Tag Archives: wanita salihah

Kemuliaanmu di Rumahmu

“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur (untuk berhubungan suami-istri), kemudian ia tidak memenuhi panggilannya, melainkan Dia yang ada di atas langit (Allah), murka kepadanya, hingga suaminya itu rida kepadanya “ (HR.Muslim)

Hadits itu disebutkan dosen fiqh beberapa minggu lalu ketika membahas tentang hak-hak suami istri. Beliau menjelaskan (dalam bahasa Arab yang artinya kurang lebih) “Jadi, seorang istri wajib untuk memenuhi panggilan suaminya selama ia tidak memiliki udzur (seperti sakit, haid dan perkara lainnya yang dibolehkan syariat). Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa sekalipun ia (si istri) sudah di atas hewan tunggangannya, maka ia wajib memenuhi panggilan suaminya. Makanya kalau si istri sudah sampai airpot mau naik pesawat yang berangkat ke Amerika, misalnya, lalu suaminya menelepon, ‘Saya ingin ‘sesuatu’ sama kamu, ‘ maka itu wajib dipenuhi. “

Kami tertawa, merasa geli dengan contoh yang beliau berikan. Beliau memang sering menyebutkan contoh yang menggelitik (menurut kami) ketika mengajar.
“Karena itu, seorang istri harus memperhatikan hak-hak suaminya. Memperhatikan rumah dan anak-anaknya, karena itu merupakan tanggung jawabnya. Jangan sampai ia sibuk di luar rumah sehingga terbengkalailah hak suami, “ ujar beliau. “Dan jangan pula si suami sibuk bekerja di luar, ia juga sibuk di luar, lantas siapa yang akan membimbing anak-anak? Apakah mau diserahkan kepada pembantu? Sedangkan pembantu zaman sekarang kebanyakan mereka fasik, tidak mengerti agama. “

Beliau lalu berkata, “Makanya saya nasehatkan bagi tolibat (para mahasiswi) setelah lulus dari sini tetap mengutamakan dan memperhatikan rumah (keluarga) dibandingkan mengajar. “

Mendengar itu saya jadi penasaran. “Ustadz, kalau begitu, apakah tolibat memilliki tanggung jawab dakwah di luar (rumah)? ” tanya saya.

Beliau menjawab, “Tidak, Urusan terkait dakwah (di luar) itu, ada di pundak kaum pria, bukan wanita. Makanya di kalangan salafussaleh dulu tak ada wanita yang keliling berdakwah, mengajar kesana-kesini meninggalkan rumahnya. Coba perhatikan Aisyah istri nabi. Beliau berdakwah, tapi itu di rumahnya, bukan di luar. Justru murid-muridnya lah ketika itu yang berdatangan ke rumahnya untuk menimba ilmu. “

Kemudian beliau berkata, “Kalau mengajar sekali atau dua kali seminggu sih, ya masih wajar. Tapi kalau setiap hari keluar, ke sana-sini, menghabiskan banyak waktu di luar, ketika sampai di rumah lalu suaminya ingin ‘bersenang-senang’ dengannya, apa yang akan ia katakan? ‘Ah, capek. ‘ Ini jelas keliru. Menunaikan hak suami itu merupakan kewajibannya. (sedangkan dakwah bukan kewajibannya).“

Saya bertanya lagi untuk lebih jelas, “Jadi, sebenarnya tanggung jawab dakwah kepada para wanita dan ummahat itu asalnya ada di tangan kaum pria? “

Beliau menjawab, “Ya, kewajiban mendidik para istri dan ummahat, itu asalnya ada pada para suami. Tapi kalau mereka (para suami) tidak bisa dan tidak memiliki ilmu untuk mengajarkannya, barulah itu diserahkan pada orang lain yang mumpuni. Dan kalau keadaaanya sudah seperti itu (suami tak bisa mengajarnya) maka tak mengapa ia keluar untuk mempelajari perkara-perkara din yang vital baginya. “

Beliau juga berkata, “Diperbolehkan bagi seorang wanita untuk mengais rezeki di luar rumahnya, kalau ia memang memiliki hajat untuk itu, seperti membantu perekonomian keluarga yang tidak bisa dipenuhi suaminya, “

Kemudian menerangkan, “Akan tetapi, asalnya ia harus selalu memperhatikan urusan rumahnya dan tidak disibukkan dengan perkara di luar. Makanya dalam syariat, hanya pria yang diperintahkan untuk melakukan amalan yang banyak melibatkan fisik di luar seperti jihad, shalat berjamaah, dan lain-lain, sedangkan wanita tidak. “

Beliau menjelaskan lebih lanjut, “Dengan tidak diperintahkannya wanita melakukan amalan di luar, bukan berarti wanita tidak mendapatkan keutamaan apa-apa, mereka bisa pula menandingi amalan kaum pria. Disebutkan dalam suatu hadits, ‘Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. ‘ perhatikanlah keutamaan yang besar ini bagi wanita. “

Terima kasih ustadz, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas ilmu yang kau ajarkan. Ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami.

Aduhai, seandainya saja para muslimah mendengar nasehatmu, ya ustadz, tentu itu akan bermanfaat untuk mereka, insya Allah.

Seandainya saja para muslimah menyadari keagungan hak-hak suami mereka tentu mereka tak akan melalaikannya karena alasan apapun, termasuk juga karena dakwah.

“Seandainya saja aku diperbolehkan memerintah seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya. “ (HR. Tirmidzi)

“Lihatlah kedudukanmu di sisi suamimu, karena ia adalah surga dan nerakamu. “ (HR. Nasai)

Seandainya saja mereka menginsafi kalau anak-anak itu harta berharga yang membutuhkan perhatian dan bimbingan intensif, tentulah mereka tak akan membiarkan anak-anak mereka kebingungan memilih dan menjalani orientasi kehidupan mereka sehari-hari.

“Bila meninggal anak Adam, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya. “ (HR.Muslim)

Seandainya saja mereka mengetahui bahwa melalui tangan-tangan telaten merekalah, Allah akan memunculkan para pejuang umat yang akan membebaskan Al-Quds dari kaum yang dimurkai Allah, mengusir penjajah kafir dari Irak dan Afganistan, melepaskan penderitaan orang-orang yang terzalimi di Chechnya dan di berbagai belahan bumi Allah lainnya, niscaya mereka tak akan menyianyiakan dan menelantarkan aset berharga itu.

Ah, seandainya saja mereka mengetahui bahwa kemuliaan dan kehormatan mereka itu ada di dalam rumah, niscaya mereka tak akan meninggalkannya karena alasan apapun dan karena siapapun, kecuali sekedarnya saja.

Jakarta, 27 Shafar 1432/31 Januari 2011

sumber: http://anungumar.wordpress.com/2011/01/31/kemulianmu-di-rumahmu/#comment-435

Malu, Mutiara yang Terkubur

Ia begitu indah. Menghiasi hati pemeliharanya dengan pancaran sinar kebaikan. Akan tetapi, ia kini menghilang. Terpendam dalam kegelapan hati yang melupakannya. Itulah rasa malu. Bagaikan mutiara yang terkubur. Ia adalah keistimewaan para manusia, akhlak yang agung, tanpanya tidak ada kebaikan sedikitpun dalam kehidupan.

Apa Itu Malu?

Malu adalah getaran rasa takut dan segan yang terjadi di dalam hati untuk melakukan sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah Ta’ala, untuk tidak melakukan sesuatu yang telah diwajibkan Allah Ta’ala, atau untuk melakukan sesuatu yang tidak dianggap baik oleh manusia selama hal tersebut juga tidak dianggap baik oleh syariat.

Sehingga rasa malu menjadi penghalang antara keberanian untuk melakukan kemaksiatan dan menahan diri dari melakukannya, karena rasa malu ibarat bendungan yang apabila hancur, maka air pun akan mengalir dan menenggelamkan segala sesuatu. Oleh karena itu, jika seseorang tidak memiliki rasa malu, maka dia tidak memiliki bendungan, sehingga tidak ada yang menghalanginya dari melakukan kemaksiatan. Rasa malu juga tidak akan terjadi kecuali karena kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْر

“Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setangkai Cabang Keimanan

Seiring dengan bertambahnya rasa malu, maka keimanan pun bertambah. Sebaliknya, jika rasa malu itu berkurang, berkurang pula keimanannya. Karena rasa malu adalah sebagian dari iman. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَان

“Keimanan memiliki tujuh puluh  atau enam puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan “Laa ilaaha illallaah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan rasa malu adalah satu dari cabang-cabang iman.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Obat Penawar Keburukan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara perkara yang telah dipahami oleh manusia dari perkataan kenabian pertama adalah ‘Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang kamu suka.’” (HR. Bukhari)

Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya penghalang keburukan adalah rasa malu. Oleh karena itu, orang yang rasa malu telah hilang dari dalam hatinya, dia akan berbuat apa yang dia suka. Dia tidak merasa malu di hadapan manusia, di hadapan dirinya sendiri, bahkan di hadapan Allah Ta’ala. Maka dia pasti akan mendapatkan balasan dari apa yang dia perbuat.

Abu Dulaf al-’Ijli rahimahullahu berkata:

Apabila kamu tidak menjaga kehormatan..

Dan tidak takut Sang Pencipta..

Juga tidak merasa malu terhadap makhluk..

Maka lakukan apa yang kamu suka..

Rasa Malu Tidak Menghalangi Amar Ma’ruf Dan Nahi Munkar

Allah Ta’ala berfirman(yang artinya):

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Dosa yang pernah kita perbuat bukanlah menjadi alasan untuk meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Karena meninggalkannya juga termasuk dosa. Padahal setiap anak Adam sering melakukan kesalahan, bahkan setiap da’i pun pernah berbuat kesalahan. Seorang penyair berkata:

Jika saja orang yang berbuat dosa tidak pantas untuk menasehati manusia

Siapakah yang pantas menasehati para pelaku maksiat setelah kematian Nabi Muhammad

Rasa Malu Bukan Penghalang Menuntut Ilmu

Sebagaiamana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya dari Mujahid berkata: “Tidak akan belajar ilmu orang yang pemalu dan sombong.” Rasa malu bukanlah penghalang seseorang untuk berbuat kebaikan. Terlebih lagi kebaikan yang sangat agung, dimana kita diperintahkan untuk berlomba-lomba di dalamnya, seperti menuntut ilmu. Sungguh tidak sepatutnya rasa malu menghalangi kita menghadiri majelis ta’lim, bertanya tentang agama, dan mendalami syariat Islam. Sebagaimana kaum wanita anshor yang terkenal dengan sifat malu, akan tetapi hal itu tidak menghalangi mereka dari mempelajari agama mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia mengabarkan:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَسْأَلْنَ عَنْ الدِّينِ وَأَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِيهِ

“Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar. Rasa malu mereka tidak menghalangi mereka untuk mendalami ilmu agama.”

Tidak Menampakkan Perbuatan Kemaksiatan Adalah Rasa Malu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ (الْمَجَانَةِ) أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan (bermaksiat). Di antaranya adalah seorang lelaki yang pada malam hari melakukan satu perbuatan maksiat, padahal Allah Ta’ala telah menutupi aibnya tersebut, tetapi ketika di pagi hari, dia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Pada malam hari Rabb-nya telah menutupi aibnya, akan tetapi ketika pagi hari dia membuka penutup tersebut darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fenomena Rasa Malu

Sebagai contoh nyata adalah sikap malu seorang remaja putri yang bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, yang kisahnya telah disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan Balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Qoshshoh: 25)

Allah Ta’ala telah menyifatinya dengan rasa malu di dalam cara jalan dan bicaranya, yang semuanya dihiasi dengan rasa malu.

Namun kenyataan sekarang berbicara lain. Kebanyakan wanita sekarang menjadi pameran fashion. Mereka keluar rumah membuka aurat, ber-tabarruj, dan memakai wangi-wangian. Sungguh rasa malu telah hilang dari mereka. Bahkan tidak sedikit kaum lelaki  tanpa rasa malu mengumbar pandangan untuk mengintai aurat wanita. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui mata-mata yang berkhianat dan segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati? Tidakkah mereka tahu bahwa pandangan mata adalah panah beracun dari panah-panah setan laknatullah? Panah tersebut bisa saja menghancurkan keimanan. Sehingga ia berpeluang besar berpindah dari satu maksiat ke maksiat lain.

Ibnu as-Samaak rahimahullahu berkata:

Hai pecandu dosa, tidakkah kamu merasa malu..

Padahal Allah bersamamu di dalam kesendirianmu..

Penangguhan dosa dari Rabbmu telah menipumu..

Juga banyaknya keburukan yang telah ditutupi untukmu..

Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita agar bersikap malu untuk melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban. Akan tetapi, tidak selayaknya kita bersikap malu untuk meninggalkan keburukan dan mengerjakan kebaikan. Janganlah kita biarkan mutiara yang begitu indah terkubur dalam kegelapan hati. Akan tetapi, hiasilah hati kita dengan sinar kemuliaannya yang berkilau.  Allahu al-Musta’an.

[Abu Ahnaf Roni Nuryusmansyah]

http://ahnaf27.wordpress.com/2010/12/24/malu-mutiara-yang-terkubur-2/

Surgaku dan Nerakaku

Duhai para istri yang mendamba Surga…
Engkau telah memiliki jalan yang mudah untuk meraihnya
Jika saja engkau muliakan suamimu dan memenuhi hak-haknya atasmu
Tapi engkau pun bisa memilih jalan lain
Ketika engkau lalaikan dirimu dari ridhanya
Maka bersiaplah menuai sengsara di Neraka

Risalah ini adalah motivasi untukku dan untukmu wahai saudariku, baik yang telah menikah, yang belum menikah, dan yang akan menikah. Suami adalah Surga dan Neraka bagi para istri. Melalui perantara suamilah para istri akan mendapatkan ‘hadiah’nya di akhirat kelak. Apakah keridhaan ataukah murka dari Rabbul ‘Alamin yang akan kita dapat…? Semua itu bermula dari bagaimana sikap kita terhadap suami. Maka perhatikanlah dengan seksama.
Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, suami ibarat raja dalam sebuah negara. Istri adalah wakil suami yang harus setia, istri adalah pelaksana semua hal yang diamanatkan padanya. Maka jagalah hal ini dengan sebaik-baiknya.
Wahai saudariku, ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan dalam sabdanya:
فَإِنِّيْ لَوْ كُنْتُ اَمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِاللهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّـذِيْ نَفْسُ مَحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّيَ الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا
“Sesungguhnya, jika sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, maka aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Maka demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sehingga dia menunaikan hak suaminya.”[1]
Aduhai, alangkah besarnya hak suami terhadap istri-istrinya. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat agung di atas. Jika manusia dibolehkan sujud kepada manusia, maka yang paling berhak untuk itu adalah suami…
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun hingga bersumpah: Maka demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sehingga dia menunaikan hak suaminya.
Tidaklah dikatakan seorang istri itu memenuhi hak Rabb-nya hingga dia memenuhi hak suaminya. Allahu Akbar…!
Banyak istri dan wanita yang telah lupa dengan pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada bibinya Hushain bin Mihshan ketika beliau bertanya tentang sikapnya terhadap suaminya:
فَانْطُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَجَنَّتُكِ و نَارُكِ
“Perhatikanlah olehmu, dimanakah engkau dari (memenuhi hak)nya, karena sesungguhnya dia (suamimu itu) adalah surgamu dan nerakamu.”[2]
Maka, suami itu adalah jalan para istri untuk meraih kenikmatan Surga atau menjadi sebab bagi para istri tenggelam dalam api Neraka. Manakah yang hendak engkau pilih wahai para istri…? Surgakah atau Nerakakah…?
Tahukah engkau, bahwa sedikit sekali kaum wanita yang akan menjadi penghuni Surga? Demikian khabar yang disampaikan oleh al-Mudzakir Muhammad bin ‘Abdullah ‘alaihish sholatu wa sallam dalam sabdanya:
إِنِّ أَقَلَّ سَاكِنِيْ الْجَنَّةِ النِّسَاءُ
“Sesungguhnya penghuni Surga yang paling sedikit adalah perempuan.”[3]
Bagaimanakah terjadi demikian?
Ketahuilah saudariku, para wanita yang menolak kenikmatan Surga adalah mereka yang durhaka kepada suaminya, kufur nikmat atas pemberian suaminya, dan lisan mereka banyak digunakan untuk melaknat.[4] Wal’iyyadzubillah…
Tidakkah terbetik dalam hatimu untuk menjadi kesayangan bagi suamimu? Untuk menjadi bidadari baginya di dunia dan akhirat? Dan dengannya engkau akan memperoleh ridha dari Rabb-mu yang amat berlimpah…
Habibullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan sosok istri yang baik bagi seorang suami[5]. Dan bagaimanakah seorang suami akan menolak istri yang seperti ini, sungguh suatu perkara yang mustahil…
عَنْ أَبِي هَرَيْرَةَ قَالَ: قِيْلَ لِرَسُوْ لُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟
قَالَ: الَّتِيْ تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِيْ نَفْسِهَا وَمَالِهَابِمَا يَكْرَهُ
Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Siapakah istri yang baik itu?’
Maka beliau menjawab: ‘Yang menyenangkan apabila dia dipandang dan menta’atinya apabila dia memerintahkannya, dan dia tidak pernah menyalahi suaminya pada dirinya dan hartanya yang suaminya tidak menyukainya.’”[6]

Tahukah engkau siapa istri yang baik itu…?
Yang telah disabdakan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya…
Istri yang baik adalah…
Yang apabila suami melihat dan memandang kepadanya…
Pasti akan menyenangkan suaminya…
Pasti akan menyejukkan pandangan mata suaminya…
Dan dirinya selalu berhias…
Wajahnya selalu berseri dan menenangkan hati…
Penampilan dan pakaiannya selalu menarik…
Dan pada semuanya…
Demi menunaikan hak suaminya…
Sehingga sang suami akan mengatakan, istriku sangatlah menarik…

Akan tetapi, bagaimana dengan istri yang tidak baik…
Istri yang tidak baik itu adalah…
Istri yang tidak menyenangkan apabila dipandang…
Wajahnya selalu cemberut dan merengut ketika bertemu dengan suaminya…
Dirinya selalu menyusahkan hati dan fikiran suaminya…
Pada penampilan dan pakaiannya selalu kusut dan tidak menarik…
Sikap dan tutur katanya keras dan kasar…
Sehingga ketika suami berada bersamanya, maka dia seolah berada dalam Neraka…

Suamiku, engkau adalah Surgaku dan Nerakaku. Maka apa lagi yang akan kuutamakan sebagai seorang istri selain memenuhi hak-hakmu atas diriku. Akan kujadikan engkau senantiasa ridha padaku. Akan kujaga amanat yang telah engkau embankan di pundakku. Dan tidaklah aku akan membantah perintahmu selain perintah untuk bermaksiat kepada Allah…
***
Demikianlah risalah sederhana ini tersusun dengan mengharap wajah-Nya. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para pengikutnya hingga yaumil akhir kelak.
Semoga Allah senantiasa melapangkan qulub-qulub yang sempit oleh syahwat dan syubhat kepada jalan kebenaran yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya ridwanullahu ‘alaihim ajma’in berada di atasnya.

Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.

Al-Faqir ila Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim
Ummu Sufyan Rahma binti Muhammad

___________
Catatan kaki:
[1] Hadits shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1853), Ahmad (IV/381), Ibnu Hibban (no. 1290 – Mawaarid –).
[2] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/341) dan al-Hakim (II/189).
[3] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/427, 436 dan 443) dan Muslim (no. 2738).
[4] Al-Masaail (IX/159) oleh Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Darus Sunnah.
[5] Lihat Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin karya Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
[6] Hadits shahih lighairihi. Diriwayatkan oleh Ahmad (II/251, 432 dan 438), an-Nasa’i (no. 3231 dan ini lafadznya) dan al-Hakim (II/161-162).

Menikah itu…

Menikah? wah satu kata ini pasti yang paling dirindukan oleh para akhwat yang mendengarnya…(ikhwan juga tentunya), tapi disini saya hanya ingin mengetengahkan tema menarik ini terutama untuk para calon isteri saja… Kok gitu? absolutely yes, since I am a wife so I will tell you what the wives use to deal with..

Jadi begini akhwat sekalian yang sangat penasaran dengan ‘gimana sih dunia pernikahan itu?’

Let me tell you dear sis… menikah tuh nggak cuma melulu soal cinta-cinta, bermesraan, bunga-bunga, dan hal indah-indah semacamnya. Oke kita yang udah menikah juga nggak menafikan betapa berharganya anugerah Allah berupa cinta dan kasih sayang ini.

Bayangin, kita yang dulu cuma berakrab-akrab ria dengan teman perempuan yang lain, bercanda ria, saling curhat hanya dengan sesama sahabat putri (catet ya: ini bagi kami yang nggak kenal pacaran lho..), lalu tiba-tiba ada ‘makhluk’ lain didepan kita, makhluk yang sebelumnya nggak kita kenal, yang jika ketemu aja kita nggak mau lihat wajahnya karena takut kena fitnah, dan bahkan makhluk yang telapak kaki kitapun tak mau kita perlihatkan kepadanya (karena itulah yang dituntunkan syariat), then suddenly..setelah menikah semua itu nggak berlaku lagi kan…

Nah, ternyata akhwatifillah, dalam bingkai pernikahan memang Allah telah menghalalkan apa-apa yang sebelumnya haram, kita mau bikin cerita cinta seperti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan bunda Aisyah…, kejar-kejaran dengan dia ditaman bunga gitu, ya tentu aja boleh.

Ya itulah karunia Allah kepada sepasang laki-laki dan wanita yang disatukan dalam tali pernikahan. Lha kalo yang belum nikah kayak begitu (yang orang sekarang bilang pacaran) itu namanya menentang larangan Allah, karena Allah telah berfirman,

“Dan janganlah kamu dekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isro’: 32)

Sementara orang yang pacaran tentu saja mendekati zina (memandang, menyentuh, mencium, dll) dan bahkan banyak yang jatuh kepada zina itu sendiri, naudzubillah min dzalik. Ingat kan sebuah hadist dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tentang kisah beliau ketika di isra’ mi’rajkan dimana beliau melihat sebuah tempat yang mirip tungku yang besar dimana ada pria dan wanita telanjang disana dan dinyalakan api dari bawah tungku tersebut, ketika Nabi bertanya kepada malaikat yang membawa beliau, ia menjawab bahwa mereka adalah laki-laki dan perempuan yang berzina di dunia.

Baiklah kembali kepada tema, jadi menikah nggak melulu soal cinta, namun ada hal besar lainnya disana ya ukhty,..Setelah menikah, maka kita memasuki kehidupan yang lain dari sebelumnya, ibarat anak SD yang mau masuk SMP, maka akan ada peningkatan ilmu yang berbeda yang harus kita jalani. Dan disinilah kita akan memahami (benar-benar memahami) apa yang dimaksudkan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah menjaga mereka…”(QS. An Nisa : 34)

dan juga sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam,

“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah; jika dia menyuruhnya iapun taat, jika dilihat menyenangkan dan jika diberi mau berterima kasih, dan jika suaminya pergi maka dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Hadits Riwayat Ibn Majah)

know why?

karena kita nggak hidup sendiri lagi ukhty, kita punya seseorang yang harus kita urus dari bangun tidur hingga mau tidur lagi.

Jika sebelum menikah, mau makan kita tinggal makan, mau pergi keluar tinggal keluar (jika tinggal dengan orang tua harus ijin mereka dulu), mau ngobrol sama teman sepuasnya tinggal ngobrol, mau ambil keputusan tinggal ambil, mau tidur tinggal tidur, mau nggak mandi seharian juga nggak ada yang negur, mau pake baju lusuh dirumah juga biarin.

Namun semua itu lain keadaannya jika kita telah menikah (dan bila kita ingin menjadi isteri yang salihah yang balasannya adalah Jannah).

Mau tak mau kita harus tinggalkan kebiasaan lama dulu dan mesti dirubah, karena…

Disana akan ada seseorang yang harus kita siapkan makanan ketika tiba waktu makan

ada seseorang yang harus kita siapkan bajunya untuk dicuci, disetrika,

Ada seseorang yang harus kita mintai ijin ketika kita mau keluar,

ada seseorang yang harus kita hormati dan ikuti keputusannya walaupun tidak sreg dengan ego kita,

ada seseorang yang harus kita mintai ijin ketika kita akan membelanjakan uang (kecuali jika itu uang penghasilan kita sendiri),

dan ada seseorang yang harus kita utamakan dari orang lain disekitar kita (misal kalau ada suami disamping kita jangan keenakan ngobrol ngalur-ngidul di telefon dengan teman lama, sedangkan suami dicuekin),

ada seseorang yang didepannya kita harus hadirkan penampilan yang terbaik, perhatikan dandanan dan wewangian (Peringatan: cuma dipakai didepan suami lho, not for public consumption!)

Bagaimana dengan konflik ?

Rumah tangga mana sih yang nggak lepas dari konflik? Bahkan rumah tangga Nabi dan sahabat pernah mengalami ujian, apalagi orang biasa seperti kita.

Namanya menikah itu kan menyatukan dua manusia dengan latar belakang, sifat dan karateristik yang berbeda, pasti sekali-kali pernah ada benturan di antara dua kepribadian ini. Ada kalanya konflik dua kepentingan terjadi, ini hal yang lumrah, namun yang harus diutamakan adalah BAGAIMANA kita mengelola, mencari jalan keluar dari konflik tersebut agar tidak berlarut-larut.

Nah disinilah perbedaan antara rumah tangga yang dibangun diatas landasan Islam yang kokoh dan yang rapuh.

Jika kita tidak tahu seni-nya berumah tangga islami ya, maka nggak heran jika ada isteri yang kabur dari rumah suami setelah ‘perang’, ada suami yang tega men-smack down isterinya hingga babak belur (lha emang isterinya atlet tinju?), ada isteri yang melempari suaminya dengan gelas, piring, dll ketika marah-marah, ada yang bahkan langsung nuntut cerai hanya karena masalah sepele…dan seterusnya

Terus bagaimana keluarga muslim yang sebenarnya dalam menghadapi konflik rumah tangga?, berikut tips-tips yang insya Allah berguna:

Jika salah seorang pasangan melakukan kesalahan, maka akuilah dan langsung meminta maaf, jangan biarkan berlarut-larut menjadi ‘perang dingin’ emang enak diem-dieman seharian? berikan saja dia senyuman, pelukan dan minta maaf kepadanya, dan berjanji (sungguh-sungguh lho ya) bahwa kita tidak akan mengulanginya lagi. Insya Allah suasana akan kembali cair

Jika suami atau isteri mendapati kesalahan pasangannya maka jangan serta merta marah-marah, namun tanyakan dulu apa alasan dia melakukan hal tersebut,barangkali kita belum tahu maksud dia dibalik perbuatannya itu. Cobalah khusnudzon dengan suami, insya Allah akan bermanfa’at, bukankah sebagian prasangka adalah dosa?  Coba kita tabayyun dulu, cari tahu dulu informasi yang sebenarnya, karena kalo kita langsung marah maka setan akan semakin menghembuskan nyala apinya…

Ketika kita marah atau kesal dengannya maka cobalah tahan lisan kita, jangan keluarkan kata-kata, sebab kalo kita lagi marah, setan masuk dan kata-kata yang keluar akan tidak terkontrol, takutnya kita akan mengeluarkan ucapan yang malah membikin suasana tambah runyam, tadinya suami mau minta maaf, tapi karena kita sudah terlanjur mengucapkan kata-kata yang menusuk, maka bisa-bisa malah suami yang gantian marah ke kita, wah tambah kacau deh..

seperti yang disabdakan Nabi, jika kita marah maka duduklah, kalo masih marah, berbaringlah, dan supaya lebih tenang maka berwudhulah, insya Allah ini akan mendinginkan kepala dan hati.

Dan jika terjadi konflik dengan suami, maka jangan tinggalkan rumah, ngambek, lalu kabur ke rumah orang tua tanpa seidzinnya…padahal tidak diperbolehkan kita meninggalkan rumah tanpa seidzin suami. Bersabarlah saja wahai ukhti, nggak akan rugi kok orang yang bersabar, siapa tahu suami akan semakin menyayangi kita karena melihat akhlak kita yang begitu terpuji. Amin.

***

Intinya menikah itu selain keindahan yang kita rasakan, namun ya ada tanggung jawab lain sebagai seorang isteri yang harus kita jalankan seperti diatas tadi, itu ya udah sunnatullah, ada juga saat-saat masalah datang secara tak terelakkan dan kita harus menyikapinya dengan sikap yang sesuai tuntunan syari’at. Karena masalah rumah tangga adalah bagian dari ujian Allah di dunia.

Jika kita menginginkan kebahagiaan yang abadi, ya nggak akan ketemu di dunia ini, karena dunia adalah ladang ujian, kesenangan yang terus-menerus adanya ya di Jannah, di sanalah kita memetik hasil jerih payah kita dalam  mengelola rumah tangga yang islami. Amin

***

Semoga Allah karuniakan kepada kita rumah tangga yang sakinah, mawwadah, wa rahmah.

Amin Yaa Mujibbassa’ilin

Wanita Penggenggam Tauhid ASIAH & MASYITOH

field_in_the_sun_1280x800-667556Alkisah di negeri Mesir, hiduplah dua orang wanita di sebuah istana Fir’aun yang megah. Yang pertama yaitu seorang Ratu, isteri Fir’aun yang bernama Asiah, dan yang kedua adalah seorang wanita yang pekerjaan sehari-harinya adalah menyisir rambut puteri Fir’aun, maka ia dinamakan sebagai Masyitoh (artinya dalam bahasa Indonesia yaitu wanita tukang sisir).

Kedua-duanya adalah wanita yang beriman kepada Allah dan mengingkari Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan.

(Kisah ini diceritakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Katsir menghasankannya dalam kitab Tafsirnya dan Kitab Al Bidayah Wa Nihayah).

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir’aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Secara spontan Masyitoh mengucap ”Bismillah” (Dengan Menyebut Nama Allah) sambil memungut sisirnya. Maka keimanannya yang selama ini ia tutup-tutupi akhirnya secara tak sengaja terucap juga karena lisannya yang senantiasa berdzikir mengingat Allah.

Tatkala Masyitoh mengucapkan bismillah, maka puteri Fir’aun terkejut lalu ia bertanya, “Apa yang kau maksud Allah itu ayahku?” rupanya ia hanya tahu bahwa tuhan itu adalah Fir’aun yg mengaku sebagai tuhan. Maka Masyitoh menjawab, ” Tidak tetapi Allah adalah rabbku (Tuhanku) rabb kamu dan rabb ayah kamu,” Puteri Fir’aun terheran karena ada tuhan selain ayahnya. Lalu ia mengancam Masyitoh, “Aku akan sampaikan hal ini kepada ayahku.” Maka Masyitoh tanpa gentar berkata, “Silahkan.”

Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini ?” “Betul, Baginda Raja yang lalim. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.”jawab Masyitoh dengan berani.

Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitoh. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama anak-anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa anak-anaknya menuju ke atas kuali tersebut.

Anak yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya telah di lempar ke dalam kuali, dengan tegar Masyitoh menyaksikan semua itu, hingga tibalah giliran anaknya yang masih bayi akan dilempar, menghadapi hal ini Masyitoh sempat ragu. Namun karena kehendak Allah, maka anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Wahai ibu bersabarlah engkau berada di atas kebenaran, sesungguhnya itu adalah sakit yang sedikit dan sebentar. Sesungguhnya azab akhirat lebih keras dan dahsyat.” Maka demi mempertahankan keimanannya kepada Allah masuklah Masyitoh dan anaknya ke dalam kuali yang mendidih.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah salallahu alaihi wa salam berkata, “Tatkala saya diangkat naik ke langit lalu saya melewati bau yg semerbak, kemudian saya bertanya: ” Bau apa ini yang wangi?” Maka jibril menjwab “Ini adalah wanita tukang sisir di istana Fir’aun dan anak-anaknya”

Kemudian dengan congkaknya Fir’aun memberitahukan kepada isterinya Asiah, wanita yang salihah, apa yang telah diperbuatnya kepada Masyitoh dan anak-anaknya. Mendengar hal itu lalu Asiyah berteriak dan berkata kepadanya, “Celaka engkau Fir’aun alangkah lancangnya engkau kepada Allah,” Lalu Asiah bersyahadat menyatakan keimananya kepada Allah di hadapan Fir’aun, kemudian Fir’aun memanggil bala tentaranya dan memerintahkan agar isterinya disiksa Lalu Asiah disiksa dan dicambuk.

Ketika siksaan semakin pedih, darah mengalir deras, Asiah menatap ke langit dan berkata sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam ayat Al-Qur’an: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Lalu naiklah doanya membumbung tinggi dan menembus pintu-pintu langit didengar oleh Allah tabaroka wa ta’ala. Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya “Lalu Allah singkapkan langit dan Allah memperlihatkan rumahnya di surga,” Hingga ketika siksa semakin keras dan azab semakin pedih maka Asiyah malah tersenyum sehingga Fir’aun menjadi semakin marah.Mengapa ia tersenyum? Karena ia melihat rumahnya di surga, setelah itu berhembuslah nafas Asiah yg terakhir.

Demikian kisah Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”

~~~ * ditulis ulang dengan sedikit tambahan dari kajian audio “Wanita Pemegang Bara Api”