman Allâh

وَإِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللهَ أَخَذَتْهٌ الْعِزَّةُ بِالإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Dan apabila dikatakan kepadanya “Bertakwalah kepada Allâh”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berrbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. Dan sesungguhnya Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS 2:206),

Maka saya khawatir saya adalah orang yang disebut Allâh tersebut.”[6]

Oleh karena itu puasa merupakan kesempatan emas untuk melatih diri kita untuk bertakwa kepada Allâh.

Berkata sebagian salaf, “Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.” Berkata Jâbir, ”Jika engkau berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu juga ikut berpuasa…dan janganlah engkau menjadikan keadaanmu tatkala berpuasa seperti keadaanmu tatkala tidak berpuasa”.[7]

Berkata Abûl ‘Aliah,”Orang yang berpuasa senantiasa berada dalam ibadah walaupun dia dalam keadaan tidur di atas tempat tidurnya selama tidak melakukan ghibah (menggunjing) kepada orang lain”[8]

Berkata Syaikh As-Sudais,”Dan apakah mereka telah merealisasikan dan menerapkan apa yang menjadi tujuan disyariatkannya puasa (yaitu untuk bertakwa kepada Allâh)?, ataukah masih banyak diantara mereka yang tidak tahu hikmah disyari’atkannya puasa dan melupakan buah manis dari ketakwaan serta jalan-jalan ketakwaan yang bercahaya, sehingga mencukupkan puasa hanya dengan menahan diri dari makanan dan minuman serta pembatal-pembatal puasa yang lahiriyah??”[9]

Beliau juga berkata, “Sebagian orang tidak mengetahui hakekat puasa, mereka hanya membatasi makna puasa yaitu menahan diri dari makan dan minum. Maka engkau lihat sebagian mereka, puasanya tidak bisa mencegah (kejahatan) lisannya sehingga terjerumus dalam ghîbah, namîmah, dan dusta. Demikian juga mereka membiarkan telinga dan mata mereka jelalatan sehingga terjatuh dalam dosa dan kemaksiatan. Imam Bukhori telah meriwayatkan sebuah hadits dalam shahih beliau bahwasanya Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَيْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya[10] serta berbuat kebodohan[11] maka Allâh tidak butuh kepada puasanya dari meninggalkan makan dan minumnya”[12]”[13]

Berkata Ibnu Rajab, ”Barangsiapa yang di bulan Ramdhan ini tidak beruntung maka kapan lagi dia bisa beruntung, barangsiapa yang di bulan suci ini tidak bisa mendekatkan dirinya kepada Allâh maka sungguh dia sangat merugi”[14]

Jadilah kita seperti kupu-kupu yang menyenangkan dan indah jika dipandang, serta bermanfaat bagi perkawinan diantara tanaman, padahal sebelumnya adalah seekor ulat yang merusak dedaunan dan merupakan hama tanaman. Namun setelah berpuasa beberapa saat dalam kepompongnya berubahlah ulat tersebut menjadi kupu-kupu yang indah.

Puasa merupakan kesempatan untuk membiasakan diri mentadabburi Al-Qur`ân

Betapa banyak orang yang telah berpaling dari Al-Qur`ân, meninggalkan membaca Al-Qur`ân atau tatkala membacanya dibaca tanpa ditadabburi kandungan maknanya, hingga jadilah Al-Quran pada sebagian orang sesuatu yang terlupakan[15]. Berkata Ibnu Rajab, “Allâh mencela orang-orang yang membaca Al-Qur`ân tanpa memahami (mentadaburi) maknanya, Allâh berfirman

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّوْنَ لاَيَعْلَمُوْنَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ

“Dan diantara mereka ada yang buta huruf tidak mengetahui Al-Kitâb (At-Taurat), kecuali hanya dongengan belaka” (QS: 2:78),

yaitu membacanya tanpa memahami maknanya. Tujuan diturunkannya Al-Qur`ân adalah untuk difahami maknanya dan untuk diamalkan bukan hanya sekedar untuk dibaca”[16]

Tatkala tiba bulan Ramadan, Az-Zuhrî berkata,”Ramadhân itu adalah membaca Al-Qur`ân dan memberi makan (fakir miskin)

Berkata Ibnu ‘Abdil Hakîm, “Jika tiba bulan Ramadhân, Imam Mâlik menghindar dari membacakan hadits dan bertukarpikiran dengan ahli ilmu. Beliau berkonsentrasi membaca mushaf Al-Qur`ân”.

Berkata ‘Abdur Razzâq, “Jika masuk bulan Ramadhân, Ats-Tsaurî meninggalkan seluruh ibadah dan memfokuskan pada membaca Al-Qur`ân

Berkata Ibnu Rajab, “Para salaf berkonsentrasi membaca Al-Qur`ân di bulan Ramadhân. Diantara mereka ada yang mengkhatamkan Al-Qur`ân setiap minggu, diantara mereka ada yang setiap tiga hari, ada juga yang menamatkan dalam waktu dua malam, bahkan ada di antara mereka pada saat sepuluh malam yang terakhir menamatkan Al-Qur`ân setiap malam. Adapun hadits yang menjelaskan larangan mengkhatamkan Al-Qur`ân kurang dari tiga hari maka maksudnya jika dilaksanakan terus menerus. Adapun menamatkan Al-Quran pada waktu-waktu (tertentu) yang mulia seperti bulan Ramadhân khususnya di malam-malam yang diharapkan seperti lailatul qodar, demikian juga di tempat-tempat yang mulia, maka disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur`ân dalam rangka memanfaatkan kesempatan ketika berada di tempat dan waktu yang mulia. Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan yang lainnya, dan merupakan hal yang diamalkan oleh selain mereka”[17]

Diantara adab-adab tatkala membaca Al-Qur`ân[18]:

1. Hendaknya membaca dengan tartil dangan memperhatikan hukum-hukum tajwîd disertai dengan mentadabburi ayat-ayat yang dibacanya. Jika ayat yang dibacanya berkaitan dengan kekurangan atau kesalahannya maka hendaknya dia beristighfâr. Jika dia melewati ayat-ayat yang berkaitan dengan rahmat Allâh maka hendaknya dia meminta kepada Allâh rahmat tersebut, dan jika melewati ayat-ayat tentang adzab maka hendaknya dia takut dan berlindung kepada Allâh dari adzab tersebut. Adapun jika membaca Al-Qur`ân dengan cepat dan kurang memperhatikan hukum-hukum tajwîd maka sulit untuk mentadabburi Al-Qur`ân. Bahkan membaca Al-Qur`ân dengan cepat tanpa aturan terkadang bisa menjadi haram hukumnya jika sampai menimbulkan perubahan huruf-huruf (yaitu tidak keluar sesuai dengan makhrojnya) karena ini termasuk bentuk perubahan terhadap Al-Qur`ân. Adapun jika membaca dengan cepat namun tetap memperhatikan hukum-hukum tajwîd maka tidak mengapa, karena sebagian orang mudah bagi lisannya membaca Al-Qur`ân (dan sebagian orang bisa mentadabburi Al-Qur`ân walaupun dibaca dengan cepat).

2. Hendaknya tidak memotong pembacaan Al-Qur`ân hanya karena ingin ngobrol dengan teman duduk disampingnya. Sebagian orang jika sedang membaca Al-Qur`ân kemudian di sampingnya ada seorang sahabatnya maka diapun sering memotong bacaannya untuk ngobrol dengan temannya tersebut, dan hal ini merupakan hal yang semestinya tidak dilakukan karena ini termasuk berpaling dari Al-Qur`ân tanpa adanya kebutuhan.

3. Tidak membaca Al-Quran dengan suara yang keras sehingga mengganggu orang yang disekitarnya yang sedang membaca Al-Qur`ân juga, atau sedang sholat, atau sedang tidur. Nabi telah melarang hal ini. Dari Abû Sa’îd Al-Khudrî, beliau berkata, “Nabi i’tikâf di masjid lalu beliau mendengar orang-orang membaca Al-Qur`ân dengan suara yang keras dan Nabi sedang berada dalam tenda i’tikâf-nya. Beliaupun membuka sitar (kain penutup) tendanya, kemudian berkata, “Kalian semuanya sedang bermunajat dengan Robbnya maka janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, janganlah sebagian kalian mengangkat suaranya tatkala membaca Al-Qur`ân” atau beliau berkata,”tatkala (membaca Al-Qur`ân) dalam sholat.”[19]

Ramadhân adalah kesempatan untuk instropeksi diri

‘Umar Al-Farûq berkata,

حَاسِبُوا أنْفُسَكُم قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُا وَزِنُوْهَا قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا وَ تَزَيَّنُوا لِلعَرْضِ الأَكْبَر

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang!, dan berhiaslah (beramal solehlah) untuk persiapan hari ditampakkannya amalan hamba!”[20]

Allâh berfirman

يَوْمَئِذٍ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian), tiada sesuatupun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allâh)” (QS 69:18).

Benarlah apa yang diucapkan oleh Al-Farûq, sesungguhnya muhasabah diri di dunia ini jauh lebih ringan daripada hisab Allâh di hari dimana rambut anak-anak menjadi putih. Yang menghisab adalah Allâh dan yang menjadi bukti otentik adalah kitab yang sifatnya

لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Kitab yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan (di dunia) nampak tertulis. Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun jua” (QS 18:49).

Al-Hasan berkata, “Seorang mukmin adalah pengendali dirinya, (hendaknya) dia menghisab dirinya karena Allâh. Yang menyebabkan suatu kaum hisab mereka ringan di akhirat kelak adalah karena mereka telah menghisab jiwa mereka di dunia. Dan hanyalah yang menyebabkan beratnya hisab pada suatu kaum di hari kiamat kelak adalah karena mereka mengambil perkara ini tanpa bermuhâsabah (di dunia)”[21]

Hakekat dari muhâsabah adalah menghitung dan membandingkan antara kebaikan dan keburukan, sehingga dengan perbandingan ini diketahui mana dari keduanya yang terbanyak[22]

Ibnul Qoyyim menjelaskan, “Namun perhitungan ini (muhâsabah) akan terasa sulit bagi orang yang tidak memiliki tiga perkara, yaitu cahaya hikmah, berprasangka buruk kepada diri sendiri dan pembedaan antara nikmat dan fitnah (istidrâj).

(Pertama), cahaya hikmah yaitu ilmu yang dengannya seorang hamba bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan, manfaat dan mudhorot, yang sempurna dan yang kurang, kebaikan dan keburukan. Dengan demikian ia bisa mengetahui tingkatan amalan mana yang ringan dan mana yang berat, mana yang diterima dan mana yang ditolak. Semakin terang cahaya hikmah ini pada seseorang maka dia akan semakin tepat dalam perhitungannya (muhâsabah).

(Kedua), adapun berprasangka buruk kepada diri sangat dibutuhkan (dalam muhâsabah), karena berbaik sangka kepada jiwa mencegah sempurnanya pemeriksaan jiwa, maka jadinya dia akan memandang kejelekan-kejelekannya menjadi kebaikan dan memandang aibnya adalah suatu kesempurnaan dan tidaklah berprasangka buruk kepada dirinya kecuali orang yang mengenal dirinya. Barangsiapa yang berbaik sangka kepada jiwanya maka dia adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya sendiri.

(ketiga), adapun membedakan antara nikmat dan fitnah yaitu untuk membedakan antara kenikmatan yang Allâh anugerahkan kepadanya –berupa kebaikan-Nya dan kasih sayang-Nya yang dengannya ia bisa meraih kebahagiaan yang abadi– dengan kenikmatan yang merupakan istidrâj dari Allâh. Betapa banyak orang yang ter-istidrâj dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allâh-pen) padahal dia tidak menyadari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang bodoh, tertipu dengan keadaannya yang kebutuhannya selalu terpenuhi, dan aibnya yang selalu ditutup oleh Allâh. Kebanyakan manusia menjadikan tiga perkara (yaitu, pujian manusia, terpenuhinya kebutuhan, dan aib yang selalu tertutup) ini merupakan tanda kebahagiaan dan keberhasilan. Sampai disitulah rupanya ilmu mereka….”

Beliau melanjutkan,”…. Semua kekuatan baik yang nampak maupun yang batin jika diiringi dengan pelaksanaan perintah Allâh dan apa yang diridhoi Allâh maka hal itu adalah karunia Allâh, jika tidak demikian maka kekuatan tersebut adalah bencana. Setiap keadaan yang dimanfaatkan untuk menolong agama Allâh dan berdakwah di jalan-Nya maka hal itu merupakan karunia Allâh, jika tidak , maka hanyalah merupakan bencana. Setiap harta yang disertai dengan berinfaq di jalan Allâh bukan untuk mengharapkan ganjaran manusia dan terima kasih mereka maka dia adalah karunia Allâh. Jika tidak demikian, maka dia hanyalah bumerang baginya….dan setiap sikap manusia yang menerima dirinya dan pengagungan serta kecintaan mereka padanya jika disertai dengan rasa tunduk, rendah, dan hina dihadapan Allâh, demikian juga disertai pengenalannya terhadap aib dirinya dan kekurangan amalannya dan usahanya menasehati manusia maka hal ini adalah karunia Allâh. Jika tidak demikian, maka hanyalah bencana. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba mengamati poin yang sangat penting dan berbahaya ini agar bisa membedakan antara karunia dan bencana, anugerah dan bumerang baginya, karena betapa banyak ahli ibadah yang berakhlak mulia yang salah paham dan rancu dalam memahami pembahasan ini.”[23]

Ketahuilah bahwa termasuk penyempurna muhâsabah yaitu engkau mengetahui bahwa setiap kemaksiatan atau aib yang karenanya engkau mencela saudaramu maka akan kembali kepadamu. Diriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

Barangsiapa yang mencela saudaranya karena dosanya (kemaksiatannya) maka dia tidak akan mati hingga dia melaksanakan kemaksiatan tersebut”[24]

Berkata Imam Ahmad menafsirkan hadits ini, “Yaitu (mencelanya karena) dosa/maksiat yang ia telah bertaubat darinya.[25]

Berkata Ibnul Qoyyim, “Dan juga pada suatu pencelaan tersirat rasa gembira si pencela dengan jatuhnya orang yang dicela dalam kesalahan. Imam At-Tirmidzî meriwayatkan juga –secara marfû’- bahwasanya Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda,”Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas bencana yang menimpa saudaramu sehingga Allâh merahmati saudaramu dan mendatangkan bencana bagimu”[26]. Dan mungkin juga maksud Nabi bahwa dosa pencelaanmu terhadap saudaramu lebih besar dari dosa saudaramu itu dan lebih parah dari maksiat yang dilakukannya itu adalah oleh sebab pencelaanmu itu menunjukan tazkiyatun nafsi (memuji diri sendiri) dan mengklaim bahwa engkau selalu diatas ketaatan dan telah berlepas diri dari dosa dan bahwa saudaramulah yang membawa dosa tersebut.

Maka bisa jadi penyesalan saudaramu karena dosanya tersebut dan akibat yang timbul setelah itu berupa rasa tunduk dan rendah serta penghinaan terhadap jiwanya, dan terlepasnya dia dari penyakit pengklaiman sucinya diri, rasa sombong dan ujub, serta berdirinya dia dihadapan Allâh dalam keadaan menunduk dengan hati yang pasrah, yang lebih bermanfaat baginya dan lebih baik dibandingkan dengan pengklaimanmu bahwa engkau selalu diatas ketaatan kepada Allâh dan engkau menganggap bahwa engkau banyak melakukan ketaatan kepada Allâh bahkan engkau merasa telah memberi sumbangsih kepada Allâh dan kepada makhluk-makhluk-Nya dengan ketaatanmu tersebut. Sungguh dekat saudaramu -yang telah melakukan kemaksiatan- kepada rahmat Allâh. Dan betapa jauh orang yang ujub dan merasa memberi sumbangsih dengan amal ketaatannya dengan kemurkaan Allâh.

Dosa yang mengantarkan pelakunya merasa hina dihadapan Allâh lebih disukai Allâh daripada amal ketaatan yang mengantarkan pelakunya merasa ujub. Sesungguhnya jika engkau tertidur di malam hari (tidak melaksanakan sholat malam) kemudian di pagi hari engkau menyesal, lebih baik dari pada jika engkau sholat malam kemudian di pagi hari engkau merasa ujub kepada diri sendiri, karena sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak sampai kepada Allâh. Engkau tertawa namun engkau mengakui (kesalahanmu dan kekuranganmu) lebih baik dari pada engkau menangis namun engkau merasa ujub. Rintihan orang yang berdosa lebih disukai di sisi Allâh dibanding suara dzikir orang yang bertasbih namun ujub. Bisa jadi dengan sebab dosa yang dilakukan oleh saudaramu Allâh berikan obat kepadanya dan mencabut penyakit yang membunuh darinya padahal penyakit itu ada pada dirimu dan engkau tidak merasakannya.

Allâh memiliki rahasia dan hikmah yang terdapat pada hamba-hambanya yang taat dan yang bermaksiat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Para ulama dan orang-orang bijak tidak mengerti rahasia itu kecuali hanya sekedar yang bisa diperkirakan dan ditangkap oleh panca indera manusia. Namun di balik itu ada rahasia Allâh yang tidak diketahui bahkan oleh para malaikat para pencatat amal.

Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda

إِذَا زَنَتْ أَمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُقِمْ عَلَيْهَا الْحَدُّ وَلاَ يُثَرِّبْ

Jika budak wanita milik salah seorang dari kalian berzina maka tegakkanlah hukuman had baginya dan janganlah dia mencelanya”[27]…, karena sesungguhnya penilaian adalah di sisi Allâh dan hukum adalah milik-Nya. Dan tujuannya adalah menegakkan hukuman had pada budak wanita tersebut bukan mencelanya….

Allâh telah berkata tentang makhluk yang paling mengetahuiNya dan yang paling dekat denganNya (yaitu Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam), “Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya engkau hampir-hampir condong sedikit kepada mereka (orang-orang kafir)” (QS 17:74). Nabi Yûsuf telah berkata,”Dan jika Engkau hindarkan tipu daya mereka dariku, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS 12:33). Dan Nabi paling sering bersumpah dengan berkata

ياَ وَمُقَلِّبِ الْقُلُوْبِ

Demi Dzat yang membolak-balikan hati manusia”[28].

Beliau bersabda,”Tidak satu hati manusiapun melainkan ia berada diantara dua jari dari jari jemari Allâh. Jika Allâh kehendaki Allâh akan memberi petunjuk kepadanya dan jika Allâh kehendaki maka Allâh akan menyesatkannya”[29], kemudian beliau berdoa

اللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Dzat yang membolak-balikan hati manusia, tetapkanlah hati kami di atas jalanMu”[30]

اللَّهُمَّ مُصَّرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Wahai Dzat yang memaling-malingkan hati manusia, palingkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu”[31].

Berdoa kepada Allâh agar ibadah puasa kita diterima

Berkata Ibnu Rojab, “Para salaf, mereka berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk menyempurnakan dan memperbaiki amalan mereka, kemudian setelah itu mereka sangat memperhatikan agar amalan mereka diterima, mereka takut amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah “Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dan hati mereka dalam keadaan takut” (QS 23:60). Diriwayatkan dari ‘Alî beliau berkata,”Hendaklah kalian lebih memperhatikan agar amal kalian diterima (setelah beramal) dari pada perhatian kalian terhadap amalan kalian (tatkala sedang beramal), apakah kalian tidak mendengar firman Allâh “Sesungguhnya Allâh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” (QS 5:27).

Dari Fadhâlah dia berkata,”Saya mengetahui bahwa Allâh menerima amalan saya walaupun sekecil biji sawi lebih saya sukai daripada dunia dan seisinya karena Allâh berfirman “Sesungguhnya Allâh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” (QS 5:27)”.

Berkata Abûd Darda’, “Saya mengetahui bahwa Allâh telah menerima dariku satu sholat saja lebih aku sukai dari pada bumi dan seluruh isinya karena Allâh berfirman “Sesungguhnya Allâh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” (QS 5:27)”.[32]”

Berkata Mâlik bin Dinar, “Rasa takut jika amalan tidak diterima itu lebih berat daripada beramal itu sendiri”.

Berkata ‘Athâ’ As-Sulamî, “Waspadalah, jangan sampai amalanmu bukan karena Allâh”

Abdul ‘Azîz bin Abî Ruwwâd berkata, “Aku mendapati mereka (para salaf) sangat bersungguh-sungguh tatkala beramal soleh, namun jika mereka telah selesai beramal, mereka ditimpa kesedihan dan kekhawatiran apakah amalan mereka diterima atau tidak?”

Oleh karena itu para salaf setelah enam bulan berdoa agar dipertemukan oleh Allâh dengan Ramadhân mereka juga berdoa setelah Ramadhân selama enam bulan agar amalan mereka diterima.[33]

Wuhaib bin Al-Ward tatkala membaca firman Allâh

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيْمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَ إِسْمَاعِيْلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan tatkala Ibrâhîm meninggikan (membina) pondasi Baitullâh bersama Ismâ’îl (seraya berdoa), ”Wahai Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahu” (QS 2:127), maka beliau (Wuhaib bin Al-Ward) pun menangis seraya berkata, “Wahai kekasih Ar-Rahmân, engkau meninggikan rumah Ar- Rahmân lalu engkau takut amalanmu itu tidak diterima oleh Ar- Rahmân [34]

Ibnul Qoyyim menjelaskan, “Puas (ridho)nya seseorang terhadap amal ketaatan yang telah ia kerjakan merupakan indikasi bahwasanya dia tidak tahu akan keadaan dirinya. Dia tidak tahu hak-hak Allâh dan bagaimana semestinya beribadah kepada Allâh. Ketidaktahuannya akan kekurangan dirinya serta aib-aib yang terdapat dalam amal ketaatannya serta ketidaktahuannya akan kebesaran Allâh dan hak-hak-Nya menjadikan dia berprasangka baik terhadap jiwanya yang penuh dengan kekurangan sehingga akhirnya dia puas dengan amal ketaatannya. Hal ini juga menimbulkan rasa ‘ujub (takjub) dengan dirinya sendiri yang telah melaksanakan amal ketaatan serta menimbulkan rasa sombong dan penyakit-penyakit hati yang lainnya yang lebih berbahaya daripada dosa-dosa besar yang nampak seperti zina, meminum minuman keras, dan lari dari medan pertempuran. Jika demikian rasa puas terhadap amal ketaatan merupakan kepandiran dan ketololan jiwa.

Jika kita perhatikan…ternyata mereka orang-orang yang bertakwa dan ahli ibadah, mereka sangat memohon ampunan Allâh justru tatkala mereka telah selesai dari amal ketaatan mereka. Hal ini dikarenakan mereka mengakui kekurangan mereka tatkala beramal dan mereka mengakui bahwa amal ketaatan mereka tidak sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allâh. Seandainya bukan karena perintah Allâh untuk beramal maka mereka akan malu menghadap Allâh dengan model ibadah mereka yang penuh kekurangan dan mereka tidak ridho ibadah yang penuh kekurangan tersebut mereka serahkan kepada Allâh. Namun mereka tetap beribadah walalupun penuh kekurangan untuk menjalankan perintah Allâh.

Allâh telah memerintahkan para jema’ah haji (pengunjung rumah Allâh) untuk beristighfâr setelah selesai dari manasik haji yang paling agung dan mulia yaitu wukuf di Arafah. Allâh berfirman

فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا الله عِنْدَ الْمَشْعِرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوْهُ كَمَ هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُم مِنْ قَبْلِهِ لََمِنَ الضَّآلِّيْنَ ثُمَّ أَفِيْضُوا مِنْ حِيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌَ َ

Maka apabila kalian telah beranjak dari Arafah berzikirlah kepada Allâh di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allâh sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepada kalian, dan sesungguhnya kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian beranjaklah kalian dari tempat beranjak orang-orang banyak (yaitu Arafah) dan mohon ampunlah kepada Allâh sesungguhnya Allâh Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang” (QS 2:198-199)

Allâh juga berfirman

وَالْمُسْتَغْفِرِيْنََ بِالأَسْحَارِ

Dan yang memohon ampun di waktu sahur(QS 3:17).

Berkata Hasan Al-Bashrî, “Mereka memanjangkan sholat malam mereka hingga tiba waktu sahur (menjelang terbit fajar) lalu mereka duduk dan beristighfâr kepada Allâh”. Dan dalam hadits yang shahih bahwasanya Nabi jika telah salam dari sholat beliau ber istighfâr tiga kali[35].

Allâh memerintah Nabi untuk ber istighfâr setelah selasai menyampaikan risalah kenabiannya –dan beliau telah menunaikannya dengan baik-, demikian juga setelah menyelesaikan ibadah haji serta menjelang wafat beliau. Maka Allâh berfirman di surat yang terakhir turun kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam “Apabila telah datang pertolongan Allâh dan kemenangan. Dan Engkau melihat manusia masuk agama Allâh dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Robmu dan mohon ampun kepada-Nya . Sesungguhnya Dia adalah Maha menerima taubat.” (QS 110:1-3)

Dari turunnya surat ini, maka ‘Umar dan Ibnu Abbâs faham bahwa ini merupakan tanda dekatnya ajal Rasûlullâh yang Allâh beritahukan kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Maka Allâhpun memerintahkan beliau untuk beristighfâr setelah beliau menunaikan tugas beliau. Maka hal ini seakan-akan pemberitahuan bahwa engkau (wahai Rasûlullâh) telah menunaikan kewajibanmu dan tidak ada lagi tugas yang lain, maka jadikanlah penutupnya adalah istighfâr. Sebagaimana juga penutup sholat, haji, sholat malam. Dan juga setelah wudhû’ beliau berkata,

سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. أَللهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ و اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ [36].

Dan demikianlah keadaan orang-orang yang mengetahui apa yang semestinya bagi Allâh dan sesuai dengan keagunganNya dan mengerti akan hak-hak ibadah dan persyaratannya.

Berkata sebagian orang bijak, “Kapan saja engkau ridho (puas) dengan dirimu dan amalanmu bagi Allâh, ketahuilah sesungguhnya Allâh tidak ridho dengan amalmu tersebut. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwasanya dirinya merupakan tempat kesalahan, aib, dan kejelekan serta mengetahui bahwa amalannya penuh dengan penyakit dan kekurangan, maka bagaimana dia bisa puas dengan amalannya? Bagaimana dia bisa ridho amalan tersebut bagi Allâh?

Sungguh indah perkataan Syaikh Abû Madin, “Barangsiapa yang merealisasikan ibadahnya maka dia akan memandang amal perbuatannya dengan kacamata riya’, dia memandang keadaannya dengan kacamata pengklaiman (pengakuan belaka), dan memandang perkataannya dengan kacamata kedustaan. Semakin besar apa yang engkau harapkan di hatimu maka akan semakin ciut (kecil) jiwamu di hadapanmu, dan semakin ciut pula nilai pengorbanan yang telah engkau keluarkan demi meraih harapanmu yang besar. Semakin engkau mengakui hakekat Rubûbiyah Allâh dan hakekat ‘Ubûdiyah serta engkau mengenal Allâh dan engkau mengenal dirimu sendiri maka akan jelas bagimu bahwa apa yang ada padamu berupa amal ketaatan tidaklah pantas untuk diberikan kepada Allâh. Walaupun engkau datang dengan membawa amalanmu (yang beratnya seperti amalan seluruh) jin dan manusia maka engkau akan tetap takut dihukum Allâh (karena engkau takut tidak diterima-pen). Sesungguhnya Allâh menerima amalanmu karena kemurahan dan kemuliaan serta karunia-Nya kepadamu. Kemudian Dia memberi pahala dan ganjaran kepadamu juga karena kemuliaan, kemurahan, dan karunia-Nya.” [37]

Berkata Syaikh Abdur Rahmân As-Sudais, “Ketahuilah saudara-saudaraku, sebagaimana kalian menyambut kedatangan bulan suci ini, kalian juga tidak lama kemudian pastiakan berpisah dengannya. Apakah engkau tahu –wahai hamba Allâh- apakah engkau akan bisa bertemu dengan akhir bulan ini? Ataukah engkau tidak akan menemuinya?? Demi Allâh kita tidak tahu, sedangkan kita tiap hari menyolatkan puluhan jenazah. Dimanakah mereka yang dulu berpuasa bersama kita? Seorang yang bijak akan menjadikan ini semua untuk bermuhâsabah dan meluruskan kepincangan dan membuangnya dari jalan ketaatan sebelum ajal menjemputnya dengan tiba-tiba. Sehingga tidak bermanfaat ketika itu kecuali amalan shâlih. Ikrarkanlah janji kepada Robb kalian di tempat yang suci ini dan di bulan yang suci ini yang penuh barokah ini untuk bertaubat dan penyesalan serta melepaskan diri dari kekangan kemaksiatan dan dosa. Bersungguh-sungguhlah untuk mendoakan kebaikan bagi diri kalian dan saudara-saudara kalian kaum muslimin.”[38]

Kota Nabi,

3 Ramadhân 1425 H (16 Okt. 2004)

Daftar Pustaka:

  1. Madârijus Sâlikîn, Ibnul Qoyyim, Tahqîq ‘Abdul ‘Aziz bin Nâshir Al-Julaiyil, Dâr At-Thayibah
  2. Wazhâ`if Ramadhân, Syaikh Abdur Rahmân bin Muhammad bin Qâsim.
  3. Ahâdîtsu ash-Shiyâm, Ahkâmuhu wa Âdabuhu, Syaikh ‘Abdullâh Al-Fauzân.
  4. Tafsîr Al-Qur`ân Al-Karîm, Syaikh ‘Utsaimîn, Dâr Ibnul Jauzî.
  5. Ramadhân Fursoh lit Tagyîr, Muhammad bin ‘Abdillâh Al-Habda.
  6. Kaukabah Al-Khutob Al-Munîfah min Mimbar Al-Ka’bah As-Syarîfah, Syaikh ‘Abdur Rahman bin ‘Abdul ‘Azîz As-Sudais.
  7. Fathul Bârî, Ibnu Hajar Al-‘Asqolânî, Dâr as-Salâm, Riyâdh.
  8. Tuhfatul Ahwadzî, Al-Mubârokfûrî, Dâr Ihyâ` At-Turâts Al-‘Arobî.
  9. Tafsîr Ibnu Katsîr.

[1] Yang menyedihkan ada diantara mereka yang mengatasnamakan dunia yang mereka kejar tersebut dengan nama agama. Ada juga yang berdalih bahwa apa yang mereka lakukan tersebut hukumnya boleh dan demi membantu orang lain. Ketahuilah saudaraku…carilah amalan yang terbaik yang bisa mendatangkan pahala yang sebanyak mungkin di bulan suci ini. Umur kita terbatas. Renungkanlah….

[2] Saduran dari perkataan Syaikh ‘Abdullâh Al-Fauzân dalam kitabnya Ahâdîts ash-Shiyâm, hal 14-15

[3] Wazhâ`if Romadhân hal 11. Adakah diantara kita yang senantiasa berdoa untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan? Jangankan untuk berdoa selama enam bulan agar berjumpa dengan Ramadhan, bahkan mungkin masih banyak diantara kita yang tidak berdoa selama seminggu agar bersua dengan Ramadhan. Hal ini tidak lain karena kita kurang mengagungkan nilai Ramadhan sebagaimana para salaf. Atau mungkin bahkan diantara kita ada yang tidak pernah berdoa sama sekali untuk berjumpa dengan Ramadhan….??

[4] Lihat Khutbah Syaikh As-Sudais (Kaukabah Al-Khutob Al-Munîfah hal 230-231)

[5] Tafsîr Al-Qur`ân Al-Karîm, tafsir surat Al-Baqoroh 2/317

[6] Lihat Risalah Ramadhân Fursoh lit Taghyîr hal 13-14

[7] Wazhâ`if Romadhân hal 21

[8] Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razzâq dalam Mushonnaf-nya. Berkata Ibnu Rojab,”Jika dia meniatkan makan dan minumnya untuk menguatkan tubuhnya guna melaksanakan sholat malam dan puasa, maka dia akan diberi pahala (oleh Allah) karena niatnya tersebut (makan dan minumnya dinilai ibadah oleh Allah-pen). Demikian juga jika dia meniatkan dengan tidurnya di malam hari ataupun di siang hari agar kuat untuk beramal (sholih) maka tidurnya itu adalah ibadah (Wazhâ`if Romadhân hal 24).

[9] Kaukabah Al-Khutob Al-Munîfah 1/ 237

[10] Yaitu mengamalkan konsekuensi dari kedustaan tersebut (Al-Fath 4/151)

[11] Syaikh ‘Abdullâh Al-Fauzân menjelaskan,”Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan tindakan orang-orang bodoh seperti berteriak-teriak dan hal-hal yang bodoh lainnya” (Âhadîtsu ash-Shiyâm hal 74)

[12] HR Al-Bukhâri no 1903, 6057. Berkata Ibnu At-Thîn, “Zhahir hadits menunjukkan bahwa barangsiapa yang berbuat ghibah tatkala sedang puasa maka puasanya batal, demikianlah pendapat sebagian salaf. Adapun jumhur ulama berpendapat sebaliknya (yaitu puasanya tidak batal), namun menurut mereka makna dari hadits ini bahwasanya ghibah termasuk dosa besar dan dosanya tidak bisa sebanding dengan pahala puasanya maka seakan-akan dia seperti orang yang batal puasanya”. (Al-Fath 10/582)

[13] Kaukabah Al-Khutob Al-Munîfah 1/ 229

[14] Wazhâ`if Romadhân hal 12

[15] Ibnu Katsîr menjelaskan bahwa diantara bentuk-bentuk meninggalkan (tidak mengacuhkan) Al-Qur`ân adalah meninggalkan praktek pengamalan perintah-perintah yang terdapat dalam Al-Qur`ân, tidak menjauhi larangan-larangan yang terdapat di dalam Al-Qur`ân, berpaling dari (kebiasaaan membaca) Al-Qur`ân dan menggantikannya dengan kebiasaan membaca syair-syair atau perkataan-perkataan atau lagu atau perkara yang sia-sia yang tidak berlandaskan Al-Qur`ân. (Tafsir Ibnu Katsir, pada surat Al-Furqôn ayat 30)

[16] Wazhâ`if Romadhân hal 42. Berkata sebagian salaf, “Al-Qur`ân diturunkan untuk dipraktekan (dalam kehidupan), namun manusia menjadikan membaca Al-Qur`ân itulah bentuk pengamalannya

[17] Wazhâ`if Romadhân hal 43

[18] Disadur dari perkataan Syaikh ‘Abdullâh Al-Fauzân dalam kitabnya Âhadîtsu ash-Shiyâm (hal 46-48)

[19] HR Ahmad (3/93) dan Abû Dâwûd dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albânî dalam As-Shohîhah 4/134 dan berkata,’Isnadnya shohih sesuai dengan persyaratan (kriteria) Bukhârî dan Muslim

[20] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzî dalam Shifatul Qiyâmah, bab “Al-Kais Lak Dâna Nafsahu…”, kemudian setelah menyebutkan hadits “Al-Kaisu….dst” Beliau berkata, “Dan diriwayatkan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab beliau berkata: “Hisablah….” Atsar ini juga disebutkan oleh Imam Ahmad dalam kitab az-Zuhud, demikian juga Ibnul Qoyyim dalam Madârijus Sâlikîn (1/319)

[21] Hilyatul Auliyâ’ 2/157

[22] Madârijus Sâlikîn 1/321

[23] Madârijus Sâlikîn 1/ 321-324

[24] HR At-Tirmidzî no 2505. Berkata At-Tirmidzî, “Ini adalah hadits hasan ghorîb”. Berkata Al-Mubârokfûri, “Hadits ini munqothi’, walau demikian At-Tirmidzî menghasankannya, kemungkinan karena ada jalan yang lain atau ada syâhid (penguat lain) bagi hadits ini sehingga inqithâ’ (keterputusan sanadnya) tidak mempengaruhi” (Tuhfatul Ahwadzî 7/251). Namun Syaikh Al-Albânî menghukumi bahwa hadits ini adalah hadits maudhû’ (palsu) dalam Dho’îf Sunan At-Tirmidzî no 449 dan dalam Dha’îful Jamî’ no 5710.

[25] Sebagaimana tafsiran ini dibawakan oleh At-Tirmidzî setelah meriwayatkan hadits ini

[26] HR At-Tirmidzî no 2506, dan berkata,”Ini adalah hadits hasan ghorîb” dan didhoifkan oleh Syaikh Al-Albânî dalan Dho’îf Sunan At-Tirmidzî no 450

[27] HR Al-Bukhârî 2152

[28] HR Al-Bukhârî 6617, 6628

[29] HR Ibnu Mâjah no 99, Ahmad 4/182, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albânî dalam Shahîh Sunan Ibnu Mâjah.

[30] Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albânî dalam Shahîh Sunan At-Tirmidzî 1739

[31] HR Muslim no 2654

[32] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr surat Al-Mâ`idah ayat 27

[33] Atsar-atsar tersebut disampaikan oleh Ibnu Rojab dalam Wazhâ`if Ramadhân hal 73, kecuali atsar Abûd Darda’

[34] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr surat Al-Baqoroh ayat 127

[35] HR Muslim 591 dan Abû Dâwûd 1512

[36] Hadits ini tersusun dari dua hadits. Yang pertama diriwayatkan oleh An-Nasâ`î di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah hal 173 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albânî dan Shahîhul Jâmi’ no 2059. Adapun hadits yang kedua diriwayatkan oleh At-Tirmidzî no 55 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albânî.

[37] Madârijus Sâlikîn 1/327-330

[38] Dari kumpulan khutbah jum’at beliau. (Kaukabah Al-Khutob Al-Munîfah 1/ 235)

Sumber: http://artikel.stai-ali.ac.id/?p=18 dan diupload kembali oleh http://salafiyunpad.wordpress.com

***

Artikel ini di ambil dari sini

Tidak Semua yang Berjenggot itu Terrorris…

SunsetMelihat berita yang tengah gencar disiarkan di bumi pertiwi ini mulai dari pengeboman dua hotel di Jakarta hingga tindak pengepungan oleh datasemen khusus kepolisian terhadap  seorang oknum yang bersembunyi di dalam sebuah rumah di Jawa tengah yang diyakini sebagai gembong teroris yang paling dicari di negri ini, terus terang menimbulkan berbagai macam perasaan campur aduk di dalam hati saya.

Tentu saja saya tidak pernah setuju dengan tindakan suatu kelompok (siapapun dia) yang mengatas namakan “Perjuangan Islam” dalam menteror kedamaian hidup seseorang yang tidak berhak untuk mendapatkan perlakuan keji semacam itu. Meskipun dia orang kafir, di dalam Islam kita tidak boleh sembarangan membunuh bahkan melukai orang kafir yang tidak tengah berperang dengan kita. Semua ada batasan-batasannya,  dan kita tidak boleh sembarangan main bom sana-sini, apalagi sambil meledakkan diri sendiri.

Yang begitu saya sayangkan, betapa tindakan segelintir orang yang berbuat ‘menyimpang’ dari ajaran Islam ini dengan mengatas namakan ‘jihad’ telah menyeret kaum muslimin lainnya (yang berusaha meneladani sunnah-sunnah Nabi salallahu alaihi wa sallam)  menjadi bahan celaan dan hinaan dari sebagian masyarakat kita yang masih awam dengan Islam itu sendiri.

Contohnya yaitu, hanya karena ciri khas ‘para tersangka’ teroris tersebut berjenggot, berbaju koko, bercelana ngatung dan kemudian isteri-isterinya tersebut bercadar maka seolah-olah setiap orang yang berpenampilan demikian di cap sebagai teroris atau isteri-isteri teroris. Masya Allah…

Hal ini sering saya jumpai dalam komentar-komentar yang berseliweran baik di jagat internet ini maupun dalam kehidupan nyata. Mereka kaum muslimin yang berusaha nyunnah dengan mengikuti teladan kita Rasulullah salallahu alaihi wasallam dan Ummahatul Mukminin (isteri-isteri Nabi salallahu alaihi wa sallam)  seringkali mendapatkan cemoohan maupun pandangan sinis dari sebagian masyarakat kita. Bahkan ada beberapa yang berkomentar sungguh pedas, dan bahkan sampai taraf menghina sunnah Nabi tersebut berkaitan dengan penampilan beberapa kaum muslimah yang menjaga kehormatannya. Laa haula wa laa quwwata illa billah…

Baiklah, anggap saja mereka yang suka mencela tersebut memang benar-benar awam dan tidak paham akan ajaran Islam yang sebenarnya seperti masalah jenggot dan berpakaian yang sesuai syari’at  dimana ia merupakan suatu upaya untuk menghidupkan sunnah-sunnah Nabi. Namun sungguh sayang jika mereka menjadi salah paham hingga menyamaratakan bahkan mencurigai setiap ikhwan atau akhwat yang berpenampilan seperti itu sebagai teroris atau isteri teroris, bahkan sampai ketakutan jika anak-anaknya semakin getol ngaji, dan kemudian mengubah penampilannya menjadi seperti apa yang mereka sangka sebagai kelompok penjahat.

Inilah akibat dari kesalahan segelintir kaum Muslimin hingga mengakibatkan kaum Muslimin yang lain menjadi korban.

Penampilan (baca: tampilan fisik/cara berpakaian) orang-orang yang diduga sebagai teroris itu kita akui memang tidak menyalahi ajaran Islam, bahkan benar-benar sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh Rasulullah salallahu alaihi wa sallam itu sendiri, seperti; memanjangkan jenggot, memendekkan celana di atas mata kaki, dan bagi akhwat yaitu bercadar yang meskipun hukumnya tidak wajib namun hal ini merupakan upaya untuk lebih menjaga aurat serta meneladani ummahatul mukmini (para isteri Rasulullah salallahu alaihi wa sallam) serta sebagian sahabiyah nabi.

Namun yang salah dari para pelaku yang disuga teroris ini adalah pemahaman mereka akan ajaran Islam. Rupanya apa yang mereka yakini tentang jihad sehingga berlanjut kepada pengeboman terhadap orang-orang yang tidak bersalah merupakan cerminan dari penyimpangan mereka akan ajaran Islam yang sesungguhnya. Itulah yang membedakan para teroris ini dengan sebagian kaum Muslimin yang benar-benar memahami ajaran Al-Qur’an dan Sunnah meskipun secara fisik mereka berpenampilan sama.

Karena itu hendaklah seseorang jangan sampai mencela ajaran Islam yang sebenarnya hanya karena ulah segelintir oknum yang berbuat kejahatan dengan mengatas namakan Islam. Sungguh Islam berlepas diri dari ajaran-ajaran sesat mereka.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni lisan-lisan kita yang terlanjur mengucapkan kata-kata yang tidak kita sadari telah menghina ajaran Islam yang mulia. Dan semoga Allah menunjuki saudara-saudari kita yang tengah berada di dalam ‘penyimpangan’ tersebut kembali ke dalam ajaran islam yang sesungguhnya. Amin

***

Jika pembaca ingin mengetahui bagaimana ajaran Islam yang sebenarnya  mengenai jihad, hukum bom bunuh diri, dll, silahkan klik disini

* semoga bermanfa’at *

Surgaku dan Nerakaku

Duhai para istri yang mendamba Surga…
Engkau telah memiliki jalan yang mudah untuk meraihnya
Jika saja engkau muliakan suamimu dan memenuhi hak-haknya atasmu
Tapi engkau pun bisa memilih jalan lain
Ketika engkau lalaikan dirimu dari ridhanya
Maka bersiaplah menuai sengsara di Neraka

Risalah ini adalah motivasi untukku dan untukmu wahai saudariku, baik yang telah menikah, yang belum menikah, dan yang akan menikah. Suami adalah Surga dan Neraka bagi para istri. Melalui perantara suamilah para istri akan mendapatkan ‘hadiah’nya di akhirat kelak. Apakah keridhaan ataukah murka dari Rabbul ‘Alamin yang akan kita dapat…? Semua itu bermula dari bagaimana sikap kita terhadap suami. Maka perhatikanlah dengan seksama.
Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, suami ibarat raja dalam sebuah negara. Istri adalah wakil suami yang harus setia, istri adalah pelaksana semua hal yang diamanatkan padanya. Maka jagalah hal ini dengan sebaik-baiknya.
Wahai saudariku, ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan dalam sabdanya:
فَإِنِّيْ لَوْ كُنْتُ اَمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِاللهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّـذِيْ نَفْسُ مَحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّيَ الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا
“Sesungguhnya, jika sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, maka aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Maka demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sehingga dia menunaikan hak suaminya.”[1]
Aduhai, alangkah besarnya hak suami terhadap istri-istrinya. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat agung di atas. Jika manusia dibolehkan sujud kepada manusia, maka yang paling berhak untuk itu adalah suami…
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun hingga bersumpah: Maka demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sehingga dia menunaikan hak suaminya.
Tidaklah dikatakan seorang istri itu memenuhi hak Rabb-nya hingga dia memenuhi hak suaminya. Allahu Akbar…!
Banyak istri dan wanita yang telah lupa dengan pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada bibinya Hushain bin Mihshan ketika beliau bertanya tentang sikapnya terhadap suaminya:
فَانْطُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَجَنَّتُكِ و نَارُكِ
“Perhatikanlah olehmu, dimanakah engkau dari (memenuhi hak)nya, karena sesungguhnya dia (suamimu itu) adalah surgamu dan nerakamu.”[2]
Maka, suami itu adalah jalan para istri untuk meraih kenikmatan Surga atau menjadi sebab bagi para istri tenggelam dalam api Neraka. Manakah yang hendak engkau pilih wahai para istri…? Surgakah atau Nerakakah…?
Tahukah engkau, bahwa sedikit sekali kaum wanita yang akan menjadi penghuni Surga? Demikian khabar yang disampaikan oleh al-Mudzakir Muhammad bin ‘Abdullah ‘alaihish sholatu wa sallam dalam sabdanya:
إِنِّ أَقَلَّ سَاكِنِيْ الْجَنَّةِ النِّسَاءُ
“Sesungguhnya penghuni Surga yang paling sedikit adalah perempuan.”[3]
Bagaimanakah terjadi demikian?
Ketahuilah saudariku, para wanita yang menolak kenikmatan Surga adalah mereka yang durhaka kepada suaminya, kufur nikmat atas pemberian suaminya, dan lisan mereka banyak digunakan untuk melaknat.[4] Wal’iyyadzubillah…
Tidakkah terbetik dalam hatimu untuk menjadi kesayangan bagi suamimu? Untuk menjadi bidadari baginya di dunia dan akhirat? Dan dengannya engkau akan memperoleh ridha dari Rabb-mu yang amat berlimpah…
Habibullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan sosok istri yang baik bagi seorang suami[5]. Dan bagaimanakah seorang suami akan menolak istri yang seperti ini, sungguh suatu perkara yang mustahil…
عَنْ أَبِي هَرَيْرَةَ قَالَ: قِيْلَ لِرَسُوْ لُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟
قَالَ: الَّتِيْ تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِيْ نَفْسِهَا وَمَالِهَابِمَا يَكْرَهُ
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Siapakah istri yang baik itu?’
Maka beliau menjawab: ‘Yang menyenangkan apabila dia dipandang dan menta’atinya apabila dia memerintahkannya, dan dia tidak pernah menyalahi suaminya pada dirinya dan hartanya yang suaminya tidak menyukainya.’”[6]

Tahukah engkau siapa istri yang baik itu…?
Yang telah disabdakan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya…
Istri yang baik adalah…
Yang apabila suami melihat dan memandang kepadanya…
Pasti akan menyenangkan suaminya…
Pasti akan menyejukkan pandangan mata suaminya…
Dan dirinya selalu berhias…
Wajahnya selalu berseri dan menenangkan hati…
Penampilan dan pakaiannya selalu menarik…
Dan pada semuanya…
Demi menunaikan hak suaminya…
Sehingga sang suami akan mengatakan, istriku sangatlah menarik…

Akan tetapi, bagaimana dengan istri yang tidak baik…
Istri yang tidak baik itu adalah…
Istri yang tidak menyenangkan apabila dipandang…
Wajahnya selalu cemberut dan merengut ketika bertemu dengan suaminya…
Dirinya selalu menyusahkan hati dan fikiran suaminya…
Pada penampilan dan pakaiannya selalu kusut dan tidak menarik…
Sikap dan tutur katanya keras dan kasar…
Sehingga ketika suami berada bersamanya, maka dia seolah berada dalam Neraka…

Suamiku, engkau adalah Surgaku dan Nerakaku. Maka apa lagi yang akan kuutamakan sebagai seorang istri selain memenuhi hak-hakmu atas diriku. Akan kujadikan engkau senantiasa ridha padaku. Akan kujaga amanat yang telah engkau embankan di pundakku. Dan tidaklah aku akan membantah perintahmu selain perintah untuk bermaksiat kepada Allah…
***
Demikianlah risalah sederhana ini tersusun dengan mengharap wajah-Nya. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para pengikutnya hingga yaumil akhir kelak.
Semoga Allah senantiasa melapangkan qulub-qulub yang sempit oleh syahwat dan syubhat kepada jalan kebenaran yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya ridwanullahu ‘alaihim ajma’in berada di atasnya.

Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.

Al-Faqir ila Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim
Ummu Sufyan Rahma binti Muhammad

___________
Catatan kaki:
[1] Hadits shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1853), Ahmad (IV/381), Ibnu Hibban (no. 1290 – Mawaarid –).
[2] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/341) dan al-Hakim (II/189).
[3] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/427, 436 dan 443) dan Muslim (no. 2738).
[4] Al-Masaail (IX/159) oleh Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Darus Sunnah.
[5] Lihat Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin karya Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
[6] Hadits shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh Ahmad (II/251, 432 dan 438), an-Nasa’i (no. 3231 dan ini lafadznya) dan al-Hakim (II/161-162).

Tips Memilih Baju Bayi

Memilih busana untuk sang buah hati, apalagi yang masih bayi memang harus teliti. Pasalnya kulit bayi masih sangat sensitif. Salah memilih bahan atau pakaian bisa menjadi masalah nantinya.

Kulit adalah organ terbesar yang terdapat di permukaan yang selain menutupi hampir seluruh permukaan tubuh,juga mempunyai fungsi yang beragam dengan masalah kelainan yang dapat bersifat lokal atau setempat, serta dapat merupakan gejala penyakit berat.

Spesialis Anak dari Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- RS Cipto Mangunkusumo, Dr dr Rini Sekartini Sp.AK mengatakan sel-sel yang terbentuk pada kulit anak masih belum sempurna. “Kulit bayi mudah sekali menyerap zat-zat yang menempel pada permukaan kulitnya. Zat-zat berbahaya tersebut bisa terdapat pada pakaian yang dikenakannya,” tutur Rini.

Untuk itu, menjaga kesehatan kulit bayi ini harus diperhatikan dari hal terkecil, misalnya bahan pakaian, tekstur, bentuk hingga ornamen yang terdapat pada pakaian bayi. Jika tekstur bahan pakaian bayi kasar maka friksi (pergesekan) antara kulit bayi dan bahan akan membuat kulit bayi iritasi. Kulit bayi mengandung kadar lipid yang tinggi sehingga memudahkan iritan melewati kulit.

“Friksi ini terjadi di antaranya antara pakaian dan kulit,atau bisa juga diaper dan kulit,” tutur Rini, yang juga tergabung dalam anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia unit kelompok kerja Tumbuh Kembang- Pediatri Sosial.

Kontak baju atau pakaian tidak hanya pada bagian tangan, tetapi juga hampir seluruh tubuh, untuk itu pilih pakaian anak yang aman dan nyaman untuk keseluruhan tubuhnya. Aman dalam arti tidak membahayakan, dilihat dari materi bahan pakaian yang digunakan, bahan yang terbaik adalah bahan katun, kemudian tidak luntur karena proses pewarnaan yang kurang tepat, tidak menimbulkan rasa gatal atau alergi di kulit serta patut diperhatikan penggunaan aksesori, pakaian jangan sampai membahayakan tubuh.

Pemilihan pakaian berbahan katun sangat baik untuk bayi, karena termostat (pengatur suhu tubuh pada jaringan kulit) belum bekerja optimal. Selain itu juga lapisan lemak belum terbentuk di minggu-minggu awal.

Sebaiknya kenakan pakaian hangat saat cuaca dingin dan tipis pada cuaca panas, serta sesuaikan dengan kondisi lingkungan anak. Faktor lain dari nyaman adalah pakaian harus memiliki sirkulasi udaranya yang baik, tidak terlalu ketat,berbahan lembut,dan dapat dengan mudah menyerap keringat. Selain itu, model pakaian pun harus diperhatikan, sesuaikan dengan usia bayi atau anak Anda nyaman menggunakannya.

”Cari model baju yang sederhana, dengan bahan yang sangat aman pada anak serta hindari menggunakan pakaian dengan banyak aksesori yang membahayakan anak,”papar Rini saat menghadiri acara penganugerahan sertifikasi Oeku-Tex® Standard 100 kelas 1 kepada Velvet Junior di Kidsport Pondok Indah, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Pilihlah pakaian anak dengan detail yang tidak ribet agar anak dapat bergerak bebas. Beberapa penelitian, dikatakan Rini menunjukan bahwa pemilihan pakaian yang kurang nyaman menyebabkan bayi tiba-tiba rewel atau sering menangis.

Tips Berpakaian Nyaman

Menurut Sales & Marketing Manager Velvet Junior, Chodijah produknya yang tergolong sebagai salah satu merek pakaian bayi dan anak dengan produk standardisasi Oeko-Tex® Standard 100 kelas 1 (dibaca: okotex). ”Standardisasi tersebut merupakan jaminan bahwa produk fesyen Velvet sangat nyaman untuk bayi dan anak-anak, sekaligus tidak menimbulkan iritasi pada kulit,” ucapnya saat menjadi pembicara pada acara penganugerahan sertifikasi Oeku-Tex® Standard 100 kelas 1 kepada Velvet JuniorJakarta.

”Para orangtua harus memilih busana yang nyaman dalam memilih pakaian bayi dan anak-anak dan perhatikan pula bahannya untuk kesehatan kulit,”ucap Chodijah.

Melalui standardisasi tersebut setiap pakaian dipastikan bebas dari zat pewarna yang mudah luntur, material berbahaya, zat kimia berbahaya serta model yang sesuai untuk bayi.

Beberapa hal yang juga ditekankan oleh Rini saat memilih pakaian untuk anak antara lain:
* Pilihlah pakaian bayi berbahan lembut dan longgar. Hal ini agar bayi dapat bergerak dengan leluasa.
* Pilih pakaian yang aman, dalam arti tidak membahayakan, dilihat dari materi bahan pakaian yang digunakan. Bahan yang terbaik adalah bahan katun, kemudian tidak luntur karena proses pewarnaan yang kurang tepat, tidak menimbulkan rasa gatal atau alergi di kulit.
* Perhatikan setiap detail pakaian. Hindari pakaian yang tedapat ornamen atau asesoris. Asesoris pada pakaian bayi bisa sangat berbahaya karena bisa saja tertelan saat bayo memainkannya.
* Pilih pakaian yang perawatannya mudah. (cr1/rin)
***

sumber: http://www.republika.co.id/berita/59990/Jeli_Pilih_Pakaian_si_Kecil

Muslimah Juga Bisa Cantik

Penyusun: Ummu Sufyan Rahma binti Muhammad*

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, menjadikannya pada posisi yang termulia, dengan bentuk yang terlengkap, perawakan yang ideal serta ciptaan yang utuh. Allah juga menitipkan watak kecintaan terhadap perhiasan dan kecantikan pada keturunan Adam ‘alaihis salam.

Wanita menjadi makhluk yang paling cenderung kepada perhiasan dan kecantikan. Sehingga tidak dapat kita nafikan bahwa gharizah (naluri) wanita terhadap kecantikan akan lebih besar dibandingkan dengan lelaki. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kelonggaran bagi kaum wanita untuk berhias.

Namun, dapat kita lihat pada zaman sekarang ini, para wanita telah diracuni pikiran dan hatinya mengenai era pemujaan tubuh. Dalam media-media cetak dan elektronik, banyak digembar-gemborkan bentuk fisik wanita idaman. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, harus sempurna seluruhnya. Wajah yang cantik dan atraktif, bibir yang seksi dan sensual, tubuh yang langsing, pakaian yang modis dan stylish, dan berbagai propaganda lainnya yang digunakan untuk menghinakan kaum wanita di mata dunia dan agama. Wal ‘iyyadzubillah…

Tahukah engkau saudariku, bahwa artis-artis telah menjadi ‘nabi baru’ tidak hanya di negeri kita ini, tapi juga di dunia ini. Mereka lebih dikenal oleh anak-anak, adik-adik dan saudari-saudari perempuan kita ketimbang para Shahabiyah radhiyallahu ‘anhum yang lebih mulia akhlaqnya. Mereka lebih dipilih untuk dijadikan panutan daripada orang-orang shalih yang telah jelas kebaikannya jika kita mencontoh mereka.

Sebagian di antara mereka ada yang berdalih bahwa dengan menjadi seorang muslimah, mereka tidak akan cantik lagi. Karena kecantikan mereka akan tertutup dengan jilbab. Disamping itu, kesenangan mereka akan berhias (bersolek) juga akan hilang, karena Islam mengharamkan tabarruj. Kemudian, mereka lebih memilih untuk menuruti kemauan syahwatnya akan dunia daripada kebaikan untuk dirinya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Disini kita akan membahas akhlaq yang harus jadi bagian dari akhlaq kita, yaitu akhlaq seorang muslimah ketika dia berhias untuk mempercantik dirinya.

Berhiaslah, Saudariku…
Berhiasnya seorang wanita haruslah sesuai dengan ketentuan syara’. Dan termasuk berhias yang dibolehkan bagi seorang wanita adalah memakai pakaian yang indah, perhiasan, wewangian dan berbagai kosmetik yang tidak akan berdampak negatif terhadap dirinya[1].
Seorang wanita sangat dianjurkan untuk berhias ketika dia hendak menemui suaminya. Karena suami akan lebih senang ketika melihat istrinya dalam keadaan yang baik dan menarik. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ketika pulang dari suatu peperangan:
أَمْهِلُوا حَتَّى نَدْخُلَ لَيْلاً كَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ، وَتَسْتَحِدَّ الْمَغِيْبَةُ
“’Tundalah, sehingga kita memasuki malam hari agar para istri berdandan dan bersiap-siap dulu[2].
(Jabir berkata) Rasulullah juga mengatakan:
إِذَا قَدِمْتَ فَالْكَيْسَ الْكَيْسَ.
‘Dengan demikian, ketika kamu datang, istrimu benar-benar tampak cantik.’”[3]
Adapun bagi wanita yang belum menikah, maka tidak ada larangan baginya untuk berhias. Namun, berhiasnya seorang wanita yang belum menikah hanya boleh dilakukan di depan mahramnya[4]. Dan bagi keduanya, baik wanita yang sudah menikah maupun yang belum menikah, tidak boleh menampakkan perhiasannya di depan orang-orang yang bukan mahramnya kecuali yang biasa tampak dari mereka, sebagaimana telah difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla:
…وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَــرَمِنْهَا
“…dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An-Nur: 31)
Berikut ini adalah beberapa adab berhias yang dibolehkan bagi kaum wanita:
1. Tidak berlebihan dalam berdandan
Apabila seorang wanita muslimah berdandan hendaklah menyelisihi wanita-wanita kuffar dan bersederhanalah dalam berdandan. Al-Farafishah bin al-Ahash menasihati puterinya, Nailah, yang telah dinikahi oleh Amirul Mu’minin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu: “Wahai puteriku, engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini: bercelaklah dan mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan.”
Dan nasihat Abul Aswad kepada puterinya: “Janganlah engkau cemburu, sebab kecemburuan itu adalah kunci perceraian. Berhiaslah, dan sebaik-baik perhiasan ialah celak. Pakailah wewangian dan sebaik-baik wewangian ialah menyempurnakan wudhu’.”[5]
Begitulah nasihat kaum salaf kepada puteri-puterinya yang telah menikah. Mereka menyuruh puteri-puterinya agar selalu menjaga pandangan dan penciuman suaminya dengan cara yang sederhana.[6]
2. Memakai pakaian indah
Pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup aurat, tetapi dia juga berfungsi sebagai perhiasan. Allah Ta’ala telah menerangkan dalam firman-Nya:
يَبَنِى ءَادَمَ قَدْ أَنْزَلْنَاعَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَرِى سَوْءَتَكُمْ وَرِيْشًا
“Hai bani Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan.” (QS. al-A’raaf: 26)
Seorang wanita dibolehkan memakai pakaian yang indah dan hal ini sangat dianjurkan ketika dia sedang bersama dengan suaminya, agar menarik hati suami. Salah satu pakaian yang dibolehkan bagi wanita adalah pakaian yang terbuat dari sutra. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberi pakaian sutra oleh Ukaidir Dumah, lalu beliau memberikannya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum dan bersabda:
شَقَّقْهُ خُمُرًا بَيْنَ الْفَوَاطِمِ.
“Potong-potonglah pakaian sutra ini untuk kerudung Fathimah.”[7]
3. Memakai perhiasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيْرُ لِلإِنَاثِ مِنْ أُمَّتِيْ وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُوْرِهَا.
“Dihalalkan emas[8] dan sutra bagi para wanita dari umatku dan diharamkan bagi para lelaki dari umatku.” [9]

Larangan Berhias Seperti Wanita Jahiliyah dan Kaum Lelaki
Tidak jarang kita lihat seorang wanita yang karena keinginannya untuk tampil ‘sempurna’ bak bintang iklan yang dilihatnya di televisi, membuatnya ingin meniru penampilan sang bintang tersebut. Padahal menurut syari’at, penampilan sang bintang jauh dari sempurna, karena dia meniru gaya berpenampilan wanita-wanita jahiliyah dari kaum kuffar. Dan Allah Ta’ala telah melarang kita untuk berhias seperti wanita-wanita jahiliyah:
وَلاَتَبَرُّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَهِلِيَّـةِ الْأُولَى
“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. al-Ahzab: 33)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun telah bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”[10]
Telah disebutkan di atas bahwa berhias hukumnya mubah (boleh), akan tetapi Islam tidak begitu saja melepaskan tali kekang hanya karena keinginan dan tabiat tersebut. Islam memberikan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar dan mengharamkan beberapa hal yang tidak boleh diterjang. Batasan ini bukanlah dimaksudkan untuk menghakimi atau membebani bahkan mendzalimi manusia, tetapi Allah Jalla Dzikruhu menetapkannya untuk kebaikan bagi manusia itu sendiri. Karena Allah Maha Mengetahui segala kebaikan bagi hamba-Nya, sekalipun hamba-Nya tidak menyukainya.

Allah Ta’ala telah berfirman:
وَعَسَى أَنْ تَــكْرَهُوْا شَيْـئًا وَهُوَخَيْرٌلَّكُـمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْـئًا وَهُوَشَرٌلَّكُـمْ وَاللهُ يَعْـلَمُ وَأَنْتُـمْ لاَ تَعْـلَمُوْنَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)
Berikut ini adalah beberapa larangan dalam berhias yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam:
1. Menyambung rambut (al-washl)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَعَنَ اللهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ.
“Allah melaknat penyambung rambut dan orang yang minta disambung rambutnya.”[11]
2. Menyemir/mencat rambut dengan warna hitam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abu Quhafah yang datang dengan rambut dan jenggot yang penuh dengan uban ketika Fat-hu Makkah:
غَيِّــرُوا هَــذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ.
“Hilangkanlah ubanmu, tapi jangan dengan warna hitam.”[12]
3. Mentato tubuh (al-wasym), mencukur alis (an-namsh), mengikir gigi (at-taflij)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَعَنَ اللهُ الْوَا شِمَاتِ وَالْمُسْنَوْشِمَاتِ، وَالْوَاصِلاَتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ، الْمُغَيِّرَاتِ حَلْقَ اللهِ.
“Allah melaknat orang yang mentato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, dan wanita yang meregangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.”[13]
4. Mengenakan wewangian bukan untuk suaminya (ketika keluar rumah)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اَيُّمَا امْرَاَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ خَرَجْتَ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيْحَــهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ وَكُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ.
“Setiap wanita yang menggunakan wewangian, kemudian ia keluar dan melewati sekelompok manusia agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina, dan setiap mata itu adalah pezina.”[14]
5. Mencat dan memanjangkan kuku[15]
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ: اْلاِخْتِتَانُ، وَاْلاِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيَمُ اْلأَ ظْفَارِ، وَنَتْفُ اْلإِ بْطِ.
“Yang termasuk fitrah manusia itu ada lima (yaitu); khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”[16]
6. Berhias menyerupai kaum lelaki
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupakan diri seperti wanita dan melaknat wanita yang menyerupakan diri seperti laki-laki.”[17]

Demikian pembahasan singkat mengenai fiqh kecantikan dan adab berhiasnya seorang wanita muslimah. Sehingga para wanita muslimah dapat terhindar dari berbagai bentuk tasyabbuh kepada wanita-wanita kuffar dan dapat tampil cantik dengan tetap mempertahankan jati dirinya sebagai muslimah.

Semoga Allah menetapkan hati kita di atas kebenaran dan kelurusan manhaj Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabat ridwanullahu ‘alaihim ajma’in.

Wallahu Ta’ala a’lam bish shawab.

Maraji’:
Adaab az Zifaaf [Terj] oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, terbitan Media Hidayah
Fatwa-Fatwa Tentang Wanita oleh Majmu’ah Minal Ulama, terbitan Darul Haq
Fiqh Kecantikan oleh Dr. Muhammad Utsman Syabir, terbitan Pustaka at-Tibyan
Panduan Lengkap Nikah dari “A” Sampai “Z” oleh Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, terbitan Pustaka Ibnu Katsir
___________
Catatan kaki:
[1] Ziinatul Mar’ah oleh asy-Syaikh Abdullah al-Fauzan, hal. 15.
[2] Maksudnya adalah menyisir rambut yang kusut dan mencukur bulu kemaluannya.
[3] Riwayat al-Bukhari dalam kitab an-Nikaah (no. 5254) dan Muslim dalam kitab an-Nikaah (no. 847) . Dan ini lafadznya.
[4] Orang-orang yang menjadi mahram bagi wanita telah disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya di surat an-Nur ayat 31.
[5] Panduan Lengkap Nikah, hal. 415-416.
[6]
[7] Riwayat Muslim dalam kitab al-Libaas waz Ziinah (no. 1343).
Lafadz “al-fawaatim” dalam hadits ini maksudnya adalah Fathimah binti Rasulillah radhiyallahu ‘anhum, Fathimah binti Asd, Fathimah (ibu) Ali bin Abi Thalib, dan Fathimah binti Hamzah bin Abdul Muthalib.
[8] Terjadi ikhtilaf di kalangan ulama’ mengenai boleh atau tidaknya wanita memakai perhiasan emas. Syaikh al-Albani rahimahullah berpendapat –dengan ilmu yang ada pada beliau– bahwa haram hukumnya seorang wanita memakai perhiasan emas, sebagaimana diharamkan juga pada kaum lelaki. Penjelasan beliau tentang masalah ini dapat dilihat di kitabnya Adaab az-Zifaaf (terjemah) hal. 199-233.
Namun, menurut pendapat jumhur ulama’, wanita dibolehkan memakai perhiasan emas. Wallahu a’lam.
[9] Riwayat Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, ath-Thabrani. Dishahihkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim dan ath-Thabrani.
[10] Riwayat Ahmad, Abu Dawud ‘Abd bin Humaid dalam kitab al-Muntakhib (II/92), ath-Thahawi dalam kitab al-Musykil. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Imam al-Iraqi. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Sanadnya hasan.”
[11] Riwayat Bukhari dalam kitab an-Nikaah (no. 5205), Muslim dalam kitab al-Libaas waz Ziinah (no. 1383), an-Nasa’i dalam kitab Ziinah (no. 5097), dan Ahmad (no. 2482).
[12] Riwayat Muslim dalam kitab al-Libaas waz Ziinah (no. 1347).
[13] Riwayat Bukhari dalam kitab Tafsiirul Qur’an (no. 4886), Muslim dalam kitab al-Libaas waz Ziinah (no. 1386), an-Nasa’i dalam kitab az-Ziinah (no. 5099), Abu Dawud dalam kitab at-Tarajjul (no. 4169), Ibn Majah dalam kitab an-Nikaah (no. 1989), Ahmad (no. 3871), ad-Daarimi dalam kitab Isti’dzaan (no. 2647).
[14] Riwayat Ahmad, an-Nasa’i, dan al-Hakim dari jalan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
[15] Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Inilah kebiasaan buruk yang ditularkan dari wanita-wanita berkelakuan buruk dari bangsa Eropa kepada kebanyakan wanita muslimah, yaitu mencat kuku mereka dengan warna merah dan memanjangkan sebagiannya.” (Lihat Adaabuz Zifaaf –kitab asli– hal. 204).
Syaikh Ibn Baaz rahimahullah berkata: “Tidak boleh memanjangkan kuku; karena memanjangkan kuku menyerupai binatang dan sebagian kaum kafir. Mencat kuku sebaiknya tidak dilakukan dan wajib dihilangkan ketika berwudhu’, karena menghalangi sampainya air ke kuku.” (Lihat Fataawaa al-Mar’ah hal. 167).
[16] Riwayat Bukhari dalam kitab al-Libaas (no. 5889), Muslim dalam kitab ath-Thaharah (no. 257), at-Tirmidzi dalam kitab al-Adab (no. 2756), an-Nasa’i dalam kitab ath-Thaharah (no. 10), Abu Dawud dalam kitab at-Tarajjul (no. 4198), Ibn Majah dalam kitab ath-Thaharah (no. 292), Ahmad (no. 7092), Malik dalam kitab al-Jimaa’ (no. 1709).
[17] Riwayat Bukhari (X/274), at-Tirmidzi (II/129), al-Baghawi dalam kitab Hadits ‘Ali bin Ja’d (II/145/5), Ibn Hibban dalam kitab ats-Tsiqat (II/89), Abu Nu’aim dalam kitab Akhbar Ashbahan (I/120), Ibn Asakir dalam kitab Tahrim al-Abnah (I/166). Hadits ini dinilai shahih oleh at-Tirmidzi.
____________

* beliau adalah penulis dan pengirim artikel ini sebagaimana permintaan saya beberapa waktu lalu.

Jazakillah khair ukhti fillah atas nasihat yang berharga ini…Semoga Allah membalasmu dengan Jannatul Firdaus. Amin