Tag Archives: adab bertanya

Iman Yang Sejati

skyoleh: Ustadz Abu Muslih

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Abul Yaman menuturkan kepada kami. Dia berkata; Syu’aib mengabarkan kepada kami.Dia berkata; Abu Zinad menuturkan kepada kami dari al-A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman bab Hubbur rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam minal iman)

Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ

بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار

Muhammad bin al-Mutsanna menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Wahhab menuturkan kepada kami. Dia berkata; Ayyub menuturkan kepada kami dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Ada tiga perkara; barangsiapa yang memiliki ketiganya maka dia akan merasakan manisnya iman. Yaitu apabila Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya. Dan dia mencintai orang lain semata-mata karena Allah. Dan dia membenci kembali kepada kekafiran sebagaimana orang yang tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman bab halawatul iman)

Kedua buah hadits di atas memberikan banyak pelajaran berharga, di antaranya adalah :

  • Bersumpah dengan menyebut Allah, tidak boleh dengan menyebut makhluk
  • Bolehnya bersumpah untuk menegaskan sesuatu yang penting tanpa diminta sebelumnya
  • Dinafikannya keimanan dari orang yang lebih mencintai orang tua dan anaknya daripada kecintaan kepada Rasul
  • Bolehnya mencintai orang tua dan anak-anak
  • Ketaatan kepada rasul harus lebih didahulukan daripada ketaatan kepada orang tua atau pun keinginan anak
  • Iman itu bertingkat-tingkat Iman juga mencakup amal perbuatan, tidak cukup di lisan
  • Iman memiliki rasa manis yang bisa dirasakan oleh orang yang beriman
  • Kecintaan kepada rasul merupakan bagian dan konsekuensi kecintaan kepada Allah
  • Di dalamnya juga terkandung keutamaan mempelajari al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Dorongan untuk ikhlas dalam membangun ukhuwah
  • Kecintaan kepada orang-orang salih merupakan bagian dari ajaran Islam
  • Kewajiban untuk membenci kekafiran dan pelakunya
  • Musibah yang menimpa fisik dan kesehatan tubuh lebih ringan daripada musibah yang menimpa agama dan jiwa manusia
  • Dan faidah lain yang belum saya ketahui, wallahu a’lam.

**

Sudah pas kah pertanyaan kita?

 

mountain-sun Seorang teman mengirim sms kepadaku yang bunyinya kurang lebih begini, “ukh kenapa ya ada orang yang berbicara menyakitkan hati, kenapa aku kok belum isi juga? padahal aku kan baru tiga bulan menikah, aku jadi kepikiran terus.” Ada juga seseorang yang pernah berkata, “kenapa ya dia kok belum nikah-nikah?”, ada juga yang nyeletuk ketika bertemu teman yang bawa bayinya, “Wah lucu banget bayi kamu tapi kok kulitnya item ya?”

Hmm…sebenarnya memang wajar sih pertanyaan dan ungkapan semacam itu karena keingintahuan seseorang mengenai apa yang terjadi dengan orang lainnya memang besar. Bagi seseorang yang cukup umur namun belum menikah, pertanyaan yang biasa dilontarkan adalah kok belum nikah juga? , yang sudah menikah, pertanyaannya kapan hamilnya?, yang sudah punya anak tapi belum hamil lagi, pertanyaannya, lho kok nggak nambah juga?, yang anaknya berkulit hitam atau berambut keriting atau yang berhidung kurang mancung, nah pertanyaannya kira-kira apa, tahu sendiri kan ?

Mungkin bagi yang bertanya sih memang wajar. wajar menurutnya tapi belum tentu bagi yang dikasih pertanyaan. Kita mungkin tidak sadar bahwa pertanyaan atau ungkapan semacam itu, walau cuma sekedar basa-basi atau ungkapan rasa ingin tahu kita namun begitu menghunjam bagi yang ditanya. pertanyaan kok belum nikah sih? kok belum hamil juga sih? kok anaknya begini sih? Menurutku pertanyaan semacam juga membuat bingung yang ditanya. Dia pasti juga bertanya sendiri, iya ya kenapa nggak ada ikhwan yang datang meminangku? kenapa aku belum hamil juga, ada apa denganku? kenapa anak pertamaku sudah besar tapi adiknya belum ada juga? kenapa anakku tidak secantik anak itu, dan seterusnya….

La haula wala quwwata illa billaah….hanya kepadaMu ya Rabii aku mengadu. Mengapa mereka menanyakan sesuatu hal yang menjadi wilayah kekuasaan-Mu? tidakkah mereka tahu bahwa kami juga tidak berdaya apapun dengan takdir yang Kau gariskan? kami juga tidak tahu harus bagaimana jika jodoh tak kunjung datang, jika anak belum juga hadir, jika anak kami berambut keriting atau bermata sipit atau berkulit hitam, memangnya apa kekuatan kami untuk mengatur semua yang menjadi keinginan kami? Semua ini sudah menjadi ketentuan-Mu, kami tak berdaya apapun, dan mengapa mereka menanyakan sesuatu yang menjadi wilayah takdir-Mu?

Okelah jika mereka bertanya, kok nilai ujianmu jelek? ya karena aku nggak belajar. Kok anakmu kelakuannya nggak sopan begitu? ya karena tidak diajari sopan santun. Nah kalau ini memang kesalahan kita sendiri. Tapi kalau pertanyaan-pertanyaan diatas??….

Seringkali kita tidak menyadari bahwa suami yang kita miliki sekarang bukanlah karena kita yang mengusahakan untuk bertemu kemudian menikah dengannya, tapi Allah-lah yang memberikan dia untuk kita. Kita kadang juga merasa hebat karena kita bisa hamil dan punya anak, namun kita lupa bahwa Dialah yang berkuasa menciptakannya, bukan kita. Kita juga seringkali bangga dengan cantiknya atau menggemaskannya bayi kita, namun kita tidak sadar bahwa Allah-lah yang menganugerahi semua itu pada bayi kita.

Memangnya kita bisa apa? Jika Allah mentakdirkan kita menikah pada usia yang wajar, apakah itu berarti kita hebat? Jika kita telah punya keturunan sementara yang lain belum apakah berarti kita hebat? apakah jika bayi kita sehat dan cantik dibandingkan dengan bayi yang lain berarti kita hebat?

Kita, manusia tak berdaya apa-apa….jika kita bertanya mengenai wilayah kekuasaan Allah sama saja kita mempertanyakan perbuatan-Nya.

Sekarang, sepertinya tidak perlu kita tanyakan kenapa teman kita kok nggak nikah-nikah juga, kenapa saudara kita kok belum hamil juga, kenapa anak teman kita kok hitam kulitnya, kenapa anaknya belum nambah juga…

Tak usahlah kita melontarkan pertanyaan semacam itu walau sekedar basa-basi, karena siapa tahu hatinya yang lembut menjadi sedih dikarenakan pertanyaan kita itu. Cukuplah kita mendo’akan saudari kita supaya Allah memudahkannya, supaya Allah memberi kesabaran padanya, karena apa yang kita miliki dan apa yang belum saudari kita miliki semuanya merupakan ketentuan takdir-Nya yang telah Ia tuliskan limapuluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.

Semoga Allah mejadikan kita semua hamba yang senantiasa bersyukur dengan karunia-Nya dan senantiasa bersabar dengan ujian dari-Nya. Amin